Asosiasi Independen Talk Fusion Mengklaim Dicuci Otaknya

Asosiasi Independen Talk Fusion Mengklaim Dicuci Otaknya

Pihak manajemen Talk Fusion menolak jika perusahaannya digolongkan sebagai perusahaan investasi. Talk Fusion merupakan perusahaan perdagangan elektronik (e-commerce) dengan jenis usaha penjualan produk komunikasi video online lewat asosiasi independen.

Perusahaan asal Amerika ini ditentang keberadaannya di Indonesia oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena diketahui mengumpulkan dana dari masyarakat. Pada bulan Februari 2017 lalu, OJK merilis daftar nama perusahaan investasi ilegal, dan salah satunya adalah Talk Fusion.

Manajemen Talk Fusion kemudian menyampaikan keberatannya dan melakukan berbagai usaha agar kembali mendapat pengakuan secara hukum.

Pada tanggal 7 April 2017, perusahaan ini pun mendapatkan izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nomor 1399/1/IP/PMA/2017, juga resmi menyandang mengesahkan nama barunya yaitu PT Talk Fusion Indonesia.

Pada dasarnya Talk Fusion sudah beroperasi di Indonesia selama lima tahun sebelum memperoleh izin ini. Perusahaan ini awalnya berdiri di Surabaya dan kemudian mampu menjaring asosiasi independen hingga ke Bandung, Jawa Barat.

Namun di Bandung sendiri ada sekitar 500 orang asosiasi independen Talk Fusion yang menuntut perusahaan ini. Mereka menyatakan bahwa mereka telah menjadi korban dari penipuan bisnis investasi yang berkedok multi level marketing (MLM).

Dituduh melakukan cuci otak

Seorang korban, Indarti, mengatakan bahwa Talk Fusion melakukan cuci otak sehingga para asosiasi independennya mengikutsertakan semua anggota keluarga dalam bisnis ini.

Indarti dan suaminya mengaku sudah menghabiskan Rp 500 juta untuk bergabung dengan Talk Fusion. Padahal uang tersebut nantinya akan digunakan untuk membiayai kuliah anaknya.

Tidak hanya Indarti, seorang orban lain bernaman Diana pun dirugikan dalam mengikuti bisnis Talk Fusion. Mereka tidak mendapatkan keuntungan yang dijanjikan padahal sudah berhasil emngajak keluarganya. Bahkan, Diana mengaku menanamkan dana sejumlah Rp 5 miliar untuk menjalankan bisnisnya.

Korban lain berinisial NF mengaku menanamkan Rp 1 miliar sebagai modal bisnisnya denngan Talk Fusion.

Diana yang berprofesi sebagai notaris pun memberikan syarat pada kliennya untuk mengikuti bisnis dengan Talk Fusion. Dia mengaku hal ini dilakukannya setelah mengalami cuci otak dari pihak Talk Fusion.

[Source]

Komentar