OJK Tanggapi Desakan YLKI Tentang Perjanjian Antar Nasabah Dan Perusahaan Asuransi

OJK Tanggapi Desakan YLKI Tentang Perjanjian Antar Nasabah Dan Perusahaan Asuransi

Desakan dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kali ini ditujukan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai perombakan perjanjian standar atau polis yang terjadi antara konsumen dengan perusahaan asuransi.

Desakan ini lahir sebagai tanggapan atas keterlambatan pencairan klaim yang dilakukan PT Asuransi Allianz Life Indonesa. Hal ini menjadikan kedua petinggi Asuransi Allianz, Yuliana Firmansyah (Manager Claim) dan Joaching Wessling (Direktur Utama), sebagai tersangka oleh pihak Polda Metro Jaya.

Menanggapi desakan tersebut, pihak OJK menanggapi sebagai berikut.

“Memang idealnya semua (produk jasa keuangan) distandarisasi. Tapi produk (jasa keuangan) itu kan bisa bermacam-macam (tidak hanya asuransi),” kata Tirta Segara, seorang Anggota Dewan Komisaris Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK.

Tidak semua produk jasa keuangan memiliki standar yang sama. Hal ini, menurut Tirta, dikarenakan produk jasa keuangan memiliki ragam yang berbeda yang menyebabkan standar layanan dan aturan setiap produk berbeda pula.

Tirta lebih jauh lagi mengatakan bahwa adanya standarisasi perjanjian itu akan sulit diterapkan untuk semua produk jasa keuangan.

“Bahkan (standarisasi perjanjian) bisa membuat ada yang tidak tercover,” kata Tirta.

Namun di sisi lain, pihak OJK juga menegaskan bahwa standarisasi untuk pengawasan market conduct (panduan pasar) sudah ada dan diterapkan.

Salah satu standar yang harus dilakukan si pelaku usaha adalah menjelaskan sejelas-jelasnya mengani produk yang dipasarkan ke konsumen sebelum menetapkan kesepakatan.

“Konsumen biasanya juga paraf di masing-masing (klausul) yang disampaikan,” lanjut Tirta.

Pada kesempatan sebelumnya, Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan bahwa standarisasi dari OJK ini bisa mengantisipasi pelanggaran hak konsuen yang dilakukan oleh pihak asuransi. “Tingginya sengketa konsumen di bidang asuransi dan berujung pada ditolaknya klaim, lebih dipicu adanya kontrak standar yang didesain tidak adil oleh masing-masing perusahaan asuransi,” lanjut Tulus.

Sementara itu, pengacara dari korban asuransi Allianz, Alvin Lim, mengatakan bahwa kliennya, Irfanius Al Gadri dan Indah Goena Nanda, melaporkan perusahaan ini karena mereka merasa dipersult saat melakukan klaim asuransi. Mereka menyatakan bahwa Allianz menambah persyaratan secara sepihak.

Polisi pun menjerat kedua tersangka dengan Pasal 8 ayat 1 huruf (F), Pasal 10 huruf (C), dan Pasal 18 juncto Pasal 62 ayat 1 Pasal 63 huruf (F) UU RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

 

[Source]

Komentar