Bedanya Cara Mengatur Keuangan Saat Lajang dan Setelah Menikah

Bedanya Cara Mengatur Keuangan Saat Lajang dan Setelah Menikah

Sudah pasti mengelola keuangan saat Anda masih lajang.  Saat Anda masih hidup sendiri, semua urusan keuangan dilakukan sendiri. Belanja kebutuhan pun didasarkan pada kebutuhan pribadi karena belum memiliki tanggungan seperti istri atau anak.

Berbeda dengan keuangan saat lajang, pengelolaan keuangan mencakup kebutuhan beberapa orang. Kebutuhan pasangan dan anak tidak bisa begitu saja dihilangkan tanpa kompromi terlebih dahulu. Oleh karenanya, pengelolaan keuangan keluarga bisa dibilang lebih rumit di satu sisi, namun juga lebih mudah karena ada dua orang yang bertanggungjawab.

Dalam rangka menyambut hari kasih sayang (Valentine), kami ingin menyajikan apa saja yang menjadi perbedaan saat lajang dan menikah dari segi keuangan.

Sumber penghasilan

Bicara soal sumber penghasilan, hal ini tergantung apakah Anda dan pasangan sama-sama bekerja atau hanya salah satu saja.

Jika saat masih lajang, sudah pasti penghasilan hanya bersumber dari Anda. Namun saat memiliki pasangan, penghasilan menjadi bertambah karena ada dua orang yang bekerja.

Hal ini pastinya akan mengubah prioritas dalam keuangan, karena Anda harus berkompromi tentang bagaimana menggunakan uang bersama. Serta bagaimana memenuhi kebutuhan pribadi masing-masing.

#tips

Bagi yang pasangannya juga miliki penghasilan, tentukan berapa persen dari masing-masing penghasilan yang digunakan untuk kebutuhan bersama dan pribadi. Walaupun sudah berkeluarga, bukan berarti kebutuhan pribadi Anda tidak terpenuhi.

Kebutuhan bertambah

Dengan adanya anggota baru dalam rumah Anda, pastinya kebutuhan pun bertambah.

Kebutuhan tidak lagi hanya kebutuhan pribadi sendiri, melainkan juga kebutuhan pasangan dan kebutuhan bersama.

Cara Anda berhitung atau mencatat keuangan tidak lagi sama seperti saat Anda belum menikah.

Bertambahnya kebutuhan ini juga karena setelah berkeluarga, Anda tidak bisa memikirkan kebutuhan jangka pendek saja. Anda dan pasangan harus memikirkan kebutuhan jangka panjang seperti tempat tinggal, biaya perawatan anak, hingga masa pensiun.

Walaupun kelihatannya seperti makin banyak pengeluaran dan kebutuhan, namun jika Anda dan pasangan memiliki tujuan keuangan yang baik, uang yang disisihkan sekarang akan bermanfaat depan.

Misalnya, menyisihkan uang untuk membeli rumah. Mungkin Anda harus hidup irit selama beberapa tahun, namun pada akhirnya Anda memiliki rumah sendiri yang bisa ditempati seumur hidup.

#tips

Sebagaimana poin pertama, Anda harus membagi kebutuhan menjadi beberapa, yaitu kebutuhan bersama dan kebutuhan pribadi. Jangan lupa juga untuk membagi keuangan menjadi;

  1. biaya rutin (tagihan bulanan),
  2. cicilan (KPR atau kendaraan),
  3. biaya untuk kebutuhan sehari-hari,
  4. tabungan,
  5. investasi,
  6. uang darurat,

Prioritas berubah

Karena Anda tidak lagi sendiri, prioritas kebutuhan pastinya juga ikut berubah. Bisa jadi, keinginan Anda bukan menjadi prioritas lagi, melainkan kebutuhan keluarga.

Contohnya, bagi para wanita lajang membeli kosmetik merupakan salah satu prioritas karena dibutuhkan untuk bekerja dan bersosialisasi. Bahkan untuk membeli kosmetik dengan harga mahal bisa dilakukan dengan alasan “sekali-kali”.

Tapi jika sudah berkeluarga, mau tidak mau, standar produk Anda terkadang harus diturunkan. Apalagi bagi yang baru berkeluarga, mempersiapkan masa depan lebih penting daripada berbelanja produk mahal.

Biasanya, lama kelamaan Anda akan belajar bagaimana memanfaatkan sumber yang ada untuk mengirit. Misalnya, daripada membeli kosmetik dengan berbagai warna, Anda hanya membeli jenis yang pasti terpakai saja.

Hal yang sama juga terjadi pada hobi, bahkan kebiasaan merokok. Bagi yang memiliki prioritas untuk merokok saat masih lajang, kebutuhan bulanan keluarga bisa saja membuat mereka berhenti merokok.

#tips

Membuat prioritas dalam pengaturan keuangan keluarga sangat diperlukan. Jangan sampai Anda dan pasangan mengalami kesulitan finansial karena tidak membuat prioritas yang tepat.

Kebiasaan keuangan yang berubah

Satu lagi poin yang pasti berbeda antara saat Anda masih lajang dan setelah menikah, yaitu kebiasaan dalam keuangan.

Misalnya, saat masih lajang Anda bisa saja belanja secara impulsif atau tanpa pertimbangan. Namun saat sudah memiliki pasangan, atau sudah berkeluarga, Anda harus membuat pertimbangan sebelum membeli. Apakah barang yang dibeli penting atau tidak, haruskah dibeli sekarang, dan apakah nantinya budget bulanan terganggu atau tidak.

Lalu saat masih lajang, Anda memutuskan semua keputusan finansial sendiri. Namun setelah berkeluarga, kompromi adalah hal yang harus dilakukan. Anda harus membahas semua permasalahan keuangan dengan pasangan. Karena keputusan yang diambil bisa saja berimbas pada pasangan atau anak Anda.

#tips

Anda memang harus memiliki budget untuk kepentingan pribadi, namun berbelanja secara impulsif bisa menyusahkan jika dari awal Anda tidak merencanakan belanja dalam anggaran bulanan. Jangan lupa juga untuk membicarakan semua permasalahan keuangan dengan pasangan. Hal ini agar Anda dan pasangan memiliki kesepakatan bersama dalam menentukan tujuan finansial jangka pendek dan jangka panjang.

Perkiraan pengeluaran lajang vs berpasangan

Untuk mempermudah dalam ilustrasi ini, kami akan mengerucutkan pembahasan pada keuangan lajang tinggal di kos, dan pengantin baru (tanpa anak) tinggal di kontrakan atau apartemen.

KebutuhanLajangMenikah
Perumahan (sewa) per bulanRp 650.000 – Rp 1 juta
(kos sederhana- sedang)
Rp 2 juta – Rp 2,7 juta
(kos fasilitas lengkap)
Rp 800.0000 – Rp 2 juta
(kontrakan)
Rp 3 juta – Rp 5 juta
(apartemen)
Belanja bulanan (makanan dan kebutuhan rumah tangga)Rp 1.500.000Rp 2.200.000
Tagihan rutin bulanan
(air dan listrik)
Rp 0 (sewa kos sudah termasuk air dan listrik)Rp 100.000
TransportasiRp 400.000 (perhitungan 22 hari kerja)Rp 800.000 (2 orang X perhitungan 22 hari kerja)
Biaya komunikasi (internet dan pulsa)Rp 150.000Rp 250.000
BersosialisasiRp 200.000Rp 400.000
Cicilan (KPR dan kendaraan)Rp 0Rp 1.125.000
(Harga rumah sederhana Rp 135 juta)

*berbagai sumber (refernsi 1, referensi 2, referensi 3)

Dari ulasan sederhana di atas, Anda bisa menyimpulkan bahwa setelah berkeluarga, keputusan keuangan tidak bisa semaunya sendiri.

Anda harus bisa berkomunikasi untuk masalah keuangan secara terbuka dengan pasangan. Oleh karena itu, sebaiknya Anda dan calon istri/suami membekali diri dengan pengetahuan finansial sebelum menikah.

Tidak ada salahnya juga Anda mengevaluasi kembali cara Anda mengatur keuangan pribadi dan keluarga dengan informasi kesalahan umum dalam membuat budget ini.

Bagi Anda yang sudah berkeluarga, kebiasaan finansial apa yang berubah setelah Anda menikah?

Komentar