Cara Mudah, Menguntungkan untuk Mendapatkan KPR Syariah

KPR syariah

Perbedaan antara KPR Syariah dan KPR Konvensional di Indonesia

Kredit Pemilikan Rumah atau KPR merupakan sebuah istilah yang paling popular untuk memasarkan sebuah produk pembiayaan/kredit dari bank ke nasabahnya. Bahkan banyak Bank Syariah sendiri saat ini juga lebih suka menggunakan istilah ini demi memudahkan memasarkan produk mereka dengan istilah KPR Syariah, walaupun sebenarnya akadnya bukan pembiayaan/kedit tapi lebih ke arah jual beli atau Murabahah.

Nah apa bedanya KPR konvensional dengan KPR Syariah? Setidaknya ada 3 perbedaan utama dari kedua type KPR tersebut, yaitu:

  1. Angsuran/Cicilan KPR bank syariah bersifat tetap/Flat sementara KPR bank konvensional bersifat Floating / mengambang (sesuai kebijakan suku bunga Bank Indonesia/SBI yang berlaku).
  2. Akad dan Kontrak Perjanjian. Pada KPR Syariah perjanjian yang dibuat berdasar skema jual beli (Murabahah) sementara pada KPR Konvensional, akadnya adalah pembiayaan rumah/kredit rumah. Pada skema murabahah, Bank Syariah bertindak sebagai pihak yang membiayai pembelian rumah yang diperlukan oleh Nasabah (rumah di beli oleh bank dari developer dan di jual ke anda) sebesar harga pokok ditambah dengan margin keuntungan bank yang disepakati kedua belah pihak. Anda sebagai pemesan sekaligus pembeli rumah, sementara pihak developer bertindak sebagai penyedia rumah yang anda pesan. Anda akan mengangsur jual beli rumah tersebut sesuai kesepakatan dengan Bank Syariah soal harga dan cicilan yang akan dibayar setiap bulan secara flat/tetap (termasuk di dalamnya margin keuntungan). Untuk akad kredit/pembiayaan rumah, pihak bank biasanya memberikan program promo angsuran dan bunga di awal tahun sehingga produknya seolah-olah menarik, namun pada tahun berikutnya angsuran berubah mengikuti tingkat suku bunga yang berlaku.
  3. Pelunasan dan Penalty. Jika anda punya dana lebih, KPR konvensional memungkinkan anda untuk melakukan pelunasan sebagian atau seluruhnya terhadap sisa pokok sehingga angsuran anda dihitung ulang, namun untuk KPR Syariah, pelunasan hanya bisa dilakukan seluruhnya. Kapanpun anda melunasi, untuk KPR Syariah, biaya yang harus dikeluarkan adalah sama, sesuai sisa angsuran (karena akadnya adalah jual beli/murabahah), sementara di KPR konvensional anda akan dikenakan penalty dan biaya bunga berjalan yang nominalnya tergantung sisa piutang dan kapan anda melunasinya.

Jadi anda pilih yang mana?

Pertimbangan dibawah ini bisa jadi bahan informasi tambahan buat anda yang akan memutuskan untuk menggunakan KPR Syariah, dimana keuntungan yang bisa anda dapatkan sebagai berikut:

1.  Cicilan tetap memudahkan anda melakukan perencanaan keuangan.

Akad murabahah atau jual beli membuat cicilan anda tetap sampai lunas, tidak tergantung suku bunga (karena memang bukan pembiayaan/kredit). Jika anda ingin membuat cicilan bertingkat, misalnya tahun kedua menjadi lebih murah, dst. Maka anda bisa menyampaikan rencana keuangan anda kepada pihak bank dengan memperhitungkan harga jual beli rumah sesuai kesepakatan awal.

2.  Prinsip terbuka dan transparan

Akad KPR Syariah memungkinkan anda mengetahui jumlah angsuran, margin keuntungan bank dan biaya lain yang ada secara transparan di nyatakan secara nominal (bukan prosentase) di dalam akad sehingga kedua belah pihak merasa puas dan tidak saling curiga

3.  Uang muka murah

Ketentuan uang muka KPR Konvensional dari Bank Indonesia adalah 30 %, sementara untuk KPR Syariah masih bisa di angka 20 % dari harga jual rumah

Jika melihat uraian di atas, tentu saja anda ingin segera mengetahui lebih lanjut tahapan proses Cara Mudah dan Menguntungkan untuk Mendapatkan KPR Syariah di Indonesia seperti berikut ini:

  1. Silahkan datang ke Bank Syariah pilihan anda. Saat ini hampir semua Bank Konvensional mempunyai unit syariah dan bahkan banyak yang sudah mandiri terpisah dari bank konvensional. Ajukan niat anda untuk mengajukan KPR Syariah.
  2. Anda akan diminta mengisi form aplikasi dengan melengkapi data yang dibutuhkan sesuai ketentuan bank (data identitas, domisili / tempat tinggal, data keuangan, dsb)
  1. Ketentuan umum yang berlaku di banyak Bank Syariah seperti plafond maksimal berkisar antara 80-90 % dari harga pasar rumah yang wajar bisa jadi acuan anda untuk membeli rumah yang sesuai dengan kemampuan anda mengangsur.

Apakah anda masih ragu-ragu? Coba anda perhatikan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia seperti ulasan dibawah ini:

Berdasarkan data di Bank Indonesia (BI), pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia sangat cepat khususnya dalam 5 tahun terakhir yaitu mencapai 40%. Pertumbuhan ini bahkan lebih cepat dibandingkan Malaysia yang lebih awal mengenal Bank Syariah. Dukungan sistem, regulasi, instrumen dan sumber daya manusia (SDM) yang semakin bagus, diyakini akan semakin memperbesar kontribusi Bank Syariah menjadi 15%-20% untuk beberapa tahun ke depan. Saat ini kontribusi Bank Syariah baru mencapai 5 % terhadap perbankan di Indonesai secara nasional.

Melihat pertumbuhan Bank Syariah yang begitu pesat khususnya dalam 5 tahun terakhir ini, tentu saja anda akan semakin yakin untuk memilih KPR Syariah sebagai pilihan anda untuk memiliki rumah idaman.

Dapatkan informasi KPR termurah dan terkini di Indonesia di AturDuit.com.

Komentar