Anak UI Pun Punya Mimpi dan Kekhawatiran Tentang Masa Depan

Anak UI Pun Punya Mimpi dan Kekhawatiran Tentang Masa Depan

Pada tanggal 7 Agustus lalu, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengunjungi kantor pusat iMoney di Kuala Lumpur, Malaysia. Kami pun berhasil mewawancarai tiga mahasiswa di antaranya.

Kekhawatiran akan kesempatan berkarir setelah lulus kuliah merupakan hal yang pasti dirasakan oleh semua mahasiswa, tak terkecuali universitasnya. Tiga mahasiswa UI yang berhasil kami wawancarai ini juga menceritakan keinginan dan pandangan mereka tentang masa depan setelah lulus kuliah.

Masa depan setelah kuliah

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa setiap tahunnya lebih dari 1,2 juta orang yang masuk ke dunia kerja. Nah, tentunya lapangan kerja atau peluang usaha harus bisa terbuka untuk memfasilitasi mereka.

Tahun 2019 sendiri, pemerintah menargetkan ada 10 juta lapangan kerja yang tersedia. Namun untuk mencapai target ini, Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri mengatakan bahwa pemerintah harus mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Apalagi Indonesia, mau tidak mau, harus siap dengan revolusi industri 4.0.

Mengenai hal ini, Larasati Chandra Githa Purnamaningrum, Jusuf King Sihotang, dan Asyifa Isvari sepakat bahwa sebenarnya ada banyak kesempatan dan peluang di masa yang akan datang. Terlepas dari tantangan atau kekhawatiran mereka, pada dasarnya mereka optimis dengan kondisi karirnya setelah lulus nanti.

asyifaAsyifa dari Ilmu Ekonomi angkatan 2018 juga menambahkan tanggapan menarik, “jika yang dimaksud adalah peluang finansial, saya belum bisa menjawab dengan tepat tanpa mengetahui prospek pekerjaan beberapa tahun ke depan”.

Di sisi lain, sebagai mahasiswa dari universitas ternama, mereka juga mengakui bahwa masyarakat memberikan harapan yang besar atas mereka. Terutama tentang kontribusi mereka ke negara nantinya.

Larasati dari jurusan Manajemen angkatan 2017 sendiri mengakui bahwa pandangan masyarakat ini membuatnya merasa sedikit terbebani. Namun, ia pun mengatakan bahwa walaupun di masa depan dia tidak memiliki jabatan dengan wewenang besar, tapi pastinya dia akan memberikan kontribusi pada masyarakat.

laras“Iya sedikit terbebani karena pandangan masyarakat sudah melekat dengan pernyataan tersebut. Tujuan utama saya berkuliah dan nantinya kerja di Indonesia pun untuk setidaknya ikut berperan dalam berkembangan ekonomi di sini,” ungkapnya.

Namun Jusuf dan Asyifa mengatakan bahwa harapan masyarakat yang tinggi pada mereka ini, merupakan sebuah tantangan dan kesempatan. Hal ini juga memicu mereka untuk lebih giat belajar agar kelak bisa memberikan kontribusi lebih pada masyarakat.

Beban secara moral dan intelektual ini pastinya bukan hanya miliki para mahasiswa UI. Semua mahasiswa memiliki tanggungjawab dan beban ini. Baik itu untuk membantu keluarganya, komunitas, dan kalau memiliki jabatan lebih tinggi, maka kontribusi ini harus bisa dirasakan masyarakat lebih luas.

Jadi, apapun pekerjaan dan berapapun penghasilan yang akan mereka terima, mereka mengaku akan berusaha agar bisa bertahan pada persaingan karir nantinya. Sekaligus, agar bisa memberikan kontribusi lebih pada masyarakat.

Apa kata mereka tentang pendidikan finansial?

Tidak akan lengkap jika AturDuit tidak menanyakan pandangan mereka tentang pendidikan finansial di Indonesia.

JusufJusuf dari Manajemen Keuangan angkatan 2016 mengatakan, “menurut saya setiap mahasiswa harus mengetahui setidaknya basic knowledge in financial terlepas dari apapun jurusannya”.

Asyifa dan Laras juga setuju dengan hal ini. Pengetahuan dasar mengenai keuangan penting diajarkan di sekolah atau perguruan tinggi. Bahkan Asyifa berharap pendidikan finansial bisa didapatkan saat seseorang masih di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Saya rasa penting bagi sekolah (mulai dari SMA) hingga perguruan tinggi untuk menyediakan pendidikan finansial yang menyeluruh,” kata Asyifa.

Ia juga mengaku kebingungan menentukan produk keuangan yang tepat, “Saat ini, begitu banyak informasi yang tersedia di internet khususnya melalui iklan pada sosial media mengenai berbagai produk finansial. Secara pribadi, saya pun kesulitan menentukan produk mana yang paling baik,” lanjutnya.

Ketidaktahuan mengenai pengelolaan keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mengakibatkan seseorang akan kebingungan ketika harus mengelola penghasilan sendiri. Akhirnya, mereka tidak memiliki produk finansial yang dibutuhkan, seperti tabungan berjangka atau asuransi.

Pendidikan finansial juga bisa membantu saat mahasiswa baru harus tinggal sendiri dan mengelola uang kiriman orang tua.

Tentu tidak berlebihan jika mereka melihat bahwa kurang pengetahuan tentang finansial menjadikan masih banyak orang yang tidak paham bagaimana mengelola uangnya. Hal ini bisa dibuktikan dengan data dari hasil survey Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di mana inklusi keuangan 68,9% ada di area kota.

Kondisi ini terjadi karena fasilitas keuangan formal yang sulit dijangkau, serta kepercayaan masyarakat pada lembaga keuangan formal masih rendah. Ketidakpercayaan ini juga merupakan akibat dari pengetahuan finansial masyarakat yang masih rendah.

Menyimak pandangan mereka tentang kondisi pengetahuan finansial masyarakat, serta kesempatan berkarir di masa depan, kami menyadari bahwa para mahasiswa ini memiliki gambaran idealis mengenai karir dan keuangan.

Bagi Anda yang masih mencari referensi tepat mengenai pendidikan keuangan dan karir, kami menyajikan berbagai informasi yang membantu karena bisa langsung dipraktikkan.

Komentar