Berapa Rupiah Dampak Gunung Agung Untuk Pariwisata Pulau Dewata?

Berapa Rupiah Dampak Gunung Agung Untuk Pariwisata Pulau Dewata?

Bali merupakan tujuan wisata mancanegara yang utama di Indonesia. Bahkan Tribunnews melansir bahwa Bali menyumbang 40% devisa negara dari sektor pariwisata.

Namun belakangan ini dunia pariwisata di Bali agaknya dalam keadaan was-was. Pasalnya Gunung Agung yang terletak di area Karangasem, Bali, menunjukkan aktivitasnya. Para penduduk dari kawasan dekat Gunung Agung pun telah diungsikan. Bahkan hingga saat ini, hujan lahar dingin masih terjadi.

Dengan adanya ancaman bencana alam ini, dunia pariwisata di Bali pun terancam. Lalu apa sebenarnya dampak gejala letusan Gunung Agung bagi pariwisata di Bali? Berikut ada beberapa hal yang bisa kita lihat bersama.

Kerugian akibat pembatalan penerbangan

Kekhawatiran yang pertama bagi para wisatawan saat terjadi aktivitas vulkanis dari Gunung Agung adalah terhentinya penerbangan dari dan ke Bali. Pada November 27, 2017, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sempat menghentikan kegiatannya akibat abu tebal. Hal ini berakibat pada pembatalan jadwal sejumlah penerbangan dari dan ke Bali.

Salah satu maskapai yang membatalkan jadwal penerbangannya adalah AirAsia. Saat itu, penumpang yang penerbangannya dibatalkan maka uang yang sudah dibayarkan untuk tiket menjadi deposit dan dapat digunakan untuk membeli tiket penerbangan AirAsia lainnya.

Tidak hanya AirAsia, Citilink juga membatalkan 30 penerbangannya dari dan ke Bali. Keputusan ini mengikuti keputusan pihak bandara yang menutup kegiatan penerbangannya selama 18 jam. Penumpang yang penerbangannya dibatalkan saat itu, bisa melakukan refund atau penjadwalan ulang.

Tentunya selain AirAsia dan Citilink banyak maskapai lainnya yang terganggu jadwal penerbangannya. Setidaknya ada 196 penerbangan internasional dan 249 domestik yang dibatalkan. Kondisi ini mengakibatkan kerugian baik bagi penumpang maupun pihak maskapai.

Bagi penumpang, mereka tidak dapat melakukan perjalanan tepat waktu. Pihak bandara bahkan mengatakan sekitar 59.000 penumpang yang terlantar karena kondisi ini. Penumpang yang sudah terlanjur berada di bandara pun akhirnya dialihkan ke Lombok atau Jawa Timur melalui jalur darat menggunakan bus.

Banyak juga penumpang asal luar negeri yang kehabisan perbekalan saat menunggu penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Adapun bagi maskapai kerugian yang ditimbulkan karena penutupan kegiatan penerbangan di Bali ini berjumlah miliaran rupiah. Pihak Lion Air sendiri sempat menyatakan bahwa kerugian akibat pembatalan penerbangan dengan rute dari dan ke Bali ditaksir mencapai Rp 30,22 miliar. Kerugian ini diakibatkan oleh batalnya penerbangan 155 penumpang.

Pastinya selain Lion Air banyak maskapai yang mengalami kerugian serupa. Belum lagi pesawat yang ada di Bandara Ngurah Rai tidak bisa dioperasikan dan harus terjebak di sana sampai tiga hari.

Bandara Internasional I Gusti Adi Ngurah Rai Bali mulai beroperasi kembali sejak tanggal November 30, 2017.  Untuk membantu pelayanan pada calon penumpang, terlihat beberapa pesawat dari Badan Penerbangan Sipil China (CAAC) membantu kepulangan para wisatawan asing. Meski demikian, status Gunung Agung masih dinyatakan berstatus awas karena hujan lahar dingin masih terjadi.

Kerugian industri pariwisata di Bali

Kerugian yang pastinya paling menjadi sorotan adalah di bidang pariwisata. Sebagai tujuan utama bagi kebanyakan wisatawan mancanegara, terganggunya penerbangan di Bali pasti akan menimbulkan kerugian.

CNN menulis dalam beritanya pada Desember 6,2017, bahwa pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kerugian yang ditimbulkan akibat terganggunya penerbangan dengan rute dari dan ke Bali sekitar Rp 209 miliar.

Dalam beberapa hari, Bali kehilangan 44.000 orang turis mancanegara. Padahal mereka memiliki potensi belanja rata-rata Rp 1,3 juta per orang setiap hari. Bali juga kehilangan puluhan ribu turis domestik yang memiliki potensi belanja rata-rata Rp 520.000 per orang tiap hari.

Tingkat hunian hotel juga ikut turun. Penurunan tingkat hunian ini sekitar 10% dari total kapasitas kamar yang tersedia. Diperkirakan kerugian mencapai Rp 11,5 miliar akibat pembatalan hotel yang mencapai 11.013 kamar dan 44 vila.

Kerugian ini akan terus berlanjut jika kondisi tidak membaik. Namun saat ini, setelah Bandara I Gusti Ngurah Rai beroperasi lagi, kondisi pariwisata diharapkan makin membaik.

Pihak BNPB juga menyatakan kondisi Bali saat ini aman untuk pariwisata. Bahkan untuk area Karangasem, tempat Gunung Agung berada. Hanya saja, para turis memang tidak disarankan untuk mendaki dan tetap berada pada radius aman.

Pemulihan area Bali dan Lombok pasca erupsi

Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan lebih dari Rp 6 miliar untuk kebutuhan pemulihan pariwisata pasca erupsi Gunung Agung.

Dana ini disiapkan untuk berbagai komponen penunjang pariwisata di Bali dan Lombok. Sebagian besar dana ini berasal dari Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, yaitu Rp 5 miliar. Kemudian Pengembangan Destinasi dan Pengembangan Sumberdaya Manusia masing-masing Rp 600 juta dan Rp 500 juta.

Angka ini belum termasuk pemulihan area untuk kebutuhan masyarakat sekitar dan para pengungsi. Jika dikalkulasikan pemulihan pasca erupsi ini bisa mencapai ratusan miliar rupiah. Para pengelola fasilitas pariwisata juga membutuhkan biaya untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan karena menurunnya jumlah turis selama beberapa hari.

Banyaknya biaya pemulihan yang dibutuhkan ini menimbulkan spekulasi dan kekhawatiran akan terjadinya inflasi. Walaupun pihak pemerintah mengatakan tidak akan terjadi inflasi, namun para calon wisatawan mungkin akan memperhitungkan kenaikan harga ini.

Di sisi lain, jika mengingat target wisatawan mancanegara sebanyak 5,5 juta pada tahun 2018 maka pihak pemerintah daerah di Bali, bahkan Lombok, akan berusaha untuk mencegah adanya kenaikan harga untuk berbagai fasilitas pariwisata.

Pemulihan pariwisata di Bali ini memang membutuhkan waktu, apalagi kalau Gunung Agung mengeluarkan abu lagi. Namun sejauh ini, seperti yang dilansir beberapa situs berita, bahwa para wisatawan tidak perlu takut untuk datang ke Bali karena kondisi Gunung Agung tidak membahayakan. Jadi kegiatan pariwisata di Bali sudah bisa berjalan seperti biasanya.

Jika dilihat dari perkembangan saat ini, rasanya target pariwisata di Bali bisa tercapai. Hal ini mengingat dalam dua bulan terakhir, sudah tercatat 5 juta wisatawan mancanegara yang mengunjungi Bali.

Kondisi di Bali dan Lombok sudah makin membaik, jadi Anda tidak perlu takut jika ingin mengunjungi Pulau Dewata ini. Jangan lupa untuk cek dan ketahui biaya apa saja yang ada dalam harga tiket penerbangan Anda.

 

Sumber image : sulselsatu.com

Komentar