Digitalisasi Layanan Keuangan Memberi Keuntungan Untuk Asuransi

Digitalisasi Layanan Keuangan Memberi Keuntungan Untuk Asuransi

Perubahan yang cukup signifikan akibat adanya peran digitalisasi industri ini disadari oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu efek yang terlihat jelas adalah adanya kemudahan pemasaran produk untuk peningkatan bisnis dan penetrasi terhadap masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Riswinandi mengatakan bahwa dengan adanya digitalisasi ini, industri dibuat menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien dalam proses menjalankan bisnisnya. Tentunya manfaat digitalisasi ini tidak hanya dirasakan oleh para pelaku usaha, masyarakat juga dapat mengakses produk asuransi dengan lebih mudah.

“Dengan menggunakan teknologi digital juga dapat menguntungkan bagi seluruh pihak, baik perusahaan asuransi, calon tertanggung/pemegang polis maupun pihak ketiga yang terlibat,” jelasnya dalam diskusi ‘Masa Depan Penetrasi Digitalisasi Perasuransian’ di Hotel Crowne Plaza, Jakarta.

Layanan keuangan dengan digital dianggap telah membantu karena lebih efektif. Layanan keuangan digital memberikan peluang lebih besar untuk inklusi keuangan karena meringankan biaya transaksi keuangan tanpa harus menyediakan booth atau kantor sebagaimana layanan keuangan tradisional.

“Secara tidak langsung, hal tersebut juga dapat membantu dalam rangka diseminasi produk-produk asuransi secara umum, serta meningkatkan penetrasi asuransi (premi bruto terhadap PDB) yang pada akhir 2017 masih berada pada angka 2,94 persen,” jelasnya.

Riswinandi juga menambahkan bahwa layanan keuangan digital ini bisa menjadi salah satu cara untuk akselerasi target agar mencapai indeks inklusi keuangan yaitu sbeesar 75 persen di tahun 2019 nanti. Dimana target ini termuat dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI).

Namun demikian, perlu diingat juga bahwa dalam melakukan penetrasi pasar asuransi berbasis digital, segi prudential dan market conduct harus selalu menjadi prioritas, terutama dalam memastikan terlindungnya konsumen di sektor jasa keuangan.

“Dalam sistem yang serba digital akan meningkatkan risiko operasional seperti risiko kegagalan mengenal konsumen dengan komprehensif, risiko fraud/penipuan, risiko tindak pencucian uang, dan sebagainya. Hal ini berkaitan dengan exposure kegagalan pada sistem baik yang disebabkan dari internal maupun dari ekternal,” tutupnya.

 

[Source]

Komentar