OJK Mendapat Pengaduan Mengenai Layanan Perbankan, Terutama Kartu Kredit

OJK Mendapat Pengaduan Mengenai Layanan Perbankan, Terutama Kartu Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa lebih dari separuh aduan masyarakat yang masuk selama 2013 sampai 2018 berasal dari layanan perbankan seperti Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan Kartu Kredit.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito menjelaskan bahwa 53,3% pengaduan konsumen merupakan dari sektor perbankan. Sedangkan 25,8% aduan konsumen dari asuransi, 12,7% dari multifinance, kemudian sisanya berasal dari pasar modal.

“Keluhan soal dana pensiun paling sedikit, yaitu 1,3 persen. Memang yang paling banyak tetap perbankan, mungkin karena pangsa pasarnya paling banyak,” ungkapnya.

Adapun penyebab dari aduan konsumen ini adalah, pertama, calon konsumen dianggap sudah mengerti risiko dari kartu dan kredit yang diberikan oleh pihak perbankan.

“Selalu orang mengatakan bahwa calon nasabah itu pasti sudah mengerti akan produk jasa keuangan. Padahal, tidak juga. Semua itu masih harus dijelaskan dengan jelas,” jelasnya.

Kedua, kurangnya penjelasan agen pemasaran mengenai produk fasilitas kartu kredit, KTA, dan kredit mikro yang ditawarkan.

“Mungkin ini juga karena banyak agen yang hanya mau menyelesaikan targetnya dengan cepat. Jadi menjelaskan se-kenanya saja,” tambahnya.

Kemudian minimnya penjelasan ini juga bisa dikarenakan adanya agen ganda. Misalnya, seseorang menjadi agen asuransi A dan juga menjadi agen asuransi B.

Ketiga, ada pihak konsumen yang tidak menerima Salinan dari perjanjian kredit.

Keempat, penalti pelunasan yang merupakan keputusan sepihak, khususnya pada kasus KTA.

Kelima, tidak ada konfirmasi dari jumlah dana yang ditransfer.

Keenam, perubahan bunga dan tenor dari pihak lembaga keuangan yang tidak sesuai dengan perjanjian awal.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Tirta juga menambahkan bahwa adanya pengaduan ini dikarenakan pengetahuan dasar konsumen mengenai produk keuangan yang masih minim.

“Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang menggunakan produk keuangan, tapi tanpa dibekali dengan pemahaman yang memadai. Masyarakat lebih tertarik mengetahui manfaat produk dibandingkan dengan risiko dan kewajiban dari sisi konsumennya,” jelasnya.

dari hasil survei OJK, ditemukan bahwa pemahaman konsumen terhadap risiko produk keuangan hanya sekitar 36%.

“Tapi dengan hal ini, seharusnya jasa keuangan juga memberikan transparansi dan pemahaman ke masyarakat atas produk keuangan tersebut,” tutur Tirta.

 

[Source]

Komentar