Langgar 5 Nasihat Finansial Ini Jika Ingin Hidup Lebih Sejahtera

Langgar 5 Nasihat Finansial Ini Jika Ingin Hidup Lebih Sejahtera

Banyak fasilitas keuangan yang sudah menggunakan platform digital, namun bukan berarti sudah tidak ada orang Indonesia yang masih menggunakan cara lama dalam mengatur uangnya.

Berikut adalah beberapa kebiasaan dan nasihat finansial yang digunakan oleh orang tua kita dulu. Namun saat ini, cara pengaturan keuangan seperti ini sudah tidak bisa diterapkan lagi.

Menyimpan uang di rumah

Jangan dikira sudah tidak ada lagi orang yang menimbun uangnya di rumah. Baru-baru ini ada cerita viral tentang seorang wanita yang menyimpan uangnya sebesar Rp 10 juta di lemari. Akhirnya tumpukan uang itu pun dimakan rayap.

Memiliki celengan bukanlah ide yang buruk. Namun jika tabungan Anda berjumlah ratusan ribu atau jutaan, maka celengan bukan solusi yang terbaik.

Jika uang Anda rusak, tidak bisa lagi digunakan. Bahkan, kalau kerusakannya parah, tidak bisa ditukarkan ke bank. Jadi risiko kehilangan uang sia-sia akan lebih besar.

Selain itu, menyimpan uang tunai di rumah menjadikan uang Anda tidak produktif. Sudah tersedia produk tabungan yang bisa memberikan keuntungan lebih seperti tabungan berjangka dan deposito. Anda bisa menggunakan jenis tabungan ini jika masih ragu untuk berinvestasi seperti membeli saham atau reksadana.

perhiasan

Membeli banyak perhiasan emas untuk investasi

Para ibu zaman dulu memang suka membeli perhiasan emas sebagai bentuk investasi, dan seringkali nasihat membeli perhiasan ini kita dengar dari keluarga dan teman. Perhiasan-perhiasan ini hanya disimpan di rumah, karena memang sewaktu-waktu dipakai.

Menyimpan perhiasan emas di rumah sangat berisiko karena rawan menjadi sasaran kejahatan. Dari tahun ke tahun sudah banyak kasus perampokan rumah yang memakan korban. Perampokan ini terjadi karena pelaku mengincar simpanan perhiasan korban.

Selain masalah keamanan, sebenarnya perhiasan emas memiliki harga beli yang lebih mahal. Alasannya, karena ada biaya pemrosesan yang lebih pada perhiasan. Mulai dari desain hingga pengerjaannya.

Kemudian, jangan anggap harga perhiasan emas akan selalu mahal atau naik. Naik turun harga perhiasan emas ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Seperti, campuran yang ada pada perhiasan, model perhiasan, kualitas, hingga pasaran harga emas saat itu.

Oleh karenanya, memiliki perhiasan emas sebagai investasi bukanlah solusi keuangan yang aman. Jika Anda membeli perhiasan, sebaiknya tidak berlebihan. Kemudian jika Anda ingin berinvestasi dalam bentuk emas, bisa mengunjungi Pegadaian, atau lembaga resmi lainnya.

Membeli barang-barang yang terkena depresiasi

Memiliki telepon genggam atau kendaraan merupakan bagian dari kebutuhan. Namun bukan berarti Anda menjadi “budak” tren dan membeli telepon genggam atau kendaraan mahal tanpa perhitungan yang benar. Ingat, kendaraan serta peralatan elektronik merupakan barang-barang yang terkena depresiasi. Artinya, harganya akan terus turun dari tahun ke tahun.

Hal ini menyebabkan kendaraan dan barang-barang elektronik bukanlah investasi yang baik. Jadi, daripada menghabiskan uang untuk membeli mobil atau telepon genggam model terbaru, lebih baik alokasikan uang Anda untuk investasi yang sebenarnya.

Belilah kendaraan atau telepon genggam murah, namun masih layak dipakai. Kemudian, kumpulkan dana untuk investasi sebenarnya. Baik itu untuk membeli properti seperti tanah dan rumah, atau sebagai dana investasi di lembaga keuangan.

Satu hal lagi yang harus diingat, jangan sampai Anda berhutang untuk membeli barang-barang yang terkena depresiasi, teruatama perlengkapan elektronik. Selain masalah terlilit hutang, pinjaman seperti ini tidaklah produktif.

Kalaupun Anda harus membelinya dengan kredit, pastikan cicilannya tidak di luar kemampuan, tidak lebih dari 20% penghasilan.

Tidak mengenalkan uang pada anak

Ternyata masih ada orang tua yang takut mengenalkan uang pada anaknya. Alasannya, takut anaknya menjadi boros atau serakah. Akibatnya, anak-anak tidak memiliki konsep finansial dan terbiasa bergantung pada orang tuanya.

Menurut para ahli, mengenalkan uang pada anak sejak dini merupakan bagian dari pendidikan finansial yang penting. Ada beberapa tahapan dalam pengenalan uang. Tahapan-tahapan ini disesuaikan dengan usia anak.

Selain itu, anak-anak juga sebaiknya diajarkan tentang bertransaksi. Caranya bisa menggunakan permainan, atau mengajak mereka untuk berbelanja. Tujuannya, supaya mereka bisa memiliki gambaran tentang kegiatan berbelanja yang baik. Nantinya, mereka akan terbiasa untuk tidak bersikap boros dalam menggunakan uang jajan.

Bekal kemampuan ini juga penting bagi mereka ketika nanti harus berpisah dari orang tuanya. Apapun profesi mereka nanti, kemampuan untuk mengatur uang bisa membantu mereka meraih masa depan yang lebih baik.

Berkeluarga tanpa rencana

Menikah dianggap sebagai tahapan kehidupan yang penting dalam budaya Indonesia. Jika Anda sudah menginjak umur 25 tahun, terutama perempuan, pasti keluarga dan teman akan bertanya “kapan nikah?”.

Tekanan sosial dan keluarga menjadikan banyak orang yang menikah tanpa perencanaan keuangan yang matang. Hal ini karena pada dasarnya, Anda memang tidak perlu menunggu mapan untuk menikah. Tapi, Anda harus punya perencanaan menuju kemapanan finansial di masa depan.

Apalagi, jika Anda berencana segera memiliki momongan. Maka perencanaan finansial tidak bisa dianggap sepele atau ditunda. Ingat, pertumbuhan anak tidak bisa dihambat. Mereka membutuhkan pendidikan, layanan kesehatan, dan juga pemenuhan kebutuhan hidup lainnya.

Jadi, jangan sampai tekanan lingkungan menjadikan Anda lupa dengan perencanaan keuangan saat memutuskan untuk berkeluarga. Prinsip “rezeki di tangan Tuhan” bukan berarti Anda boleh menyepelekan perencanaan finansial.

Lima nasihat keuangan yang masih sering kita dengar di atas sudah tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupan finansial saat ini. Namun semuanya harus disaring lagi, mana nasihat yang bisa diterapkan dan mana yang tidak.

Temukan referensi untuk tips keuangan di artikel kami lainnya. Salah satunya, tips mengatur keuangan setelah Anda menikah.

Komentar