Pelaku Usaha Mengantongi Kontrak Dagang Sebesar US$ 5,09 Miliar

Pelaku Usaha Mengantongi Kontrak Dagang Sebesar US$ 5,09 Miliar

Pelaku usaha Indonesia mendapatkan kontrak dagang (buying mission) sebesar US$ 5,09 miliar atau sekitar Rp 77,30 triliun. Kontrak dagang ini merupakan hasil dari perhelatan Pameran Dagang Indonesia (TEI). Nominal kontrak dagang tersebut merupakan total yang didapatkan pelaku usaha Indonesia sampai hari ke dua.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Nasional Arlinda juga mengatakan total kontrak dagang itu telah melampaui target awal yaitu sebesar US$ 1,5 miliar.

“Artinya sudah melampaui hingga tiga kali lipat dari target transaksi yang kami tetapkan,” kata Arlinda saat ditemui di Indonesia Convention Exhibition, Kamis pekan lalu.

Ia memberikan rincian bahwa pada pembukaan pameran dagang pelaku usaha berhasil membukukan kontrak dagang sebesar US$ 4,96 miliar. Adapun kontrak dagang ini dimulai dengan penandatanganan 44 nota kesepahaman (MoU) antara eksportir Indonesia dengan 33 importir dari 17 negara.

Dari total kontrak dagang US$4,96 miliar pada hari pertama, terdapat US$ 4,68 miliar atau setara Rp 71,07 triliun yang merupakan kerjasama investasi antara perusahaan Indonesia dengan China dan Thailand. China memegang porsi investasi lebih besar yaitu US$ 4,5 miliar sementara Thailand US$ 180 juta.

Arlinda juga menjelaskan bahwa Negeri Tirai Bambu itu akan menanamkan investasi pada bidang IT di Kota Belitung. Tahapan awal pembahasan lahan oleh pemerintah Belitung dengan pihak perusahaan pun sudah dimulai untuk mewujudkan rencana ini. Sementara itu Thailand akan berinvestasi pada sektor real estate.

“Nantinya ada kesepakatan modal, porsinya 60 persen dari Indonesia dan 40 persen China,” tambahnya.

Pada hari pertama penyelenggaraan TEI, eksportir Indonesia telah menandatangani pakta kerja sama dengan importir dari berbagai belahan dunia, meliputi; Korea Selatan, Arab Saudi, Belgia, Prancis, Austria, China, Belanda, Spanyol, Meksiko, Chile, Singapura, Amerika Serikat, dan Brasil. Selain itu, beberapa negara tetangga yang juga ikut dalam kerjasama diantaranya adalah Australia, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Para importir dari negara-negara ini berminat dengan produk-produk furnitur, makanan dan minuman, makanan laut, alas kaki, bahan kimia, dan rempah-rempah.

Kemudian pada hari kedua, Arlinda mengatakan pelaku usaha berhasil mengantongi kontrak dagang sebesar US$131,70 juta yang ditandai dengan penandatangan 18 nota kesepahaman.

Adapun pendatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh importir dari delapan negara yaitu Amerika Serikat, Belgia, Hongkong, Inggris, Italia, Jerman, Mesir, dan Spanyol. Para importir ini tertarik dengan produk-produk Indonesia yaitu, kopi, keramik, plastik, rempah-rempah, gula kelapa, buah segar, ban, minyak esensial, sabun, gliserin, kacang mete, etanol, furnitur dan kerajinan tangan, plastic lembaran akrilik, makanan olahan, dan benang.

“Dengan ini, total misi pembelian pada hari pertama dan kedua tercatat sejumlah US$ 5,09 miliar,” tambah Arlinda.

 

[Source]

Komentar