Konsumsi Rumah Tangga Melemah Pada Kuartal II 2017

Konsumsi Rumah Tangga Melemah Pada Kuartal II 2017

Prtumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2017 tercatat mencapai 5,01 persen. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan bahwa pertumbuhan ini mengalami penurunan kontribusi dari indikator konsumsi rumah tangga.

Terlihat bahwa kontribusi dari konsumsi rumah tangga pada Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 2,56 persen. Sedangkan pada kuartal I 2017 dan kuartal II 2016 mencapai 2,72 persen dari total PDB.

Lalu secara laju pertumbuhan indikator, konsumsi rumah tangga yang tercatat tumbuh hingga 4,95 persen selama kuartal II 2017. Pertumbuhan ini terbilang tipis dari kuartal I 2017 yaitu sebesar 4,94 persen. Sedangkan pada kuartal II 2016, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mencapai 5,07 persen.

Beberapa sektor konsumsi rumah tangga masih mengalami partumbuhan dari kuartal I 2017. Misalnya, konsumsi rumah tangga sektor makanan dan minuman selain restoran masih tumbuh sebanyak 5,24 persen di kuartal II 2017.
Kemudian konsumsi pada sektor pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan yang tumbuh 3,47 persen. Angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kuartal I 2017 yaitu 3,35 persen.

“Daya beli masyarakat masih kuat, bahwa konsumsi rumah tangga itu tidak melemah. Konsumsi rumah tangga semuanya masih tumbuh tinggi, tidak ada yang negatif,” ucap Ketua BPS Suhariyanto.

Konsumsi Melemah

Meskipun pada beberapa sektor ada peningkatan konsumsi, namun pada sektor perumahan dan perlengkapan rumah tangga ada pelemahan yaitu 4,12 persen pada kuartal ini. Padahal pada kuartal I 2017 mencapai angka 4,12 persen.

Pelemahan jugaterjadi pada sektor kesehatan dan pendidikan dengan pertumbuhan 5,4 persen pada kuartal ini.
Sektor transportasi melemah hanya 5,32 persen dibandingkan dengan kuartal I 2017 yitu 5,32 persen.

Oleh karenanya, Suhariyanto mengatakan bahwa pemerintah harus berusaha untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga, terutama bagi keluarga dari kelas menengah ke bawah.

Di sisi lain, Suhariyanto mengatakan bahwa daya beli untuk msyarakat kalangan menengah ke atas masih tinggi walau pertumbuhannya pun masih lambat.

Sebelumnya, pihak Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sempat memperkirakan bahwa konsumsi rumah tangga akan mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari turunnya penjualan ritel pada tahun ini.

[Source]

Komentar