Memahami Istilah Lockdown Saat Penyebaran Coronavirus, Serta Apa Akibatnya untuk Ekonomi Masyarakat?

Memahami Istilah Lockdown Saat Penyebaran Coronavirus, Serta Apa Akibatnya untuk Ekonomi Masyarakat?

Dengan kondisi meroketnya pasien positif COVID-19, rasanya opsi lockdown memang tidak bisa diabaikan. Apalagi setelah ada lonjakan kasus di Indonesia hingga memasuki angka 117 orang per 15 Maret 2020.

Walaupun dalam pidatonya Presiden Joko Widodo belum memberikan perintah lockdown, namun wacana ini sudah menyebar di masyarakat.

Oleh karenanya, kali ini kami ingin memberikan penjelasan mengenai apa itu lockdown. Apa dampaknya secara ekonomi, serta apa yang bisa Anda lakukan selama masa karantina ini.

Apa itu lockdown?

Lockdown artinya pintu masuk sebuah wilayah ditutup total. Jadi, siapapun tidak diperkenankan untuk keluar masuk area atau kota yang menjadi target lockdown.

Selain penutupan area atau kota, masyarakat umum dilarang untuk keluar rumah. Kalau pun diizinkan, hanya dalam rentang waktu tertentu. Dengan demikian, penularan penyakit antar warga bisa dicegah.

Dalam kasus penyebaran coronavirus seperti saat ini, kalau pihak otoritas menerapkan lockdown, maka sifatnya adalah preventif atau untuk pencegahan. Dengan harapan langkah ini bisa membendung penyebaran penyakit akibat coronavirus di Indonesia.

Saat ini, status Indonesia akibat wabah COVID-19 adalah darurat. Di mana pemerintah memang melakukan langkah-langkah untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, sekaligus merawat mereka yang sudah terinfeksi. Hanya saja, tidak seperti lockdown, masyarakat umum masih diperbolehkan untuk beraktifitas di luar rumah tanpa batas waktu. Namun, memang pemerintah menganjurkan untuk meminimalisir kegiatan sosial.

Jadi, sekolah dan kantor mulai menjalankan proses belajar atau bekerja dari rumah.

Tentu saja langkah ini akan menimbulkan konsekuensi, salah satunya konsekuensi ekonomi.

Apa dampaknya untuk ekonomi?

Sebagaimana yang sudah kita lihat akhir-akhir ini, anjuran pemerintah untuk berdiam di dalam rumah mengakibatkan beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta sepi pengunjung.

Berikut beberapa akibat ekonomis yang bisa kita lihat dan rasakan secara langsung.

Panic buying

Sejak awal Maret 2020, warga Jakarta sudah berbondong-bondong memborong kebutuhan sehari-hari di supermarket. Hal ini terjadi begitu diumumkannya kasus pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia. Beberapa item yang habis diborong antara lain adalah masker, antiseptic, dan hand sanitizer.

Hal ini tentunya berdampak negatif bagi berbagai pihak. Contohnya, para dokter gigi mengeluhkan kelangkaan masker. Padahal mereka bekerja dalam jarak dekat dengan pasiennya.

Oleh karenanya, jika pemerintah memutuskan lockdown, maka pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat dan tenaga medis haruslah dipersiapkan.

Sebagai informasi lockdown bukan berarti pasar atau supermarket akan tutup total. Penjual bahan makanan masih akan tetap tersedia, dan pemerintah akan menjaga kestabilan pasokan pangan di dalam kota.

Sepinya pusat perbelanjaan

Jika Anda rajin mengunjungi Instagram, pasti menemukan foto beberapa pusat perbelanjaan di jakarta yang tiba-tiba sepi di akhir pekan. Sepinya toko-toko atau tempat perbelanjaan mengakibatkan pendapatan para pengusaha ritel menurun.

Hal ini karena masyarakat lebih memilih untuk tinggal di rumah dan meminimalisir kegiatan yang melibatkan banyak orang atau berkumpul di tempat ramai.

Selain itu, dengan adanya himbauan untuk menghindari kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, menjadikan rencana perayaan, seperti pernikahan, bisa batal. Artinya kerugian juga akan ditanggung oleh para pengusaha di bidang jasa seperti wedding organizer atau event organizer.

Terancamnya pekerjaan

Tidak menutup kemungkinan ada beberapa pekerjaan yang terancam. Misalnya, para tukang ojek online kemungkinan akan sepi pelanggan.  Mengingat pendapatan mereka tergantung dari jumlah pelanggan, bisa jadi pendapatan mereka pun menurun.

Selain itu pekerjaan seperti guru les juga terhenti jika diberlakukan lockdown. Padahal pendapatan guru les, biasanya, tergantung dari jumlah pertemuan.

Lockdown tidak dapat dilakukan tiba-tiba mengingat akan ada jenis pekerjaan yang terdampak negatif. Pengumuman harus dilakukan, minimal, seminggu sebelumnya agar masyarakat bisa mempersiapkan diri. Terutama melakukan pekerjaan jarak jauh atau mempersiapkan penghasilan alternatif, agar kondisi keuangan mereka tidak terganggu.

Kekurangan kebutuhan pokok

Tentu saja ancaman kekurangan kebutuhan pokok, terutama bagi masyarakat miskin, harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini karena kemungkinan besar, mereka tidak mampu untuk membeli persiapan kebutuhan harian untuk sebulan.

Apalagi jika mereka hanya mengandalkan tanggal gajian untuk mampu membeli semua kebutuhan sehari-hari.

Belum lagi kebutuhan para petugas kesehatan atau pelayan publik lainnya, yang bisa saja, tidak sempat mereka beli karena harus menjalankan tugas.

Artinya, jika suatu saat Indonesia menetapkan langkah karantina berupa lockdown, maka pemerintah harus siap mendistribusikan makanan dan kebutuhan pokok lainnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta para petugas di sektor layanan publik.

Apa yang harus Anda lakukan selama karantina?

Ketika dalam masa karantina, atau bahkan lockdown, bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa. Tetap melakukan kegiatan akan menjaga pikiran Anda tetap positif. Berikut adalah beberapa hal yang harus dilakukan saat Anda harus berdiam di dalam rumah untuk mencegah penularan COVID 19.

Jaga kesehatan dan kebersihan

Tentunya selama di rumah Anda harus tetap memperhatikan kebersihan dan kesehatan.

Tetap sisihkan waktu untuk membersihkan rumah. Buang sampah secara teratur, dan jangan sampai Anda menyimpan banyak sisa makanan di rumah. Hal ini karena makanan yang basi bisa saja menjadi sarang bakteri, yang akhirnya mengkontaminasi lemari pendingin Anda.

Jangan lupa untuk menyisihkan waktu untuk olahraga di dalam rumah. Jenis olahraga yang bisa Anda lakukan di dalam rumah salah satunya adalah yoga.

Pastikan juga Anda mengetahui rumah sakit yang ditunjuk pemerintah sebagai rujukan dan nomor-nomor darurat.

Tetap produktif

Jika Anda bekerja dari rumah, tetap lakukan pekerjaan dengan baik dan produktif. Hal ini untuk menjaga kestabilan penghasilan perusahaan, yang akhirnya juga akan berimbas pada penghasilan Anda.

Perlu diketahui juga, bahwa beberapa perusahaan sudah mencoba sistem bekerja jarak jauh sejak awal Maret. Walaupun Anda tidak terancam kehilangan pekerjaan, bukan berarti bekerja dari rumah membuat Anda jadi malas dalam menyelesaikan tanggung jawab.

Salah satu kegiatan produktif yang bisa Anda lakukan di rumah adalah mencari proyek freelance. Jika Anda memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi, desain, atau menulis, tidak ada salahnya untuk mencari penghasilan tambahan secara online.

Waktu berkualitas dengan keluarga

Tentu saja yang terakhir, jangan sampai abaikan waktu berkualitas dengan keluarga. Bisa jadi karena kesibukan Anda di hari-hari biasa, waktu berkumpul dan berkomunikasi dengan keluarga berkurang.

Bagi para suami dan anak, jadikan momen ini untuk meringankan beban istri atau orang tua dengan membantu pekerjaan rumah. Seperti memasak, mencuci piring, atau membersihkan rumah.

Jadikan saat ini untuk kembali berkomunikasi dengan anggota keluarga Anda. Baik yang tinggal serumah dengan Anda maupun tinggal jauh di kota lain.

Bagi Anda yang merupakan perantau, pastikan untuk mengetahui keadaan keluarga di kampung halaman.

Komentar