Ketetapan Harga Premium Dan Solar Periode Juli 2017

Ketetapan Harga Premium Dan Solar Periode Juli 2017

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi untuk periode Juli 2017 hingga tanggal 26 Juni lalu masih menjadi perhatian untuk dikaji lebih lanjut oleh pemerintah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan bahwa ada tiga poin yang menjadi kajian utama berkaitan dengan parameter pembentukan harga premium dan solar bersubsidi. Tiga parameter tersebut adalah Mean of Plattes Singapore (MOPS), inflasi dan kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah.

“Kami monitor terus harga perolehan ya, harga naik turun,” ungkap Wiratmaja, di Gedung DPR, Jakarta.

Wiratmaja juga menuturkan bahwa tren pembentukan harga BBM belakangan ini menunjukan tren yang fluktuatif. Meskipun dari tren ini ditemukan bahwa harga lebih cenderung turun. PT Pertamina (Persero) juga telah mengeluhkan harga BBM jenis premium dan solar sudah jauh lebih rendah daripada harga pasar.

“Keputusan tetap ada di pimpinan kita tetap kaji data. Kita lihat nanti sampai akhir bulan jangan berandai-andai dulu. Kita kasih kesempatan Pertamina untuk analisis,” jelas Wiratmaja.

Lebih jauh lagi, ‎Direktur Keuangan Pertamina Arif Budiman menjelaskan bahwa saat ini harga keekonomian premium lebih tinggi sekitar Rp 400 per liter dari harga jual yang diimplementasikan pemerintah, yaitu Rp 6.550 per liter untuk di luar wilayah penugasan Jawa, Madura dan Bali (Jamali). Sedangkan selain wilayah tersebut harganya adalah Rp 6.450 per liter.

“Kalau kita lihat dari sisi formula Kementerian ESDM di Mei 2017 suatu harga ditentukan dari rata-rata harga kuartal sebelumnya, kalau selisih formula Premium Rp 400 per liter,” kata Arif.

Arif juga melanjutkan bahwa untuk harga solar, secara keekonomiannya memiliki selisih yang lebih besar dibandingkan selisih premium. Berdasarkan harga keekonomian solar Rp 1.150 per liter lebih tinggi dari harga yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 5.150 per liter.

“Solar Rp 1.150 per liter di bawah formula (harga yang ditetapkan pemerintah),” kata Arif.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan bahwa harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP)‎ dari Januari US$ 51,88 per barel, Februari US$ 52,50 per barel, Maret US$ 48,71 per barel , April US$ 49,56 per barel, dan Mei US$ 47,09‎ per barel. Sehingga dapat dilihat, rata-rata harga ICP dari Januari sampai Mei 2017 sebesar US$ 49,90 per barel.

“Jadi turun US$ 1,5 per barel Rata-rata ICP Januari-Mei US$ 49,90 di bawah US$ 50 per barel,” kata Jonan kemarin.

Jonan juga mengatakan bahwa penuruna harga BBM ini akan dibahas dulu dalam Sidang Kabinet untuk kemudian diputuskan oleh Presiden Jokowi. Dimana informasi mengenai keputusan ini dapat dipantau di situs ESDM.

 

[Source]

Komentar