Nadiem sampai Timmy, Berikut Cerita Inspiratif Para Top CEO Indonesia

Nadiem sampai Timmy, Berikut Cerita Inspiratif Para Top CEO Indonesia

Bicara soal usaha yang berbasis digital, atau yang menggunakan website dan aplikasi, sangatlah berkembang di Indonesia. Tidak hanya usaha yang murni untuk profit, usaha berbasis sosial pun sudah memanfaatkan kemudahan sarana digital.

Berikut adalah beberapa pendiri dan CEO dari usaha digital yang tidak asing kita gunakan aplikasinya sehari-hari. Simak bagaimana cerita mereka memulai usahanya.

Sumber : gojek.com

Nadiem Makarim, Pendiri Gojek

cerita inspiratif gojekGojek merupakan salah satu perusahaan terbesar dalam industri digital Indonesia. Pendirinya, Nadiem Makarim, sebelum resmi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejak Oktober 2019 menjabat sebagai CEO Gojek.

Ide awal berdirinya Gojek adalah ketika Nadiem harus naik ojek untuk berangkat kerja, karena ojek adalah moda transportasi yang praktis di tengah kemacetan Jakarta. Pada saat itu yang ada hanyalah ojek pangkalan. Nadiem pun berfikir bahwa dengan adanya layanan yang menghubungkan tukang ojek dan penumpang. Sehingga pendapatan para tukang ojek meningkat, dan penumpang pun merasa aman karena ada tarif pasti.

Gojek tepatnya berdiri tanggal 13 Oktober 2010. Pada saat itu Gojek masih dioperasikan dari call center untuk menghubungkan antara ojek dan penumpang. Baru pada tahun 2015, Gojek meluncurkan aplikasi pemesanan ojek. Sejak saat itu Gojek mengembangkan berbagai layanan, seperti pesan antar makanan, laundry, jasa kebersihan, hingga pemesanan tiket nonton film.

Tidak mustahil jika Gojek akan mengembangkan berbagai produk baru di masa mendatang, dan menjadi bagian yang penting bagi kehidupan sehari-hari.

Valuasi Gojek saat ini mencapai Rp 135 triliun. Hal ini menjadikan Gojek memiliki kredibiltas di mata banyak investor. Bahkan, Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem Makarim untuk membantunya di bidang pendidikan.

Bisa jadi pria lulusan Harvard ini akan menggandeng Gojek untuk mempermudah layanan pendidikan dalam negeri.

Sumber : bukalapak.com

Achmad Zaky pendiri Bukalapak

bukalapakSatu lagi perusahaan rintisan dalam negeri yang merupakan salah satu unicorn di Indonesia, Bukalapak.

Pendiri Bukalapak adalah seorang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), Achmad Zaky. Sebelum mendirikan Bukalapak, Zaky sempat mendirikan warung mie. Warung ini berakhir bangkrut, dan sempat menjadikannya takut untuk memulai usaha lagi.

Namun berbekal pengalamannya di bidang teknologi informasi (TI), Zaky pun bangkit kembali untuk mendirikan Bukalapak tahun 2010. Setahun kemudian, ada sekitar 10.000 pemilik toko online yang bergabung.

Bukalapak sendiri memperoleh status unicorn karena valuasinya yang mencapai Rp 35 triliun di tahun 2019. Bahkan sang istri, Diajeng Lestari, mendirikan marketplace untuk busana muslim HIJUP.com.

Perusahaan yang berkembang sebagai salah satu marketplace terbesar di Indonesia ini menarik perhatian banyak investor. Tidak mengherankan kalau nilai perusahaan ini akan makin bertambah di masa mendatang.

Ferry Unardi pendiri Traveloka

travelokaSaat ini, posisi Chief Executive Officer (CEO) dipegang oleh Ferry Unardi yang juga merupakan salah satu pendiri Traveloka. Selain Ferry, Derianto Kusuma dan Albert Zhang juga menjadi bagian dari perusahaan ini. Ketiganya adalah praktisi teknologi informasi yang mendirikan perusahaan setelah kembali dari Amerika Serikat.

Ide dari pendirian Traveloka berasal dari kesulitan Ferry Unardi saat ingin mendapatkan tiket pesawat untuk pulang kampung ke Padang dari Amerika Serikat.

Ferry sendiri menempuh pendidikan S1 di Universitas Purdue, kemudian sempat bekerja di Microsft. Sebelum berani membuka usahanya sendiri, ia menempuh S2 jurusan bisnis di Universitas Harvard.

Maka pada tahun 2012, didirikanlah Traveloka. Sebuah situs yang memungkinkan orang untuk membandingkan harga. Kemudian di tahun 2013, konsumen bisa langsung melakukan pemesanan tiket pesawat lewat Traveloka. Saat ini, Traveloka menyediakan layanan book hotel, pemesanan bus, kereta api, travel dan tur, isi ulang pulsa, bahkan pemesanan tiket untuk berbagai acara dan festival.

Selain Indonesia, pengguna Traveloka juga berasal dari negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Rade Tampubolon pendiri SociaBuzz

sociabuzzSociaBuzz adalah sebuah platform yang menghubungkan antara influencer dengan pemilik usaha atau bisnis. Pendirinya, Rade Tampubolon, melihat peluang seiring dengan makin berkembangnya penggunaan media sosial di Indonesia. Di mana penggunaan media sosial ini tidak hanya untuk kepentingan pribadi, namun juga bisnis.

Oleh karenanya, di tahun 2012 Rade meluncurkan SociaBuzz namun belum dijalankan secara fokus. Di tahun 2014 dia mulai melihat peluang yang makin besar akan permintaan influencer. Kemudian di tahun 2015 permintaan akan influencer marketing makin besar. Sehingga pada Maret tahun 2015 inilah SociaBuzz Rade mengoperasikan secara penuh.

Sekarang, tidak hanya influencer yang ada pada laman SociaBuzz. Ada banyak jasa kreatif lain yang bisa didapatkan, seperti penulis, komedian, DJ, model, penata rias, fotografer, penyanyi, dan lain-lain.

Saat ini Rade telah meluncurkan sebuah situs stok foto bernama Pixamola. Situs stok foto ini bertujuan untuk memudahkan para fotografer Indonesia untuk memasarkan karyanya. Serta, memberikan ketersediaan yang lebih banyak akan fot-foto bertema Indonesia.

M. Alfatih Timur pendiri Kitabisa.com

cerita inspiratif kitabisaWalaupun masih sangat muda, M. Alfatih Timur -akrab disapa Timmy- termasuk seorang yang cukup disegani karena terobosannya sebagai socialpreneur. Pemuda kelahiran 1991 ini meluncurkan sebuah platform yang bertujuan untuk menghubungkan antara donatur dan pihak yang membutuhkan. Platform ini bernama Kitabisa.com, dan bisa Anda unduh aplikasinya.

Timmy meluncurkan Kitabisa sejak 2013 dengan konsep crowdfunding. Sehingga, siapa saja bisa memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuannya. Dia pun mengaku mengalami kesulitan dalam menggalang dana selama dua tahun pertama. Hingga tahun 2016, perusahaannya mendapatkan investor. Selain itu, Timmy yang aktif mensosialisasikan proyeknya ini dapat bertemu dengan makin banyak orang yang memiliki visi sosial yang sama.

Hingga tahun 2018 lalu Kitabisa sudah berhasil mengumpulkan 936.720 orang pengguna aplikasinya, dengan total donasi lebih dari Rp 376 miliar.

Di tahun 2016, Timmy terpilih menjadi Forbes 30 tingkat Asia dalam kategori wirausaha sosial.

Memulai usaha dengan terobosan baru seperti para pendiri usaha digital di atas memang bukan hal gampang. Tapi, kami berharap semoga cerita para CEO sekaligus perintis bisnis digital ini bisa menjadi inspirasi untuk Anda.

Simak juga artikel kami lainnya mengenai memulai ke dunia usaha di usia awal 20an untuk menambah wawasan Anda mengenai berwirausaha.

Komentar