Langkah-Langkah Sederhana Yang Menolong Rupiah

Langkah-Langkah Sederhana Yang Menolong Rupiah

Terjadinya penurunan nilai rupiah yang drastis memang menjadi pembicaraan hangat di Indonesia. Kondisi ini pun menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.

Namun sebenarnya daripada panik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi lemahnya nilai rupiah ini. Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan oleh jutaan orang Indonesia, bisa meredam melemahnya rupiah.

Seorang Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan bahwa salah satu masalah perekonomian Indonesia saat ini adalah tingginya aktivitas impor. Tak hanya impor bahan baku dan barang modal, tetapi juga impor energi, dan impor konsumsi.

Adapun peningkatan aktivitas impor yang tinggi ini dibarengi dengan ekspor yang stagnan sehingga menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit, dan mempengaruhi neraca transaksi berjalan. Hasilnya adalah nilai tukar rupiah yang melemah.

Melihat fenomena ini, masyarakat sebenarnya bisa membantu mengurangi aktivitas impor energi dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan menggunakan transportasi publik. Hal itu efektif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), juga dapat mengurangi impor minyak mentah.

“Pakai kereta, bis, atau angkutan umum trans-perkotaan. Ke depan nanti ada MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit). Kalau bisa menjadi hastag ‘transportasi berjamaah’,” ujarnya.

Selain menggunakan transportasi umum, masyarakat juga bisa membantu rupiah dengan mengurangi penggunaan produk konsumsi impor, seperti bahan makanan impor, buah impor, dan sandang impor seperti pakaian, sepatu, tas, dan barang konsumsi lainnya.

Bagi mereka yang sudah memiliki rumah, sebaiknya membeli barang-barang keperluan rumah  tangga buatan lokal.

Satu lagi hal yang dapat memperburuka kondisi rupiah, yang sayangnya banyak dilakukan masyarakat milenial, yaitu mengganti ponsel pintar sesuai tren teknologi terbaru, walaupun kebutuhannya sudah terpenuhi.

“Masyarakat tidak perlu mengganti ponsel hanya karena modelnya sudah lama, kecuali handphone-nya rusak. Secara umum, konsumen diajak betul-betul berhemat dari penggunaan produk impor,” katanya lagi.

Dari segi investasi, masyarakat sebaiknya jangan latah membeli valuta asing, terutama dolar AS hanya karena merasa panik atau berpikir untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang terjadi. Tindakan ini dapat memperburuk kurs rupiah.

“Lagipula rupiah juga sudah mahal. Aset yang sudah mahal biasa jadi turun,” katanya.

Kemudian bagi produsen manufaktur, disarankan untuk mendapatkan bahan baku dalam negeri dan bukan impor.

 

[Source]

Komentar