Industri Kreatif Diprediksi Menyumbang Rp 1.000 Triliun Di Tahun 2018

Industri Kreatif Diprediksi Menyumbang Rp 1.000 Triliun Di Tahun 2018

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen untuk terus mengembangkan sektor industri kreatif hingga nantinya bisa memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Dalam rangka mendukung tujuan ini, peningkatan daya saing di tingkat nasional bahkan global juga harus ditingkatkan.

“Ke depannya, dengan bergulir revolusi industri 4.0, sektor-sektor ekonomi kreatif berpeluang besar menjadi andalan bagi pertumbuhan ekonomi kita. Apalagi, potensi kita didukung dengan sumber daya manusia yang kreatif dan beragamnya kearifan budaya lokal,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, dalam sebuah keterangan tertulis.

Hingga saat ini ada 16 subsektor yang tergolong kelompok industri kreatif, yaitu kriya, kuliner, fesyen, aplikasi dan pengembangan permainan, musik, arsitektur, desain produk, desain komunikasi visual, serta desain interior. Selain itu bidang penerbitan, periklanan, fotografi, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, serta film, animasi dan video juga memeriahkan industri kreatif Indonesia.

Industri kreatif di Indonesia tercatat memberikan kontribusi yang terus meningkat terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam kurun tiga tahun terakhir. Pada tahun 2015, sektor ini berhasil menyumbang Rp 852 triliun, sedangkan tahun 2016 mencapai Rp 923 triliun, dan bertambah menjadi Rp 990 triliun di 2017. Untuk tahun 2018, angka kontribusi diproyeksi tembus hingga Rp 1.000 triliun.

Dari semua sektor yang tergabung dalam industri ini, ada tiga sektor yang memberikan sumbangan terbesar yaitu industri kuliner sebesar 41,69%, disusul industri fesyen sebesar 18,15%, dan industri kriya sebesar 15,70%. Sedangkan, subsektor lainnya, seperti industri animasi terlihat cukup berpotensi untuk berkembang dengan pertumbuhan di atas 6%.

Dalam upaya pengembangan industri kreatif nasional, Kemenperin akan fokus untuk membina subsektor kriya, fesyen, film, animasi dan video, juga aplikasi dan pengembangan permainan. “Guna mendukung kelompok sektor tersebut, kami telah mendirikan Bali Creative Industry Center (BCIC) sejak2015. Tujuannya sebagai pusat pengembangan dan inovasi, serta peningkatan daya saing,” jelas Gati.

Adapun beberapa program yang diselenggarakan di BCIC, antara lain Creative Business Incubator (CBI), Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA), dan Design Laboratory. Pada tahun 2018 sendiri, untuk pelaksanaan kegiatan CBI, Direktorat Jenderal IKM Kemenperin bekerjasama dengan Business Venturing and Development Institute (BVDI) Prasetya Mulya.

“Melalui program tersebut, para pelaku IKM kreatif bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnisnya (scalling-up). Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 28 September 2018 di BCIC melalui acara Creative Talk,” pungkasnya.

 

[Source]

Komentar