Jangan Sampai Uang Saku Habis Sia-Sia! Latih Anak Anda Dengan Cara Ini

Jangan Sampai Uang Saku Habis Sia-Sia! Latih Anak Anda Dengan Cara Ini

Bagaimana Anda menentukan besaran uang saku anak-anak?

Saat anak-anak tidak berada di rumah atau bersama orang tuanya, kepemilikan uang saku ini memudahkan mereka untuk membeli makanan atau keperluan lainnya. Selain itu, tentu saja pemberian uang saku juga memiliki manfaat edukatif untuk anak.

Dalam rangka mengajarkan anak-anak Anda agar mampu mengatur keuangan dengan baik, berikut adalah dua pertanyaan besar yang harus Anda pertimbangkan sebelum memutuskan pemberian uang saku pada anak.

Bagaimana menentukan frekuensi pemberian uang saku yang tepat?

Ada orang tua memberikan uang saku pada anak-anaknya secara harian, mingguan, atau bulanan. Tentunya pilihan-pilihan frekuensi pemberian uang saku ini tidak ada yang salah. Semuanya tergantung dari kesiapan anak untuk mengelola keuangan. Misalnya, Anda tidak mungkin memberikan uang saku bulanan pada anak usia Sekolah Dasar (SD) karena mereka belum paham bagaimana mengelola uang dalam jumlah besar.

Tentukan frekuensi pemberian uang saku sesuai dengan jenjang pendidikannya dan usia. Untuk anak usia SD, uang saku sebaiknya diberikan secara harian. Hal ini karena mereka harus memulai latihan pengelolaan uang dalam jumlah yang kecil. Setidaknya, mereka bisa membagi setiap harinya berapa yang harus dibelanjakan dan berapa yang harus disimpan.

Sedangkan untuk anak-anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) uang saku bisa diberikan secara mingguan. Langkah ini bisa menjadi tahap selanjutnya dalam melatih anak-anak untuk mengelola keuangannya. Dimana apapun yang mereka lakukan dengan uangnya, harus cukup untuk jangka waktu seminggu dan harus ada yang disisihkan untuk tabungan.

Anda juga bisa mulai mengajak anak untuk membuka rekening bank saat usia SMA. Dengan demikian, mereka akan mulai belajar mengenai perbankan. Membuka rekening bank untuk anak juga bisa memudahkan Anda untuk memberikan uang saku karena hanya perlu menggunakan layanan transfer.

Kemudian bagi Anda yang memiliki putra putri di jenjang pendidikan tinggi, mahasiswa, pemberian uang saku bisa dilakukan secara bulanan. Pada usia ini mereka sudah bisa menentukan prioritas kebutuhannya. Sehingga memberikan uang saku dalam jumlah yang lebih besar untuk jangka waktu yang lebih lama sudah pantas untuk dilakukan.

Jenjang pendidikanUsiaFrekuensi uang saku yang disarankan
Sekolah Dasar (SD)7 – 12 tahunSetiap hari
Sekolah Menengah Pertama (SMP)12 – 15 tahunSeminggu sekali
Sekolah Menengah Atas (SMA)15 – 18 tahunSebulan sekali

Berapa seharusnya uang saku anak yang sesuai dengan usianya?

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, frekuensi pemberian uang saku harus disesuaikan dengan jenjang kemampuan mereka, atau lebih mudahnya berdasarkan jenjang pendidikan. Pertimbangan yang sama juga berlaku untuk jumlah uang saku yang diberikan.

Hal pertama yang harus Anda pikirkan adalah biaya transportasi dan rata-rata kebutuhan hidup yang berlaku, karena pasti mempengaruhi harga barang-barang. Selanjutnya berikan uang saku pada anak-anak sesuai dengan usia mereka.

Anak-anak di usia Taman Kanak-kanak (TK) tidak memerlukan uang saku. Anda bisa mulai mengajarkan mereka tentang nilai uang dan menabung menggunakan celengan, tapi mereka belum bisa diminta untuk mengelola uangnya sendiri.

Pada usia TK anak-anak masih diantar jemput, keperluan sekolahnya pun masih dibelikan oleh orang tuanya, serta masih diberikan bekal atau disediakan makanan oleh sekolah. Jadi, mereka belum membutuhkan uang saku.

Lalu pada usia SD, Anda bisa memberikan uang saku dengan penambahan jumlah secara bertahap. Contohnya, anak SD kelas 1 sampai 3 yang masih diantar jemput tidak membutuhkan uang transportasi. Anda bisa memberikan uang saku harian berupa uang jajan dan untuk ditabung.

Kemudian saat usia kelas 4 Anda bisa menaikkan nominal uang saku anak. Hal ini karena pada usia ini, anak-anak sudah bisa disuruh untuk menggunakan transportasi umum. Anak-anak kelas 4 sampai 6 SD juga sudah bisa menentukan prioritas kebutuhan sekolahnya. Rata-rata uang saku anak-anak SD di Indonesia adalah Rp 10.000 per hari.

Namun tetap ingatkan bahwa uang yang mereka terima setiap harinya adalah uang saku bukan sekedar uang jajan, sehingga mereka paham bahwa tidak seluruh uang saku dibelanjakan dalam sehari.

Lalu pada usia SMP dan SMA, Anda bisa menaikkan nominal uang saku. Namun jangan sampai Anda memberikan uang jajan secara berlebihan. Pada sebuah survei tahun 2016, ditemukan bahwa 82% orang tua memberikan uang saku Rp 50.000 per hari pada anaknya. Hal ini cukup memprihatinkan karena jumlah ini terlalu besar untuk diberikan ke anak remaja.

Rp 50.000 merupakan angka yang bisa digunakan untuk dua atau tiga hari, dengan pertimbangan uang transportasi pulang pergi Rp 7.000 sampai Rp 10.000 per hari, tergantung jarak, serta Rp 10.000 sampai Rp 15.000 untuk bekal uang jajan. Apalagi harga-harga di area sekolah umumnya lebih murah dibandingkan dengan di luar area sekolah.

Jadi untuk anak usia SMP dan SMA, cukup dianggarkan Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per minggu untuk uang saku mereka.

Saat anak sudah menjadi mahasiswa, tentunya kebutuhan mereka bertambah. Pada saat ini juga mereka harus belajar mengelola keuangannya secara bulanan. Oleh karena itu, Anda bisa memberikan uang saku lebih pada mereka. Pastinya uang saku ini harus dibedakan dengan sewa kamar jika anak Anda melanjutkan pendidikan ke luar kota.

Misalnya di Yogyakarta, biaya untuk makan minum rata-rata Rp 520.000. Sedangkan biaya sewa kamar paling rendah Rp 300.000. Artinya, Anda bisa memberikan uang saku Rp 1,2 juta per bulan untuk keperluan sewa kamar, makan, dan kebutuhan lainnya. Kalau mereka bisa memasak, maka anggaran makan akan lebih hemat lagi.

Pastikan Anda mencari informasi mengenai rata-rata biaya hidup di tempat anak-anak Anda mengenyam pendidikan. Karena angka di atas bisa saja tidak berlaku untuk daerah-daerah lainnya.

Perlu diingat juga bahwa walaupun Anda memberikan uang saku pada anak-anak, tidak ada salahnya untuk membiasakan mereka untuk sarapan dan membawa bekal. Selain bisa menghemat, Anda juga bisa memastikan kualitas makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak.

Jenjang pendidikanUsiaJumlah uang saku yang disarankan
Sekolah Dasar (SD)7 – 12 tahunRp 10.000 per hari
Sekolah Menengah Pertama (SMP)12 – 15 tahun Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per minggu
Sekolah Menengah Atas (SMA)15 – 18 tahunRp 100.000 sampai Rp 150.000 per minggu

Hal yang harus diingat tentang uang saku

Kita semua sudah memahami bahwa pemberian uang saku juga menjadi sarana untuk melatih anak-anak dalam mengatur keuangan. Oleh karena itu, Anda harus bisa memberi pengertian pada anak-anak untuk memanfaatkan uang sakunya secara benar.

Berikut ada beberapa hal yang harus Anda ingat mengenai pemberian uang saku.

  1. Beri pengertian sejak dini

Sejak awal memasuki SD, beri pengertian pada anak mengenai komponen-komponen yang ada dalam uang saku mereka. Begitupun saat Anda menaikkan nominal dan merubah frekuensi pemberian uang saku. Sehingga mereka tidak berfikir bahwa uang saku adalah uang jajan semata.

  1. Berdiskusi dengan anak-anak

Anak usia kelas 4 SD (10 tahun) sudah bisa memahami apa saja kebutuhannya. Diskusikan dengan anak apa saja keperluan mereka sehingga uang saku yang diberikan tidak kurang.

  1. Konsisten

Saat anak-anak menginjak usia remaja, terutama mereka yang ada di jenjang SMP dan SMA, keinginann mereka akan bertambah. Di saat inilah konsistensi Anda diuji. Ingatkan pada anak bahwa Anda tidak akan memberikan uang saku di luar waktu yang sudah ditentukan. Dengan demikian mereka bisa mengelola uang yang ada agar cukup selama durasi waktu yang ditentukan.

  1. Periksa tabungan mereka

Jangan lupa untuk memastikan bahwa anak menabung. Bagi anak-anak usia SD dan SMP, Anda bisa memeriksa celengan mereka. Sedangkan untuk anak-anak pada usia akhir SMP dan SMA, Anda bisa memeriksa buku rekening mereka.

Dengan latihan mengelola keuangan dengan benar, anak-anak bisa menghadapi masa depannya dengan lebih baik. Jadi jika mereka sudah memiliki penghasilan sendiri, mereka paham bagaimana untuk mengelola keuangannya secara bijak dan mandiri.

Kami juga menyajikan daftar universitas terkemuka di Indonesia lengkap dengan biayanya sebagai referensi Anda.

 

Sumber image : theconversation.com

Komentar