Indonesia Masih Kekurangan Tenaga Radiologis Untuk Tangani Kanker

Indonesia Masih Kekurangan Tenaga Radiologis Untuk Tangani Kanker

Prevalensi pengidap kanker di Indonesia dari data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menunjukkan peningkatan. Namun, sayangnya, spesialis dalam pengobatan kanker di Indonesia masih kurang, khususnya di bidang radioterapi.

“Kalau di radioterapi memang kita masih kurang banyak. Ideal dokter radio-onkologis itu 200, kita masih kira-kira separuhnya,” tutur Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN), Prof Dr dr Soehartati, SpRad, Onk.Rad, saat dijumpai di Gedung Kementerian Kesehatan.

Dilihat dari data yang dikumpulkan Professional Society, tepatnya Indonesian Association of Patologist, menunjukkan bahwa ketersediaan spesialis radio onkologis di Indonesia hanya sebanyak 93 dokter. Tenaga spesialis onkologis ini hanya tersedia di beberapa daerah di saja.

“Memang masih kurang, tapi kita usahakan ada alat. Tapi ada produk tanpa ada SDM juga tidak bisa. Kita sudah punya roadmap sampai tahun 2030 kita harapkan sudah bisa memenuhi kebutuhan,” tambahnya.

dr Tati juga mengatakan bahwa idealnya, satu dokter menangani 500-600 pasien pertahun. Namun saat ini kebutuhannya tidaklah sebanyak yang diperkirakan.

“Begini, yang dibilang 500 itu benar-benar kalau pasiennya datang. Kalau masih 100 kan berarti masih belum butuh. Jadi berjalan bersamaan antara pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesadaran,” tuturnya.

“Memang sekarang kurang, di atas kertas. Tapi faktanya tidak seperti itu. Di beberapa rumah sakit bahkan spesialis radio-onkologinya ada 3-4,” tutupnya.

[Source]

 

Komentar