Kopi Milenial: Jawaban Atas Stereotipe untuk Angkatan Milenial

Kopi Milenial: Jawaban Atas Stereotipe untuk Angkatan Milenial

Pembahasan mengenai karakter milenial yang dekat dengan berbagai stereotipe negatif, terutama masalah keuangan.

Bagaimana tidak, banyak pihak yang mencap generasi ini sebagai generasi konsumtif, miskin, dan tidak memikirkan masa depan. Lontaran-lontaran ini muncul baik dari generasi sebelumnya, maupun para milenial sendiri.

Nah, kali ini kami hanya ingin sekedar menjawab cap negatif yang dilekatkan pada generasi milenial ini (kelahiran 1977 – 1994).

Cuitan tentang milenial

Perlu kami akui kebanyakan sumber inspirasi tulisan ini memang berasal dari cuitan orang-orang di luar di Indonesia. Hal ini karena kebanyakan cuitan milenial di Indonesia adalah cuitan bernada politis atau bersifat kampanye politik.

Berikut adalah beberapa cuitan milenial yang berisi jawaban mereka pada kritikan atas generasinya.

tweet millenial 1

“Siapapun yang mengatakan milenial semaunya sendiri pasti tidak pernah melayani seorang baby boomer di restoran.”

millenial's tweet 2

“Forbes : Para milenial mematikan toko swalayan.

Target, TJ Maxx, dan Marshall’s : Kamu yakin?”

millenial's tweet 3

“Permasalahan tentang “milenial tidak mengetahui keahlian yang mendasar” dikarenakan para orang tua yang tidak mau repot mengajarkannya ke anak-anak mereka dan mengira sekolah akan mengajarkannya.

lmao (haha) orang tua kalian yang harusnya mengajarkan bagaimana mengganti ban mobil, bukan guru sejarah kalian.”

millenial's tweet

“84% milenial tidak mempercayai iklan tradisional.”

Nah, cuitan di atas merupakan contoh jawaban beberapa milenial yang jengah dengan segala tuduhan dan stereotipe generasi lebih tuan akan karakter mereka. Dimana karakter milenial dianggap sebagai pengaruh terbesar tren ekonomi dunia.

Stereotipe milenial yang melelahkan

Jika Anda pernah membaca artikel kami tentang karakter finansial para milenial, pasti sedikit banyak bisa dipahami mengapa perilaku finansial mereka berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya.

Hanya saja, masih banyak orang yang melekatkan stereotipe negatif bagi kehidupan finansial generasi ini. Pastinya, banyak diantara “tuduhan” ini melelahkan bagi para milenial.

Foya-foya

Benarkah milenial suka foya-foya? Kalau mau jujur semua generasi juga memiliki orang-orang yang suka foya-foya. Coba sebutkan budaya mana yang tidak punya seni hiburan?

Kesan ini menempel pada milenial karena orientasi finansial mereka yang tidak sama dengan baby boomer (orang tua para milenial). Jika generasi terdahulu dan milenial awal (1977-awal 1980an) inginkan kehidupan mapan, maka generasi milenial akhir 1980an – 1994 ingin kehidupan yang bahagia.

Kalau dipikir-pikir lagi, dengan lahan yang makin sempit, persaingan kerja makin tinggi, namun gaji generasi ini makin kecil, menjadikan para milenial muda memilih untuk menikmati waktu yang ada daripada stres karena putus asa akan masa depan mereka.

Ingat, bahwa angka gaji yang besar juga dibarengi dengan inflasi. Hal inilah yang membuat penghgasilan milenial terasa lebih kecil jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Jadi nasihat yang dimulai dengan ekspresi “Bapak/Ibu dulu…..” tidak akan mempan karena zaman sudah berubah.

Tidak mampu membeli rumah

Tidak hanya generasi terdahulu yang mengeluhkan kemampuan milenial dalam memiliki rumah sendiri, para milenial juga mengeluh karena kesulitan memiliki rumah.

Bagaimana tidak? Lahan semakin sempit, kriteria kredit makin ketat,  tapi penghasilan makin sedikit. Memang salah jika milenial menyalahkan keadaan tanpa berusaha. Tapi tidak benar juga jika milenial disalahkan sepihak tanpa memperhatikan kondisi yang ada.

Etos kerja yang buruk

Etos kerja yang buruk tidak hanya milik satu generasi, tapi setiap generasi ada orang-orang yang memiliki etos kerja buruk. Kalau mau jujur, tradisi menyuap dan mengambil keuntungan menggunakan hirarki sosial lebih banyak dilakukan generasi sebelum milenial 80an.

“Tuduhan” ini memang muncul karena banyak milenial yang dianggap pemalas. Mereka memilih berhenti bekerja karena situasi yang tidak membuat mereka nyaman, daripada bertahan demi uang. Selain itu, milenial juga memilih cara kerja hidup praktis yang merupakan pengaruh dari kemajuan teknologi.

Mmm…..jika itu alasannya, maka bukan etos kerja milenial yang buruk. Tapi generasi sebelumnya yang belum bisa menerima orientasi kerja para milenial.

Jadi, daripada saling menyalahkan antar generasi, bagaimana kalau membuat keadaan menjadi lebih baik untuk generasi ini dan generasi mendatang. Jangan lupa bahwa setiap zaman memiliki generasinya sendiri, ungkapan ini berlaku untuk apa saja termasuk aspek finansial.

Komentar