Membangun Properti Tanpa Menggusur Lahan

Membangun properti tanpa menggusur lahanMembangun properti tidak selamanya harus menggusur, meratakan lahan, atau membabat habis tanaman yang ada. Sebaliknya, membangun properti bisa dilakukan dengan cara yang arif tanpa harus menghilangkan fungsi lahan, apalagi jika di lahan tersebut terdapat banyak tanaman dan pohon yang rindang. Hal itulah yang dilakukan oleh PT PP Properti dalam pengembangan proyek apartemen The Ayoma, Serpong. Menggelontorkan investasi Rp500 miliar, The Ayoma akan bersanding dengan restoran Pecel Madiun yang telah eksis. “The Ayoma akan menyatu dengan keteduhan dan rindangnya pohon-pohon di area ini dan tetap mempertahankan kontur tanah yang berbukit,” ujar Nurjaman, Project Manager The Ayoma. Tak hanya itu, imbuh Nurjaman, The Ayoma dikembangkan dengan nuansa unik di luar pakem (out of the box). Dengan tagline “Beyond Space”, PP Properti berusaha agar setiap bangunan yang diciptakan dapat menjadi tempat yang nyaman, selaras dengan alam sekitar, dan membuat penghuni sehat lahir dan batin. Sementara itu, Lies Kusbandoro, pemilik lahan seluas satu hektare tersebut, menuturkan, tanah tersebut dibelinya pada 1978 silam. “Semula lahan ini kami gunakan untuk membudidayakan anggrek, namun setelah suami saya meninggal, lahan ini saya jadikan tempat menanam aneka pepohonan, hingga akhirnya saya jadikan untuk berjualan Pecel Madiun,” tuturnya. Lies mengatakan, sebelum PP Properti, sudah banyak pihak yang tertarik mengembangkan lahannya tersebut, namun dia tidak tertarik. “Entah mengapa saat PP Properti yang mengajukan, saya setuju. Namun, dengan satu syarat: jangan ada satu pun pohon yang ditebang,” paparnya.

Pengembang dan Kearifan Lokal

Pada kesempatan yang sama, Nirwono Joga, Penggiat Properti Hijau, Arsitek Lansekap, dan Pakar Tata Kota, menguraikan, sudah seyogianya pengembang berkewajiban menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kearifan lokal setempat di mana pun lokasi proyek dibangun. Membangun properti tidaklah seharusnya mengorbankan lahan maupun tanaman yang ada di tempat tersebut. Akan lebih baik bila pengembang menjaga tanaman yang sudah ada dibanding menanam kembali dari awal. “Pengembang dapat menerapkan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam pembangunan huniannya, mulai dari mempertahankan keadaan lingkungan hidup setempat, ekosistem dan habitat alami, dan arsitektur bangunan yang hijau,” imbuh Joga. “The Ayoma dapat menjadi contoh bagi pengembang lain dalam membangun hunian vertikal yang menghargai alam, menjaga keselarasan lingkungan hidup, dan mempertahankan kearifan lokal. Pemerintah harusnya mendukung model membangun properti seperti ini dengan memberikan kemudahan perizinan, keringanan PBB, potongan pembayaran listrik dan air bersih, hingga infrastruktur jalan dan jaringan transportasi publik yang terintegrasi bagi penghuni,” pungkasnya. Sumber: Rumah.com

Komentar