Tercatat 50.000 Karyawan Sektor Migas Harus Dirumahkan

Tercatat 50.000 Karyawan Sektor Migas Harus Dirumahkan

Industri migas tampaknya mengalami masa kelamnya pada dua tahun belakangan ini. Akibatnya, banyak karyawan dari perusahaan yang bergerak di bidang migas harus dirumahkan.

Sesuai dengan data di Bloomberg.com (16/5/2017), tercatat bahwa harga minyak dunia ada di angka 49,25 dollar AS per barrelnya, berdasarkan standar West Texas Intermediate (WTI). Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2014 lalu yaitu dikisaran 100 dollar AS per barrel.

Pada hari Selasa (2/8/2017), minyak mentah bahkan menyentuh harga terendah yaitu 39, 51 dollar AS per barrel.

Rendahnya harg minyak mentah dunia ini memang merugikan industri migas, mengingat biaya produksi yang sangat tinggi. Kondisi ini juga menjadikan ekslorasi di hulu migas tidak lagi menguntungkan.

Terutama untuk proyek migas lepas pantai atau offshore yang biayanya lebih mahal dibandingkan dengan proyek migas di daratan.

Oleh karenanya, banyak perusahaan migas yang terpaksa mengurangi pegawainya. Salah satunya adalah BP, perusahaan minyak asal Inggris ini harus mengurangi 7.000 orang pegawainya.

Selain BP, Schumberger, perusahaan migas asal Amerika, juga memutuskan hubungan kerja dengan 10.000 pegawai sebagai akibat dari kerugian sebesar 1 miliar dollar AS.

Di Indonesia sendiri, pengurangan pegawai oleh perusahaan migas juga sudah terjadi. Hal ini dibenarkan oleh Michael C Putra, Ketua Penyelenggara The 41st IPA Convention & Exhibition 2017.

Dia mengatakan berdasarkan data Indonesian Petroleum Assocation (IPA) Convention & Exhibition, ada sekitar 50.000 orang yang bekerja di sector migas harus dirumahkan. Para pegawai ini berasal dari kontraktor migas, sub kontraktor migas, dan perusahaan sub-sub lainnya.

Tantangan untuk industri migas Indonesia

Turunnya harga minyak dunia adalah satu dari berbagai faktor yang menghambat jalannya industri migas dalam negeri. Tantangan lain yang dihadapi adalah pengurusan perizinan. Menurut data Satuan Kerja khusus Pelaksana Kegiatan (SKK) Migas, saat ini ada 373 perizinan yang tersebar di 19 instansi kementrian, BUMN, dan swasta.

Untuk mendapatkan perizinan, ada empat tahapan yang harus dilalui, yaitu tahapan survei dan eksplorasi yang terdiri dari 117 perizinan, pengembangan dan konstruksi sebanyak 137 perizinan, produksi 109 perizinan, dan pasca operasi sebanyak 10 perizinan.

“Kalau proses perizinannya panjang juga bisa bikin cash flow atau aliran keuangan perusahaan migas negatif sehingga tidak menguntungkan,” kata Dierktur IPA Ignatius Tenny Wibowo.

Belum lagi permsalahan alur perizinan yang tidak jelas sehingga memakan waktu lama.

“Yang bikin sulit dan sebal itu aturannya. Misalkan lama mengurus izin i20 hari, tapi kenapa bisa sampai 300 hari,” kata Michael.

Oleh karenanya, dengan adanya The 41st IPA Convention & Exhibition tanggal 17 sampai 19 Mei 2017 ini, maka investor migas akan kembali melirik Indonesia.

 

[source]

Komentar