Fakta Di Balik Kenaikan Harga Beras

kenaikan harga beras

Masyarakat Indonesia kembali diguncang dengan permasalahan kenaikan harga. Setelah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang naik-turun tak menentu, kini giliran harga beras yang membuat terkejut. Sebagai salah satu bahan pokok pangan, beras sejatinya menjadi kebutuhan primer setiap orang. Kenaikan harga beras memang membuat masyarakat menjerit dan terkejut. Bagaimana tidak? Indonesia merupakan salah satu negara produsen beras terbesar di Asia. Sehingga apa mungkin bisa terjadi kelangkaan beras.

Beberapa dugaan sempat mencuat di tengah isu kenaikan beras ini. Bahkan Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel menuding adanya permainan mafia beras. Kenaikan beras di awal tahun ini memang melonjak drastis, hampir mencapai 30 persen. Permainan mafia beras ini bisa terbukti benar karena pada Desember 2014 hingga Januari 2015, Bulog sudah menggelar operasi pasar dengan menggelontorkan 75 ribu ton beras kepada pengelola Pasar Cipinang, PT Food Station, dengan harga gudang Rp 6.800 per kilogram.

Fakta di lapangan terjadi ketimpangan karena tidak ada pedagang yang menjual beras kepada konsumen dengan harga Rp 7.400 per kilogram. Normalnya beras dijual dengan harga tersebut. Toh, pedagang sudah meraup untung Rp 600 per kilogram. Di beberapa daerah, Tegal misalnya, harga beras C4 kualitas pertama dijual Rp 10.500 per kilogram. Banyuwangi yang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil beras di Jawa Timur lain lagi. Kenaikan harga beras mencapai Rp 1.000- Rp 2.000 per kilogram.  Walaupun belum sampai mengguncang kestabilan nasional, seperti ketika krisis moneter tahun 1998, kenaikan bahan pangan utama ini turut mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Tahun ini lonjakan harga beras cukup ekstrem karena terjadi dalam waktu relatif singkat. Pemerintah pun berupaya dan bergerak cepat untuk segera mengatasi permasalahan ini. Presiden Jokowi melakukan operasi blusukan ke gudang Bulog dan juga pasar-pasar demi memecahkan permasalahan ini. Pasalnya, persediaan beras di Perum Bulog masih mencukupi hingga musim panen tiba. Ada beberapa faktor pemicu di balik kenaikan harga beras di Indonesia. Aturduit berhasil menghimpun faktor-faktor tersebut dari berbagai sumber media massa.

Kondisi cuaca tak menentu

Manusia tak bisa mengatur kondisi cuaca yang terjadi. Meski Indonesia sudah memiliki jadwal musim hujan dan musim kemarau namun tetap saja kondisi tersebut bisa berubah-ubah. Menjelang akhir 2014, musim hujan datang terlambat. Seharusnya musim hujan diprediksi berlangsung dari Oktober hingga Februari. Kenyataannya hujan baru turun di pengujung November.

Kondisi cuaca ini sangat berpengaruh terhadap masa tanam padi. Lahan padi belum memperoleh asupan air yang cukup untuk irigasi. Mundurnya musim hujan di Indonesia turut diduga karena fenomena El Nino. Fenomena ini merupakan naiknya suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik sekitar khatulistiwa bagian timur dan tengah. Dampaknya, musim kemarau di Indonesia menjadi semakin kering dan panjang.

Dugaan penimbunan beras

Di samping faktor cuaca yang tak dapat diprediksi, kenaikan harga beras turut dipicu oleh ulah manusia. Adanya dugaan penimbunan beras terus tersiar di balik kenaikan harga beras. Penimbunan beras ini terjadi di beberapa area pergudangan. Seperti dikutip dari kompas cetak, penimbunan beras ditemukan di area pergudangan di Pulogadung dan Klender, Jakarta Timur.

Bukan tanpa bukti dugaan ini mencuat. Kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab dipergoki saat sejumlah pemerintahan melakukan inspeksi mendadak di kedua area gudang penyimpanan beras tersebut. Data dari Kementerian Perdagangan pun menunjukkan terdapat 10.400 gudang penyimpanan yang dikelola swasta di seluruh Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan kegiatan penimbunan juga terjadi oleh mereka.

Adanya mafia beras

Munculnya mafia beras yang sangat meresahkan di balik kenaikan harga beras selalu jadi pemicu. Mafia ini ternyata datang dari oknum internal yaitu Perum Bulog. Rachmat Gobel menemukan kecurangan di salah satu gudang beras di Cakung, Jakarta Timur setelah melakukan inspeksi mendadak. Terdapat pengoplosan antara beras Perum Bulog dan beras lain, dikemas ulang, dan dijual dengan harga lebih mahal.

Di samping itu mafia beras juga dilakoni oleh pedagang besar. Mereka masih menguasai rantai distribusi, khususnya di penggilingan beras. Kecilnya jumlah pengusahaan penggilingan dan pedagang besar memacu oknum-oknum  tersebut bisa dengan bebas memainkan pasokan dan harga jual beras di pasar. Akibatnya, peran Bulog sebagai stabilisator harga beras menjadi tidak berjalan. Peran tersebut justru berpindah ke pemilik penggilingan beras dan para pedagang besar.

Munculnya mafia-mafia beras ini tentu semakin meresahkan pemerintah dan masyarakat. Mereka tak berhenti bermain di balik kenaikan harga beras. Jadi, tinggal menunggu aksi pemerintah untuk memberantas para mafia ini secepatnya agar perlahan harga beras bisa pulih kembali.

Lahan pertanian terendam banjir

Curah hujan yang besar menyebabkan banjir di beberapa daerah. Bukan hanya melanda permukiman warga namun menenggelamkan lahan pertanian di sejumlah daerah. Pertengahan Februari 2015, tidak kurang dari 2.300 hektar lahan pertanian di Serang, Banten, terendam banjir. Potensi kehilangan panen di Kabupaten Serang diperkirakan sebesar 12.000 ton gabah kering giling. Di Sanggau, Kalimantan Barat, banjir dengan ketinggian 1,5 meter pada pertengahan Januari 2015 mengakibatkan puluhan hektar lahan sawah di kabupaten itu mengalami gagal panen.

Petani kehilangan lahan

Faktor miris lainnya yang menghampiri kenaikan harga beras juga dipicu karena petani padi kehilangan lahan mereka. Kepemilikan lahan pertanian justru dikuasai pihak-pihak yang memiliki modal besar. Sementara petani gurem, petani yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare, justru semakin tersingkir. Data dari Badan Pusat Statistik melalui program sensus pertanian yang telah dilaksanakan pada 2013, diketahui terjadi indikasi menurunnya jumlah pelaku usaha pertanian. Tahun 2003, setidaknya masih tercatat 14.206.355 rumah tangga (RT) petani padi yang masih aktif mengusahakan lahannya. Akan tetapi, pada 2013, angka ini menurun 0,41 persen atau sebanyak 58.494 RT petani padi yang beralih profesi ke bidang lain.

Berbagai isu kenaikan harga bisa disiasati dengan mempraktikkan 8 cara mengatur pola keuangan yang sehat

 

Komentar