Badan Usaha Tidak Boleh Menaikkan Harga BBM Lebih dari 10%

Badan Usaha Tidak Boleh Menaikkan Harga BBM Lebih dari 10%

Pemerintah memberikan batas kenaikan harga bahan bakar minya (BBM) oleh badan usaha agar tidak melewati 10%. Adanya kebijakan ini merupakan upaya pemerintah dalam mengendalikan harga BBM.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 34/ 2018 tentang Perubahan Kelima atas Permen ESDM Nomor 34/2014. Dalam peraturan ini disebutkan bahwa badan usaha memang memiliki kebebasan untuk menaikkan harga BBM nonsubsidi. Artinya, badan usaha tidak lagi membutuhkan izin dari pemerintah untuk menaikkan harga BBM nonsubsidi.

“Pada aturan baru disebutkan, kenaikan harga BBM margin tidak boleh lebih dari 10%. Begitu di atas itu, kami perintahkan untuk menurunkan,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Djoko Siswanto di Jakarta.

Adapun penerbitan regulasi ini dilakukan untuk meningkatkan investasi di sektor hilir minyak dan gas bumi. Berdasarkan pertaruran terbaru ini, badan usaha hanya perlu melaporkan besaran kenaikan harga pada pemerintah.

Djoko juga menjelaskan bahwa kenaikan harga yang diberlakukan oleh badan usaha seperti Pertamina, Shell, Total, dan Vivo selalu berada di bawah pengawasan pemerintah. Bada usaha harus melapor pada Kementerian ESDM 10 hari sebelum menaikkan harga. Berkaitan dengan perubahan harga BBM yang ramai di tengah masyarakat, Djoko menjelaskan bahwa hal itu sudah dilaporkan pada pemerintah.

Pada implementasinya dapat dilihat bahwa harga Shell Indonesia bervariasi di masing-masing wilayah pemasarannya. Harga BBM Shell dijual di kisaran Rp 8.800 sampai Rp 11.250 per liter, sedangkan harga sebelumnya adalah Rp 8.700 sampai Rp 10.850 per liter.

Selanjutnya harga BBM yang dipasarkan Total Oil Indonesia, yang awalnya Rp 8.500 sampai Rp 11.800 per liter menjadi Rp 8.900 sampai Rp 11.400 per liter.

Vice President Corporate Com munication Pertamina Adiatma Sardjito sebelumnya juga sempat menjelaskan, kenaikan harga Pertamax dan BBM lainnya diberlakukan sejak 1 Juli 2018 karena dorongan harga minyak dunia yang mengalami kenaikan harga. Harga minyak dunia berkontribusi 90% terhadap variable pembentuk harga Pertamax.

Penyesuaian harga ini juga dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang melemah.

“Penyesuaian ini karena harga minyak yang naik dan kurs yang berubah. Harga minyak saja komponennya mem bentuk 90% dari harga BBM,” tambahnya.

 

[Source]

Komentar