6 Kawasan Potensial Investasi Properti di Luar Jabodetabek

Kawasan potensial investasi di luar JabodetabekDerap industri properti di Indonesia tahun lalu memang mengalami perlambatan. Ada tiga alasan yang disinyalir menjadi penyebabnya: siklus properti delapan tahunan, ajang pemilihan umum dan pemilihan presiden, serta kebijakan loan to value (LTV). Ketiga penyebab tersebut membuat kawasan potensial investasi sedikit melambat diminati. Namun, tampaknya kawasan potensial investasi pada tahun ini akan segera kebanjiran investor, bahkan diperkirakan kawasan potensial investasi akan melebar dari wilayah Jabodetabek.

Property cycle memang tidak bisa dihindari, karena tak ada pasar properti yang selamanya booming. Sementara itu, pemilu yang berjalan baik dan efek LTV hanya sesaat membuat pasar properti membaik di akhir 2014 lalu,” papar Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy & Services Sinar Mas Land dalam Sinar Mas Land Corporate Outlook 2015, Selasa (17/2).

Berdasarkan data dan analisis dari berbagai lembaga survei internasional, Ishak berkeyakinan bahwa Indonesia masih menjadi prioritas utama Investasi di Asia, bahkan di dunia.

“Kami secara khusus memonitor sektor perkantoran, kondominium, industrial, ritel, dan perumahan di Jakarta yang di tahun ini masih akan terus tumbuh meski ada beberapa sektor yang akan melambat bila dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Ishak yang mengatakan sektor perkantoran akan melambat tahun ini.

Dia juga menjelaskan bahwa pertumbuhan populasi dari Middle Affluent Consumers (MAC) yang berpusat di Pulau Jawa dan Sumatra akan memengaruhi sektor ekonomi masa depan dan pada akhirnya berpengaruh pada bisnis properti di Indonesia.
Ishak mengutarakan bahwa DKI Jakarta dan area sekitarnya seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor bukanlah satu-satunya kawasan potensial investasi, sebab bila merujuk pada enam koridor pengembangan ekonomi, masih banyak kota-kota lain yang berpotensi sebagai opsi investasi, seperti Surabaya, Makassar, Balikpapan, Samarinda, Medan, dan Batam.

Lebih lanjut dia menuturkan, peluang investasi masih terbuka lebar di tahun ini, mulai dari lebih banyaknya arus investasi yang masuk ke Indonesia karena berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, pengembangan kota sekunder, pembangunan kota satelit baru, pembangunan infrastruktur baru hingga peluang kemitraan lokal dan asing.

“Meski begitu, tantangan tetaplah ada, mulai dari hyper competitive market, tingginya biaya produksi dan operasi, target pajak penghasilan dari pemerintah, hingga kebijakan pemerintah seperti penerapan LTV dan hunian berimbang,” urai Ishak.

Penulis dan foto: Anto Erawan
Sumber: Rumah.com

Komentar