Tips Penting untuk Selesaikan Sengketa Pembagian Harta Gono Gini

Tips Penting untuk Selesaikan Sengketa Pembagian Harta Gono Gini

Harapan dari sebuah pernikahan adalah kehidupan berkeluarga yang bahagia, dan setiap orang hanya menginginkan sekali pernikahan seumur hidupnya. Namun, terkadang harapan ini tidak sesuai dengan kondisi yang ada. Banyak pasangan yang harus bercerai karena permasalahan rumah tangga maupun tekanan lingkungan.

Dalam perceraian, ada dua hal yang sering menjadi perdebatan suami istri, pertama pembagian hak asuh, dan kedua pembagian harta. Oleh karena itu, kami akan mengulas mengenai pembagian harta setelah perceraian.

Pada dasarnya ada tiga jenis harta yang dimiliki pasangan suami istri setelah menikah, yaitu; harta bawaan, harta masing-masing, dan harta gono gini (bersama). Selanjutnya, ulasan pembagian harta ini, akan kami bagi tiga sesuai jenisnya.

Harta bawaan

Harta bawaan merupakan harta yang dimiliki oleh masing-masing suami istri sejak sebelum mereka menikah. Tentu saja setelah bercerai, harta ini tetap menjadi milik pihak yang membawa sebelumnya.

Hal ini sesuai dengan ayat 2 Pasal 35 UU Perkawinan

“(2) Harta bawaan dari masing-masing suami dan isteri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.”

Jika Anda dan pasangan tidak membuat perjanjian apa-apa mengenai harta bawaan sebelum menikah, maka harta yang Anda bawa sebelum menikah tetap menjadi milik Anda.

Harta masing-masing

Selanjutnya, harta masing-masing merupakan harta yang diperoleh suami atau istri setelah menikah. Namun harta ini bukan merupakan hasil patungan kedua belah pihak.

Saat bercerai, harta inipun akan tetap berada di bawah penguasaan pemilik aslinya. Kebingungan kadang terjadi ketika pemakaian adalah bersama. Misalnya, suami membeli mobil dengan uangnya sendiri, namun dipakai bersama dengan si istri. Maka jika bercerai, mobil tersebut tetap milik suami.

Jika ada perjanjian sebelum menikah yang memisahkan antara harta perolehan suami dan istri, maka suami dan istri mendapatkan harta atas nama masing-masing. Dengan demikian, tidak ada harta gono gini.

Untuk aset atau harta, memang sebaiknya pihak yang membeli tetap menyimpan bukti pembayaran untuk memudahkan pembagian jika ada sengketa di masa mendatang. Salah satunya, sengketa harta yang ditimbulkan dari perceraian.

Harta gono gini (harta bersama)

Jenis harta yang terakhir inilah yang sering menimbulkan pertengkaran diantara pasangan yang baru bercerai. Tidak jarang, keluarga dari kedua belah pihak pun terpengaruh untuk ikut campur dalam sengketa pembagian harta gono gini.

Harta bersama atau gono gini sendiri terjadi karena tidak ada perjanjian pemisahan harta. Sehingga sesuai dengan Kitab UU Perdata, sejak perkawinan terjadilah pencampuran harta. Sehingga harta gono gini memang baiknya dibagi sama rata.

Kemudian menurut Pasal 37 Undang Undang Tentang Perkawinan, berbunyi:

“Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing.”

Yang dimaksud dengan “hukumnya masing-masing” adalah hukum agama atau adat yang dianut oleh pasangan.

Tips pembagian harta setelah bercerai

Adapun jika Anda menghadapi masalah pembagian harta gono gini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

Menghitung seluruh harta

Langkah pertama setelah perceraian, atau bahkan saat masih dalam proses perceraian, adalah menghitung harta bersama.

Pastikan Anda mencakupkan seluruh aset yang masuk dalam kategori ini. Angka hasil perhitungan ini nantinya akan memudahkan Anda untuk membagi harta dengan pasangan. Baik itu secara sama rata atau sesuai ketentuan agama yang dianut.

Adapun aset atau harta yang dihitung juga mencakup kendaraan, properti, saham, dan aset lainnya.

Sedangkan, bagi pasangan yang memiliki usaha bersama baiknya diputuskan dulu apakah mau meneruskan usaha tersebut atau tidak. Jika tidak, maka aset usaha bisa dimasukkan dalam perhitungan untuk dibagi dua.

Menjual harta bersama

Menjual harta bersama atau gono gini, bisa menjadi cara untuk memudahkan perhitungan. Hal ini karena menghitung saat aset atau harta menjadi uang tunai memang lebih mudah. Pun dalam proses pembagian, memang akan lebih mudah kalau harta sudah dalam bentuk uang tunai.

Jika masih menginginkan harta yang dijual, maka di kemudian hari Anda bisa membeli kembali.

Pastinya keputusan menjual harta bersama ini haruslah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak. Kalau tidak, akan timbul masalah saat pembagian harta nanti.

Membagi sama rata

Sebenarnya salah satu solusi yang tepat dalam pembagian harta gono gini adalah membagi sama rata antar kedua belah pihak. Langkah ini dapat dilakukan jika pasangan belum dikaruniai anak. Jika sudah ada anak, maka pembagian harta disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Misalnya, pihak yang mendapatkan hak asuh anak seharusnya mendapatkan porsi pembagian yang lebih besar. Hal ini mengingat dia juga harus membiayai dan membesarkan anak.

Seandainya Anda dan pasangan masih ragu dalam pembagian harta bersama yang benar, mintalah bantuan pihak yang ahli, seperti notaris atau tokoh agama setempat.

Walaupun belum umum dilakukan di tengah masyarakat Indonesia, memiliki perjanjian sebelum menikah mengenai pemilikan harta ini penting. Hal ini bisa mencegah sengketa di masa mendatang.

Memang semua orang hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, namun mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk adalah langkah yang tepat dalam setiap situasi.

Simak juga ulasan kami lainnya mengenai kota pesta peernikahan yang murah berikut ini.

Komentar