Bibit Pohon Digunakan untuk Membayar Layanan Kesehatan

Bibit Pohon Digunakan untuk Membayar Layanan Kesehatan

Sebuah klinik kesehatan di Kalimantan Barat menerima pembayaran layanan pengobatan dengan bibit pohon. Praktek ini berhasil menurunkan angka penebangan liar dalam satu dekade terakhir.

Di satu klinik di Sukadana, Kalimantan Barat, Asma membawa sekitar 200 bibit pohon jengkol miliknya.

Bibit pohon yang dibawanya itu merupakan deposit biaya pengobatan untuk keluarganya. Sejauh ini, Asma telah memiliki deposit senilai Rp 2 juta, untuk keperluan ayah dan ibunya berobat.

“Ayah saya sakit prostat, ada batu ginjal. Saya bayar pakai bibit untuk pengobatannya, ada keringanan untuk saya. Karena kalau pakai uang saya tidak mampu. Ibu saya juga berobat pakai bibit dia sakit maag dan asam urat,” ungkapnya.

Sistem pelayanan ini dirintis oleh dokter gigi Hotlin Omposunggu dan dokter Kinari Webb sejak 2007. Mereka prihatin akan tingginya praktek penebangan liar di daerah seputar Taman Nasional Gunung Palung, dengan area seluas 90.000 hektar, serta habitat sekitar 2.500 satwa liar.

Dari tahun 1988 sampai 2002, diperkirakan sekitar 38% lahan hutan berkurang.

“Banyak masyarakat yang mau berobat (pada era tahun 2000-an) tidak ada pilihan lain hingga harus menebang hutan untuk membayar biaya pengobatan,” ujar Hotlin.

Ia pun menjadi orang Indonesia pertama yang meraih penghargaan Whitley Award tahun 2016, penghargaan kedua yang ia terima dari badan konservasi Inggris.

“Jadi, kami memutus mata rantai (kesulitan) itu, yaitu bagaimana mereka tidak harus menebang hutan untuk membayar biaya pengobatan, yang bisa kami sediakan,” jelasnya lagi.

Sekalipun telah mendapat bantuan pemerintah (melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk beberapa jenis perawatan seperti biaya operasi, biaya perjalanan menuju kota juga membutuhkan biaya.

Saat ini jumlah pembalakan liar turun secara dratis, yaitu sebesar 80% dalam 10 tahun terakhir.

Pembalak liar di sekitar Taman Nasional Gunung Palung pada tahun 2007 berjumlah sekitar 1350 orang, dan pada 2017 menjadi sekitar 150 orang.

 

[Source]

Komentar