Cegah Penyebaran COVID-19, Akhirnya Larangan Mudik Resmi Diterapkan

Cegah Penyebaran COVID-19, Akhirnya Larangan Mudik Resmi Diterapkan

Pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk memberlakukan larangn mudik atau pulang kampung. Dengan adanya peraturan ini, diharapkan usaha untuk memperkecil kasus penularan Coronavirus bisa berhasil. Hal ini karena jika larangan ini berlaku, maka pihak berwajib bisa mengambil tindakan tegas terhadap masyarakat yang melanggar.

Usulan ini akhirnya pun diindahkan oleh Presiden dengan penyusunan Peraturan Pemerintah (Perpres) serta Instruksi Presiden (Inpres) sebagai panduan hukum untuk mengatur mudik Hari Raya Idul Fitri 1441. Hal ini dilakukan agar COVID-19 tidak menyebar makin luas di wilayah Indonesia.

Namun, tentu saja sudah ada sebagian masyarakat Indonesia yang terlanjur mudik. Tercatat dalam beberapa hari saja sudah ada ribuan orang mudik menggunakan angkutan umum. Mengenai hal ini, pemerintah kota setempat diminta untuk menjalankan protokol pengamanan. Mulai dari screening untuk mendeteksi pemudik yang mungkin terinfeksi Corona, hingga mengetatkan prosedur karantina diri bagi yang baru pulang.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, sudah mengeluarkan maklumat yang melarang warga Jawa Barat untuk mudik. Artinya masyarakat tidak boleh masuk atau keluar area Jawa Barat, untuk tujuan mudik.

Adapun 4 poin dalam maklumat tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Dilarang mudik ke kampung halaman di tengah pandemi COVID-19.
  2. Barangsiapa memaksa mudik maka akan otomatis berstatus ODP (Orang Dalam Pemantauan).
  3. Jika berstatus ODP, maka harus isolasi diri selama 14 hari.
  4. Kepolisian Jawa Barat akan mengambil tindakan hukum jika status ODP tidak melakukan isolasi diri.

Berlebaran tanpa mudik memang terasa berbeda bagi orang Indonesia yang sudah menjadikan pulang kampung sebagai tradisi. Namun, pada masa menyebarnya wabah penyakit seperti saat ini, mudik bukanlah keputusan yang bijak.

Hal ini karena Anda bisa sada tertular COVID-19 saat dalam perjalanan mudik, yang akhirnya menularkan penyakit ini pada anggotan keluarga di kampung halaman. Jika Anda memiliki anggota keluarga yang sudah lanjut usia, maka kehadiran Anda justru membahayakan kesehatan mereka.

Apa keputusan pemerintah soal mudik?

Akhirnya pihak pemerintah pusat mengeluarkan keputusannya mengenai pengaturan mudik ini. Di mana sejak 24 April 2020, kegiatan pulang kampung ke halaman ini dilarang dan akan ditindak oleh aparat keamanan.

Larangan ini tidak hanya berlaku di daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), melainkan untuk masyarakat di seluruh Indonesia. Larangan berlaku hingga Lebaran, namun jika kasus penyebaran COVID-19 masih tinggi, maka tindakan untuk mencegah pergerakan orang dan barang ini akan diperpanjang.

Bagi yang sudah terlanjur pulang sebelum aturan ini, pemerintah hanya mengeluarkan himbauan untuk tidak pulang kampung. Mereka yang terlanjur  pulang kampung, harus mematuhi aturan 14 hari karantina di dalam rumah.

Selain itu, bagi masyarakat yang mudik, maka statusnya otomatis menjadi ODP (Orang Dalam Pengawasan). Kemudian transportasi publik yang akan digunakan pemudik juga diatur agar tidak terjadi kepadatan, sehingga ada jarak antara penumpang satu dan lainnya.

Dengan adanya aturan ini, maka pihak otoritas di daerah hingga tingkat Rukun Tetangga (RT) bisa bekerjasama dan memastikan orang yang mudik mematuhi aturan karantina.

Sedangkan, untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI-Polri, dan pegawai Bada Usaha Milik Negara (BUMN) dilarang untuk mudik. Jika mereka melanggar aturan ini, maka akan mendapat sanksi berupa penundaan kenaikan gaji selama setahun, penundaan kenaikan pangkat setahun, hingga diturunkan jabatannya setingkat lebih rendah.

Daripada mudik, sebaiknya lakukan hal ini!

Jangan sedih karena Anda tidak bisa merayakan Lebaran di kampung halaman. Ada beberapa hal yang tidak kalah serunya untuk mengobati kerinduan selama Bulan Puasa dan Lebaran.

Menghubungi keluarga lewat video call

Karena status darurat Corona ini berlangsung hingga 29 Mei 2020, maka Anda dan keluarga akan harus melakukan shalat Tarawih di rumah. Artinya, Anda bisa melakukan video call bersama anggota keluarga lebih lama.

Atur waktu di mana semua anggota keluarga bisa menghabiskan waktu untuk melakukan video call. Lebih berkesan, jika dilakukan saat hari pertama Bulan Puasa. Anda bisa melepas kerinduan dengan keluarga dari jarak jauh.

Transfer uang atau mengirim hadiah

Gunakan teknologi untuk mengirimkan uang ke kampung halaman. Anda bisa mentransfer uang untuk orang tua atau kerabat.

Situs-situs belanja pasti memiliki berbagai penawaran seperti diskon walaupun tidak ada yang pulang kampung. Anda bisa menggunakan kesempatan ini untuk membeli hadiah secara online, dan nantinya dikirim ke keluarga melalui jasa pengiriman.

Mencoba resep khas Lebaran

Mintalah resep masakan khas Lebaran yang biasa disajikan di tengah acara kumpul keluarga pada orang tua di kampung halaman. Anda bisa mencoba memasak resep khas keluarga untuk dibagikan ke teman-teman kos, atau keluarga di rumah perantauan.

Walaupun tidak sama, kehangatan bersama teman-teman satu kos atau anak dan istri di tanah rantau tetap akan berkesan. Momen ini juga bisa jadi kesempatan Anda untuk memperkenalkan daerah asal dari kekayaan kulinernya.

Alokasikan untuk keperluan lain

Tidak hanya penghematan ongkos pulang kampung, Anda juga tidak harus menyediakan uang saku untuk keponakan atau anak-anak kerabat yang ditemui di kampung halaman.

Artinya, Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji Anda bisa dialokasikan untuk keperluan lainnya. Misalnya memulai tabungan berjangka, atau bahkan membuka rekening deposito. Hal ini akan membuat uang Anda jadi lebih produktif, sekaligus berguna untuk jangka panjang.

Jika ada sisa dari pos pengeluaran Ramadhan dan Lebaran, maka bisa dialokasikan untuk donasi. Walaupun dalam kondisi penyebaran wabah penyakit, badan-badan zakat dan sedekah pasti tetap bekerja. Anda bisa menyalurkan donasi ke badan atau organisasi resmi ini.

Anda bahkan bisa melakukan donasi lewat aplikasi di smartphone, seperti Kitabisa. Anda bahkan bisa membeli bergabung untuk dapatkan perlindungan kesehatan (Kitabisa plus) dengan minimal donasi Rp 10.000. Di mana sistem Kitabisa Plus ini adalah tolong menolong antar donatur, jadi kalau Anda sakit bisa klaim manfaatnya dari fitur ini.

Namun, lebih aman lagi jika Anda memiliki polis asuransi tersendiri yang mengatur manfaat untuk setiap kondisi sakit dan kecelakaan.

Komentar