Bagaimana Para Milenial Mengelola Keuangannya Dengan Buruk Dalam Empat Poin

Bagaimana Para Milenial Mengelola Keuangannya Dengan Buruk Dalam Empat Poin

Generasi penggerak ekonomi saat ini sedang didominasi oleh para milenial. Generasi kelahiran 1980 sampai 2000 ini berada pada usia produktif dan diakui atau tidak, generasi ini pun yang saat ini menggerakkan tren konsumsi pada gaya hidup masyarakat saat ini.

Anda akan melihat para milenial ini tampil di berbagai media sosial dan memamerkan gaya hidup trendy dan selalu menggiurkan untuk ditiru. Agaknya kemajuan teknologi, terutama internet, membentuk pola konsumsi generasi ini. Sehingga tidak jarang, para milenial juga dikenal dengan pola pengelolaan keuangannya yang tidak sehat.

Berikut adalah empat kebiasaan buruk generasi milenial dalam mengelola keuangannya.

YOLO (You Only Live Once)

Golongan produktif dari generasi milenial bisa dibilang masih menikmati masa produktifnya. Dimana mereka tergolong masih muda dan sudah bisa memiliki penghasilan sendiri. Tentunya banyak yang ingin dilakukan dengan penghasilan yang ada. Termasuk menikmati petualangan berupa pergi ke tempat yang eksotis, mencoba olah raga menantang, juga hal baru lainnya sebagai tanda bahwa mereka menikmati masa mudanya.

Bagi para milenial, hidup yang hanya sekali ini harus dinikmati dengan sebaik-baiknya. Penafsiran dari falsafah hidup “you only live once” (YOLO) yang dilakukan secara salah malah berakibat pada pola pikir yang menjebak. Mereka menghabiskan uangnya untuk kesenangan saat ini tanpa mempersiapkan masa depannya.

Akibatnya, mereka mengembangkan gaya hidup yang konsumtif dan tidak memikirkan tentang kebutuhan jangka panjang. Waktu luang yang dimiliki pun tidak digunakan secara produktif, sehingga mereka tidak memiliki penghasilan tambahan. Pun kalau mereka menabung, kebanyaakan milenial menggunakan uang tabungannya untuk hal konsumtif seperti traveling.

Mari kita ambil contoh untuk budget travelling dengan destinasi populer bagi orang Indonesia, yaitu Bali dan Bangkok, Thailand. Di Indonesia sendiri, jumlah cuti per tahun adalah 12 hari. Jadi, kebanyakan karyawan akan mengambil cuti dua kali dalam setahun karena peraturan di kebanyakan kantor di Indonesia melarang karyawan menghabiskan jatah cutinya sekaligus.

Bayangkan jika Anda mengambil cuti ke Bali dan Bangkok dalam setahun. Dimana biaya ke Bali (dari Jakarta) mulai dari tiket pesawat, penginapan, transportasi, dan makan bisa mencapai antara Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Sedangkan, budget untuk jalan-jalan ke Bangkok dari Jakarta bisa mencapai Rp 6 juta. Angka ini sudah termasuk tiket pesawat pulang-pergi, penginapan, makan, dan transportasi. Artinya, dalam setahun Rp 10 juta yang terpakai untuk keperluan jalan-jalan ini.

Kesalahan yang banyak dilakukan para milenial adalah mereka mempersiapkan biaya untuk kebutuhan selama traveling, namun tidak untuk kebutuhan setelah traveling. Akhirnya, mereka terpaksa berhutang untuk kebutuhan konsumsinya.

Di sisi lain, jika mereka bisa menggunakan uang Rp 10 juta deposito, maka mereka akan memiliki persiapan masa depan yang lebih baik. Karena saldo deposito akan bertambah seiring dengan jangka waktu penyimpanannya.

Menikmati hidup memang tidak ada salahnya. Hal ini termasuk menjelajahi tempat-tempat baru, karena traveling bisa membuka wawasan dan memberikan pengalaman baru. Namun jangan lupa untuk menyiapkan masa depan. Memang membutuhkan komitmen, dimana Anda harus mengorbankan beberapa keinginan kecil untuk tujuan yang lebih besar.  Walaupun hidup memang cuma sekali, namun perjalanannya masih panjang dan butuh banyak persiapan untuk masa depan.

Berhutang untuk hal konsumtif

Penggunaan kartu kredit sudah makin umum di masyarakat kita, terutama pada saat generasi milenial menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia. Apalagi saat ini pemerintah sedang berusaha untuk mendorong transaksi tanpa tunai semasif mungkin. Maka metode membayar menggunakan kartu kredit ini makin marak. Bahkan Anda akan menemukan bahwa tidak ada penerbit kartu kredit yang tidak menawarkan promo.

Seperti yang diketahui kartu kredit memang dibutuhkan dalam melakukan beberapa transaksi, terutama jika Anda ingin menyicil tanpa harus berurusan dengan leasing. Tapi penggunaan kartu kredit juga bisa berbahaya jika Anda tidak bisa mengaturnya dengan bijaksana. Kelalaian dalam pengelolaan kartu kredit Anda bisa berakibat pada catatan buruk di BI checking. Jika catatan Anda buruk pada BI checking, maka Anda akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan kredit lainnya seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Maraknya sistem penjualan online juga mendukung penggunaan kartu kredit yang makin masif. Apalagi media sosial memilliki peran yang sangat besar dalam membentuk tren di kalangan para milenial. Dimana mereka harus merasa berada dalam komunitas maya yang selalu up to date dalam berbagai hal. Maka tidak jarang mereka berhutang agar bisa berbelanja model pakaian terbaru, makan di tempat yang sedang tren, atau mengunjungi tempat eksotis untuk kemudian dipamerkan dalam media sosialnya.

Berikut simulasi jika Anda hanya membayar minimun tagihan kartu kredit setiap bulannya yang berakibat membengkaknya tagihan Anda.

Jumlah Tagihan 2.500.000
Bunga Kartu Kredit2.95 % / bulan

(35.4 % / tahun)
Masa penyelesian pembayaran2 tahun 3 bulan
Total BungaRp 830.039,00

[Dengan asumsi tidak ada lagi transaksi dan minimum pembayaran tiap bulannya minimal 10%]

Dari simulasi perhitungan di atas, bisa dilihat bahwa jika pembayaran dilakukan tepat waktu, maka tidak ada denda keterlambatan juga bunga transaksi, dimana keduanya dihitung per hari. Jadi, jangan sampai kartu kredit yang seharusnya membantu kehidupan finansial malah mencekik karena Anda tidak bisa mengelola dengan baik. Namun, jika Anda hanya membayar minimun pembayaran karena pengelolaan keuangan yang tidak benar, maka Anda akan terbebani dengan bunganya. Sebagaimana perhitungan di atas, tagihan yang seharusnya hanya Rp 2.500.000 menjadi Rp 3.330.039.

Kebiasaan berhutang untuk hal konsumtif juga menjadikan banyak yang berhutang ke teman, bahkan renternir, dan hal ini membuat mereka sulit untuk keluar dari lingkaran hutang. Hal ini juga menjebak mereka dalam kondisi keuangan yang tidak sehat. Yaitu menjadikan berhutang sebagai bagian dari gaya hidupnya.

Sebagaimana sebelumnya sudah disebutkan, tidak ada salahnya menikmati hidup. Namun jangan sampai urusan menikmati hidup ini memaksa Anda harus berhutang. Terjebak dalam tren dunia maya bisa membahayakan kehidupan finansial Anda. Jika apa yang Anda inginkan bersifat konsumtif dan Anda belum memiliki cukup uang untuk memenuhinya, maka sebaiknya jangan memaksakan diri jika hanya berdasarkan keinginan. Buat rencana keuangan yang baik sebelum Anda mulai memenuhi keinginan Anda satu per satu.

Skip tren dengan depresiasi dan bukan investasi

Pasti Anda pernah mendengar istilah “membeli untuk investasi”. Nah, tren ini juga yang terlihat di kalangan milenial. Mereka membeli perangkat elektronik atau kendaraan yang notabene mengalami depresiasi atau pengurangan nilai. Contohnya, ponsel model terbaru yang saat ini seharga Rp 13 juta, setahun ke depan nilainya akan turun hingga 25 persen karena pasti mengalami penyusutan nilai setelah dipakai, apalagi pasti ada model terbaru lagi yang lebih tren di tahun berikutnya. Oleh karenanya, membeli gadget hanya karena memburu tren adalah keputusan finansial yang merugikan. Beda kasus kalau memang Anda membeli gadget atau kendaraan yang sesuai kebutuhan. Maka perangkat dan kendaraan ini akan mendukung kegiatan sehari-hari juga menjadi prasarana yang menghasilkan.

Untuk nilai depresiasi kita bisa ambil contoh misalnya Anda membeli sebuah kendaraan, contohnya motor,  dengan ketahanan untuk masa pemakaian 16 tahun, maka presentase depresiasi per tahun menurut pajak adalah 6,25%. Artinya jika harga beli awal adalah Rp 15.000.000, dan Anda membeli kendaraan ini pada bulan Juli 2013, maka perhitungannya adalah:

Penyusutan tahun 2013: 7/12 x 6,25%  Rp 15.000.000 = Rp 543.750
Penyusutan tahun 2014: 6,25% x Rp 15.000.000 = Rp 937.500

Maka harga motor tersebut di bulan Januari tahun 2015 adalah Rp 13.518.750, angka ini akan terus menyusut seiring dengan lama pemakaian motor.

Tentunya ini hanya contoh untuk perhitungan nilai depresiasi, bayangkan jika Anda menghabiskan juga menghabiskan sejumlah uang yang sama untuk membeli barang-barang sekunder steperti telepon genggam.

Untuk benar-benar memiliki properti yang bernilai investasi memang dibutuhkan komitmen. Tidak hanya komitmen dalam membayar cicilan, melainkan juga komitmen dalam menabung untuk bisa membayar, setidaknya uang mukanya.

Jika belum bisa berkomitmen untuk membeli rumah atau tanah yang benar-benar memiliki nilai investasi, maka menggunakan produk keuangan seperti deposito atau tabungan berjangka bisa menjadi pilihan Anda. Anda pun bisa menabung emas yang merupakan fasilitas dari pihak Pegadaian.  Dengan memilih produk keuangan yang bernilai investasi, Anda bisa mendapatkan keuntungan di masa mendatang. Investasi seperti juga tidak akan memakan banyak uang Anda, namun cukup untuk persiapan masa depan.

Memiliki banyak rekening tapi tidak dikelola dengan baik

Tidak asing lagi bahwa para milenial ini memiliki lebih dari satu rekening di bank. Namun kebanyakan dari mereka ini tidak menggunakan rekening-rekening dengan pengelolaan yang baik.

Pernah terpikir untuk membuka rekening tambahan dengan rencana awal sebagai “dana darurat”? namun kenyataannya malah jadi simpanan kalau-kalau uang di rekening utama sudah habis. Akhirnya uang pun dihabiskan melalui dua rekening yang berbeda.

Di sisi lain, bank pasti akan memberikan banyak kemudahan saat Anda membuka rekening pertama kali. Mulai dari bonus berupa cash, merchandise, sampai potongan harga atau undian. Namun perlu diingat bahwa Anda juga harus menyesuaikan produk keuangan yang digunakan dengan kebutuhan sebenarnya.

Jadi pertanyaan yang paling penting Anda jawab sebelum membuka rekening adalah, “untuk apa semua rekening tambahan ini?” Kalau Anda sudah memiliki banyak rekening dan tidak bisa menjawab pertanyaan ini, artinya Anda harus menutup beberapa akun rekening di bank dan menyisakan yang benar-benar terpakai saja.

Lalu apa risikonya jika Anda memiliki banyak akun yang tidak maksimal terpakai:

  1. Kebanyakan bank di Indonesia mewajibkan adanya minimal saldo dalam rekening. Minimal saldo ini beragam tiap banknya, yaitu antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000. Jika Anda tidak bisa mengelola dengan baik, maka Anda kehilangan sejumlah uang untuk saldo yang tidak bisa Anda tarik.
  2. Tabungan Anda akan dikenakan biaya admin yang secara otomatis dipotong dari uang di rekening Anda. Biaya administrasi ini bervariasi tergantung kebijakan tiap bank, yaitu antara Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Jika Anda memiliki lebih dari dua rekening bank, maka Anda perlu menghitung lagi berapa rupiah yang terambil dari rekening lainnya. Jadi, sebaiknya Anda menutup rekening yang tidak dibutuhkan.
  3. Sebelum membuka rekening baru, pastikan Anda bisa menggunakannya dengan baik. Hal ini karena kalau akhirnya Anda mau menutup rekening yang tidak terpakai, maka Anda akan dikenakan biaya penutupan rekening yang besarnya antara Rp 10.000 sampai Rp 50.000 tergantung bank dan jenis tabungannnya.

Perlu diingat bahwa rekening di bank memiliki berbagai jenis, yaitu:

  1. Tabungan konvensional, yang bisa Anda cairkan kapan saja melalui ATM
  2. Rekening deposito
  3. Tabungan berjangka/rencana, tabungan jenis ini hanya bisa Anda cairkan ketika jangka waktu sesuai perjanjian telah selesai
  4. Tabungan untuk keperluan ibadah naik haji
  5. Tabungan giro, tabungan ini khusus untuk transaksi bisnis
  6. Tabungan mata uang asing. Anda bisa membuka tabungan ini jika Anda memang sering bertransaksi dengan mata uang asing tertentu
  7. Tabungan saham, tabungan ini digunakan khusus untuk membeli saham dan belum semua bank memiliki fasilitas ini

Dari semua jenis tabungan di atas, pilih mana yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana Anda.

Kalau niat Anda menabung, daripada membuat akun rekening biasa di bank yang berbeda, lebih baik Anda membuka akun rekening tabungan berjangka di bank yang sudah Anda gunakan, atau di bank lain. Tabungan berjangka akan membuat Anda berkomitmen dengan rencana menabung, sehingga uang Anda tidak mendadak habis melalui beberapa rekening berbeda.

Tidak dipungkiri bahwa menyisihkan sebagian uang untuk keperluan darurat memang diperlukan. Namun jangan sampai uang darurat ini berubah menjadi “cadangan” yang membuat Anda merasa tenang menghabiskan uang di rekening utama.

 

Menjadi generasi milenial yang hidup di tengah-tengah kemajuan teknologi, memang bukan hal gampang. Kemampuan untuk menahan keinginan ketika Anda dihadapkan dengan kehidupan maya yang gemerlap dan serba trendy di media sosial, televisi, bahkan radio juga tidak bisa didapatkan sehari dua hari. Perlu adanya keinginan dan komitmen untuk menjalani kehidupan finansial yang sehat di era para milenial ini.

Kalau Anda juga termasuk dalam golongan generasi milenial yang melek teknologi, maka tips untuk merencanakan masa depan yang sesuai dengan gaya hidup ini cocok untuk Anda simak.

Komentar