Bagaimana Generasi Y dan Z (Milenial) Menghabiskan Uangnya?

Bagaimana Generasi Y dan Z (Milenial) Menghabiskan Uangnya?

Pastinya banyak yang sudah tidak asing lagi dengan beberapa istilah pembagian generasi.  Seperti Baby Boomers, generasi x, y, dan z. Bagi Anda yang belum tahu perbedaan generasi-generasi ini, sabar dulu, akan kami jelaskan secara sederhana di bagian selanjutnya.

Yang menarik dari generasi-generasi ini adalah perbedaan gaya hidup mereka. Hal ini pastinya berimbas pada bagaimana mereka menggunakan uangnya.

Generasi y dan z dianggap lebih mementingkan kepuasan batin daripada mencari kekayaan materi. Contohnya, banyak dari generasi ini yang lebih memilih jalan-jalan daripada menabung. Tentu saja gaya hidup ini terasa asing bagi mereka yang lahir dalam era baby boomers bahkan generasi x.

Untuk mempermudah penjelasan kami nantinya, kali ini pembahasan akan dikhususkan pada generasi y dan generasi z saja.

Apa itu generasi y dan z?

Kata milenial seringkali digunakan untuk menggambarkan generasi muda saat ini. Padahal kalau mau kita bagi lagi sebenarnya milenial ini terdiri dari generasi x, y, dan z.

Karena generasi x (kelahiran tahun 1977 – 1981) merupakan generasi transisi, maka perilakunya belum jauh berbeda dengan mereka yang lahir sebelumnya (baby boomers). Perubahan signifikan terlihat pada generasi setelahnya.

Generasi milenial lahir saat pengembangan di bidang teknologi sedang gencar-gencarnya, terutama teknologi komunikasi. Hal ini yang membuat generasi milenial memiliki pandangan berbeda dengan generasi pendahulunya.

Generasi y (lahir 1982 – 1994) mengalami masa remaja di awal 2000an saat media seperti MTV dan YouTube berkembang dan berpengaruh pada gaya hidup mereka. Selain itu, layanan messenger dan email juga muncul saat itu, sehingga memungkinkan mereka untuk bertemu siapa saja.

Lalu generasi z (lahir 1995 – 2012) menghabiskan masa kecil dan remajanya di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi. Tujuan hidup mereka pun berubah.

Jika pada generasi x orang masih membeli produk, generasi y dan z menuntut citra (image) selain kualitas produk yang bagus. Tidak mengherankan kalau tempat-tempat wisata dan restoran yang fotogenik menjadi sasaran dua generasi ini untuk menghabiskan uangnya.

Rasanya kebutuhan akan citra ini juga yang menjadikan mereka cenderung menghabiskan uang untuk kepentingan non materi.

sekelompok pemuda nongkrong

Karakter keuangan

Seperti yang dijelaskan secara singkat sebelumnya, pertumbuhan generasi y dan z dipengaruhi oleh teknologi dan kesempatan mereka untuk berkomunikasi secara global dengan siapa saja.

Berikut ini adalah beberapa ciri signifikan dari pengeluaran yang dilakukan oleh generasi y dan z.

Lebih memilih makan di luar

Bisa dibilang kebiasaan makan di luar merupakan ciri yang menonjol dari generasi ini. Pada sebuah penelitian yang diadakan Bank of America Merrill Lynch, pengeluaran generasi milenial, terutama y dan z, untuk restoran meningkat dibanding generasi sebelumnya.

Baby BoomersGenerasi XMilenial (Generasi Y dan Z)
13,5%17,7%23,8%
Sumber : kabar24.bisnis

Adanya kebutuhan generasi ini untuk berkumpul dengan teman-temannya, menjadikan pengusaha restoran terus mengembangkan kreatifitas dengan membuat konsep restoran atau kafe yang unik.

Sebut saja Warung Upnormal dan Abang Adek yang berkembang pesat dengan konsep menyajikan mie instan khas Indonesia, Indomie.

Jika dulu untuk makan Indomie orang hanya perlu memasaknya di rumah atau ke warung kopi, namun dengan modifikasi sajian yang memanjakan mata dan lidah, makan semangkuk Indomie bisa jadi trendi. Harganya pun bisa mencapai Rp 35.000 atau lebih seporsi. Padahal pada zaman generasi x, menikmati mie instan cukup dengan modal Rp 1.500 atau Rp 2.000 ditambah air panas.

Selain alasan trendi, generasi y dan z juga lebih berani dalam mencoba hal baru, termasuk jenis makanan. Banyak restoran bermunculan yang menjajakan hidangan dari berbagai negara, bahkan jenis sajian fusion yang merupakan hasil kreasi si pemilik restoran.

Pasti masih ingat tren kue cubit di tahun 2015-2016, dimana jajanan tradisional ini menjadi kesukaan banyak orang setelah berbagai modifikasi. Bisnis kue cubit pun meroket dengan munculnya kafe dan gerai pinggir jalan menjajakan kue cubit berbagai rasa.

Akibat dari kebiasaan ini adalah penurunan belanja bahan makanan. Bahan makanan mentah bukan menjadi kebutuhan generasi y dan z, karena mereka tidak terbiasa memasak sendiri.

Jalan-jalan

Siapa sangka lahirnya media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram akan berpengaruh banyak pada bisnis agen perjalanan.

Melakukan perjalanan tidak lagi hanya sekedar untuk liburan atau pekerjaan. Lebih dari itu, banyak yang merasa bahwa menyiarkan perjalanannya lewat media sosial adalah kebutuhan. Baik itu sekedar foto di Instagram, atau cerita lengkap di blog.

Hal ini tentunya berimbas positif pada industri pariwisata. Mulai dari maskapai, agen tour, hotel, sampai pengusaha kuliner.

Cerita dan foto-foto yang tersebar di dunia maya menginspirasi penyimaknya untuk juga melakukan perjalanan dan menceritakan kembali perjalanannya.

Sebuah riset yang diadakan oleh Dwidayatour menunjukkan bahwa milenial menghabiskan Rp 2 juta sampai Rp 10 juta untuk traveling. Mereka menemukan bahwa tren 2018 yang dilakukan oleh generasi y dan z adalah perjalanan yang singkat namun sering. Tidak mengherankan kalau setiap akhir pekan, tiket pesawat dan kereta selalu ramai diburu orang.

Namun kebiasaan jalan-jalan ini memiliki dampak positif pada pola pikir mereka. Generasi y dan z dikenal memiliki pola pikir yang lebih terbuka dan toleran, karena mereka sudah terbiasa melihat banyak hal berbeda saat melakukan perjalanan.

Hiburan dan hobi

Satu hal lagi yang membuat generasi y dan z kesulitan menabung untuk masa pensiun, yaitu kebutuhan akan hiburan dan hobi.

Poin ini termasuk nonton film, konser, aktif dalam komunitas hobi, serta menjadi anggota klub kebugaran. Para milenial dari generasi y dan z ini menganggap belanja untuk hiburan dan hobi lebih penting daripada membeli hal yang bersifat materi, seperti kendaraan atau rumah.

Buktinya, bisa Anda simak pada artikel kami mengenai kehidupan finansial para fans. Di sini Anda melihat bagaimana mereka menabung untuk memenuhi kebutuhan berupa hiburan. Baik itu berupa konser, membeli album, atau merchandise.

Hal yang tidak jauh beda juga terjadi di bidang hiburan dan hobi lainnya. Dalam sebuah survei yang dengan judul Millenial Money Studies, ditemukan bahwa generasi y dan z memanjakan diri minimal sebulan sekali.

Juga kebanyakan di antara mereka tidak memberi tahu orang tuanya mengenai penggunaan uangnya. Bahkan mereka mengaku kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang tua untuk hal pengaturan keuangan.

Tabungan

Dalam berbagai sumber yang kami temukan, hampir semua menyoroti bagaimana millennial sebenarnya bisa menabung. Hanya saja tabungan ini bukan untuk masa depan, melainkan untuk memenuhi keinginan saat ini.

Pada survei yang dilakukan pada 5.000 partisipan di Amerika Serikat, menemukan bahwa hampir separuh partisipan tidak memiliki tabungan sama sekali. Sebagian yang lain memiliki tabungan namun kurang dari Rp 13,6 juta.

Rasanya kondisi ini juga bisa dilihat di Indonesia. Salah satu indikasinya adalah dengan booming layanan peer to peer lending. Dimana banyak orang yang menggunakan teknologi untuk mendapatkan pinjaman.

Jika mau digali lebih dalam lagi, ketidakmampuan generasi y dan z untuk menabung atau berinvestasi juga kembali lagi ke pandangan mereka terhadap uang. Coba hitung saja, misalnya Anda menghabiskan Rp 50.000 sampai Rp 100.000 untuk sekali nongkrong di akhir pekan. Maka, setidaknya, dalam sebulan Anda menghabiskan Rp 200.0000 sampai Rp 400.000 untuk nongkrong. Kalau ditambah belanja, nonton, atau karaoke, bisa jadi Anda menghabiskan sekitar Rp 1 juta atau lebih dalam sebulan untuk kebutuhan sekunder ini.

Nah, bagi Anda yang masuk dalam golongan milenial generasi y dan z, ada baiknya berhitung ulang untuk pengeluaran Anda.

Tidak ada salahnya juga untuk kembali mengikuti cara emak-emak dalam mengelola keuangan. Toh sudah terbukti bagaimana orang tua kita dengan penghasilan terbatas mampu menghidupi keluarga, bahkan meninggalkan warisan.

Komentar