OJK Mengembangkan SLIK Untuk Cegah Kredit Macet

OJK Mengembangkan SLIK Untuk Cegah Kredit Macet

Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dikembangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). SLIK ini menjadi acuan bagi lembaga jasa keuangan dalam mencairkan dana ke calon debitur. Hal ini untuk mencegah kredit macet di area Bali.

“Sistem ini lebih lengkap dibandingkan Sistem Informasi Debitur (SID),” ungkap Kepala OJK Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara Zulmi di Denpasar, Bali.

Zulmi juga menerangkan bahwa SLIK tidak hanya merupakan informasi rekam jejak debitur untuk perbankan, lembaga keuangan lainnya seperti lembaga pembiayaan, modal, ventura, koperasi simpan pinjam juga bisa menggunakan sistem ini.

Nantinya, SLIK ini akan menjadi bank data para debitur terintegrasi yang menggantikan SID milik Bank Indonesia. Adanya sistem ini juga diharapkan nantinya risiko pemberian dana pada calon debitur bermasalah dapat diminimalisir.

Pada tahap awal, pihak OJK akan memberikan sosialisasi kepada perbankan termasuk Bank perkreditan Rakyat (BPR). Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Bali dan Nusa Tenggara, Nasirwan Ilyas, mengingatkan seluruh jajaran BPR untuk melakukan pelaporan informasi debitur dengan akurat, lengkap, dan tepat waktu.

Saat ini, sudah ada 96,4 juta debitur yang datanya tercatat di SLIK dan jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah pelapor.

“Pada akhir 2018 nanti, pelapor SLIK diproyeksikan menjadi 2.142 lembaga jasa keuangan, lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2017 sebanyak 1.627 lembaga jasa keuangan yang didominasi oleh lembaga perbankan dan perusahaan pembiayaan,” Jelas Nasirwan.

Pelapor SLIK diperkirakan akan meningkat pesat seiring dengan meratanya kewajiban untuk melaporkan debiturnya termasuk pegadaian, perusahaan modal ventura, dan pemrusahaan pembiayaan infrastruktur.

Catatan OJK tentang kredit yang bermasalah

OJK mencatat hingga April 2017, kredit bermasalah di bank umum mencapai 2,89%. Angka ini berarti peningkatan kredit bermasalah dibandinngkan bulan Maret 2017 adalah 2,71%.

Kredit bermasalah di BPR yang beroperasi di area Bali merupakan yang tertinggi, yaitu mencapai 7,07% pada April 2017 atau naik 6,71% dari bulan Maret 2017.

Sedangkan di area Bali sendiri, realisasi kredit mencapat Rp 79,1 triliun pada bulan April 2017. Angka ini naik 1,45% dibandingkan dengan bulan Desember 2016 yaitu Rp 77,9 triliun.

[Source]

Komentar