Ngobrol Soal Musik Indonesia Hingga Wejangan Kikan Untuk Musisi Baru

Ngobrol Soal Musik Indonesia Hingga Wejangan Kikan Untuk Musisi Baru

Bagi Anda remaja 90an dan awal 2000 pasti mengenal nama Kikan Namara. Kali ini Aturduit.com mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan mantan vokalis Cokelat ini mengenai ekonomi kreatif, terutama industri musik Indonesia.

Bicara tentang ekonomi kreatif, kontribusi sektor ini ke Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2018 diperkirakan akan mencapai Rp 1.000 triliun. Sisi lain yang menarik dari topik ini adalah kebanyakan orang usia produktif di Indonesia lebih suka bekerja di sektor kreatif, apapun bidangnya.

Musik sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif di Indonesia yang juga memiliki perannya tersendiri di tengah masyarakat Indonesia. Saat ini, masih banyak anak muda di Indonesia yang ingin menggeluti bidang ini.

Berikut ini adalah beberapa poin dari industri musik yang menarik untuk disimak.

Teknologi dalam industri musik

Pertama-tama, kami bernostalgia bagaimana di masa perkembangan teknologi digital belum pesat mempengaruhi semua segi kehidupan manusia. Tepatnya di masa kaset dan kepingan CD masih menjadi sarana utama untuk mendengarkan seluruh album milik artis kesayangan.

Di masa-masa inilah bagi para fans yang menyukai penyanyi dari negara lain, mereka harus menunggu kepingan-kepingan kaset dan CD diimpor dulu ke negaranya. Jangankan yang beda negara, para penggemar di daerah pun harus menunggu lama untuk mendapatkan copy album penyanyi kesayangan mereka yang ada di Jakarta.

Nah, pastinya bagi generasi yang lahir di awal 2000an tidak sempat merasakan momen ini.

“Sekarang platform beralih ke digital”, tutur Kikan. Dimana semua orang di seluruh dunia bisa langsung mendengarkan begitu album atau single diluncurkan.

Kondisi ini memiliki sisi positif dan negatifnya tersendiri. Berikut pandangan Kikan lebih jauh lagi mengenai dua sisi konsekuensi teknologi ini.

Sisi baik

Adanya sarana digital yang makin berkembang saat ini, seperti media sosial dan YouTube, memungkinkan siapa saja untuk menjadi musisi profesional. Bahkan mereka yang merupakan musisi indie memiliki akses lebih luas untuk memasarkan karyanya.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa lagu yang menjadi viral lewat YouTube. Kita ambil contoh saja lagu “Karna Su Sayang” yang dibawakan Dian Sorowea dan Near. Lagu ini sudah mencapai lebih dari 75 juta views di YouTube. Bahkan nama besar seperti Via Vallen pun membuat covernya. Selain itu, banyak penyanyi YouTube lainnya yang membuat cover lagu ini dalam berbagai versi, seperti versi ska dan Bahasa Indonesia. Sebagai informasi, lagu ini merupakan lagu dengan aksen Indonesia Timur, karena asal si pencipta lagu adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Inilah yang dimaksud Kikan “betapa kuatnya jika karya itu punya kualitas,”. Dimana walaupun tidak semua orang Indonesia paham dengan bahasanya, namun kualitas lagu lah yang membuat siapapun menikmati karya asal anak muda NTT ini.

Selain itu, Kikan pun memberi contoh lain seperti grup musik gambus Sabyan yang besar di YouTube. Pengunjung videonya berjumlah hingga ratusan juta.

Kedua contoh di atas menunjukkan bahwa saat ini, dengan bantuan teknologi, siapa saja bisa memulai karir musiknya. Bahkan, memiliki saluran dan massa sendiri.

Sisi negatif

Tentunya kehadiran teknologi dalam industri musik juga disertai dengan sisi negatif, salah satunya adalah illegal download .

Kerugian industri rekaman Indonesia mencapai Rp 14 triliun setahun akibat illegal download ini. Tentunya kerugian ini juga diderita oleh industri perfilman yang mengalami kerugian sekitar Rp 4 milar untuk setiap film yang dibajak.

Mengenai hal ini, Kikan memiliki dua harapan. Yang pertama, pemerintah diharapkan melakukan tindakan tegas untuk melindungi karya seniman Indonesia. Kedua, masyarakat harus paham bahwa menikmati karya seseorang secara ilegal akan merugikan pihak seniman dan industri kreatif.

pertunjukan musik

Nasihat Kikan untuk musisi baru

Tidak lengkap rasanya kalau obrolan kami tidak ditambahkan dengan topik ini. Oleh karenanya, kami mulai dengan bertanya bagaimana pengalaman Kikan saat merintis karirnya di dunia musik.

“Justru di era-era itu bisa sering saya inget.”

“Saya inget betul untuk sewa studio, urunan harus nabung dulu.”

“Dibohongin, tahun 1999, pernah dibilang untuk tampil di acara Pensi. Mau dibayar Rp 150.000,” lanjutnya. Sisa cerita ini pasti Anda tahu, si panitia tidak bisa dihubungi dan akhirnya mereka pun tidak dibayar.

“Diminta tampil, tapi panitiannya tidak punya budget. Dibayar pake nasi bungkus.”

Namun ia pun menyadari bahwa fase inilah yang membuat dirinya menghargai hasil kerjanya, serta orang-orang di sekelilingnya.

Kikan pun berharap para musisi baru pun bisa belajar dari pengalaman ini. Ia pun menggunakan kesempatan ini untuk berpesan pada musisi muda Indonesia.

“Satu hal yang penting untuk temen2 musisi ketahui adalah tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan akhir, popularitas hanya bonus, bagaimana musik yang kalian dimainkan bisa influence banyak orang, bisa menginspirasi orang. “

Pesan ini rasanya wajar diutarakan mengingat dunia hiburan merupakan industri yang dinamis. Sekedar terkenal tidak akan meninggalkan bekas yang berarti bagi masyrakat, dan akhirnya karirnya tidak bisa dipertahankan.

 

Optimis untuk musisi di daerah dan musisi indie

Dalam topik ini pun kami menyinggung mengenai perkembangan musisi di daerah. Hal ini mengingat semua sarana untuk masuk dan menggeluti industri musik terpusat di Jakarta.

Kikan mengapresiasi inisiatif musisi indie yang membangun branding dirinya. Baik itu dengan mengeluarkan souvenir, atau memproduksi CD dan vinyl selain merilis lagunya lewat platform digital.

“Hari ini seorang musisi, tidak hanya cukup memikirkan bagaimana dia membuat karya, tapi ada mesin-mesin yang membangun bisnisnya”, lanjutnya.

Ia pun melanjutkan pandangannya mengenai musisi di daerah.

“Untuk temen-temen, musisi-musisi di daerah, harusnya paham dulu pemetaan industri musik di Indonesia, musisi harus masuk ke label untuk apa?”

Memang perlu disadari bahwa label atau agensi mainstream memiliki janringan yang luas. Mereka pun mendukung para artisnya saat melakukan promosi.

Namun sarana promosi pun tidak sebanyak dulu. “Sebetulnya musisi Indonesia tidak punya platform untuk mereka melakukan promosi”. Ia pun melanjutkan dengan mengatakan ujung tombak untuk musik Indonesia adalah radio.

“Bangun kekuatan di daerah kalian, bikin komunitas yang mendukung. Bisa membuat event kecil-kecilan.”

Di beberapa daerah sudah ada festival musik yang bisa menjadi sarana promosi musisi daerah. Seperti Rock In Celebes dan Rock In Solo yang bisa menjadi atraksi bagi masyarakat luas. Pemerintah Daerah diharapkan bisa mendukung perkembangan musik di daerahnya masing-masing, sehingga musisi daerah memiliki sarana untuk membangun fanbasenya.

Namun pernyataan Kikan, “apapun platformnya, ujung2nya semua kembali pada karya”, rasanya tidak berlebihan.

Jadi untuk para musisi baru dimana pun Anda berada, jangan takut mencoba.

“Ketakutan itu wajar, aku percaya bahwa ikhtiar disertai doa pasti ada jalannya.”

“Orang baru kenal dari lagu Karma, album pertama gak ada yang tahu”, lanjutnya mengingat bahwa hit single mereka, Karma, adalah album kedua.

Dengan adanya bantuan teknologi seperti saat ini, jika karya tersebut memiliki kualitas, pastinya akan dikenal masyarakat luas. Apapun Bahasa yang digunakan. Bahkan karya yang bagus dari daerah bisa menyatukan seluruh bangsa. Contohnya, Poco-Poco asal Manado yang menjadi lagu dan tarian favorit seluruh Indonesia.

Tips keuangan bagi para milenial

Tidak lupa juga ada beberapa tips keuangan dari Kikan buat Anda para pelaku Industri kreatif Indonesia, terutama para musisi muda.

Menabung

Kikan menyadari masih banyak anak muda di Indonesia yang menjalani kehidupan rock n roll. Tidak memikirkan masa depan, dan berfikir bahwa di lain hari ia akan tetap mendapatkan uang dengan mudah.

Namun perlu diketahui bahwa setiap penghasilan yang diterima harus disisihkan untuk tabungan, asuransi, dan uang kas. Yang ia maksud dengan uang kas adalah uang darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ia pun menambahkan, baik sebagai grup atau solo, uang kas harus dimiliki seorang musis.

“Banyak kejadian, temen2 seniman yang di hari tuanya karena hidup tanpa punya tabungan.”

Investasi

“Di saat kamu punya uang, mau muterin dalam bentuk bisnis atau investasi.”

Ada berbagai bentuk investasi yang, menurutnya, banyak dilakukan para musisi dan efektif. Yaitu, membeli alat musik dan membeli tanah. Kedua hal ini memiliki nilai yang tidak turun, jika di masa depan akan dijual kembali.

Financial planner (perencana keuangan)

Jika Anda memiliki penghasilan berlimpah, coba gunakan jasa perencana keuangan. Mereka bisa membantu Anda mengatur keuangan untuk masa depan, dan saat ini.

“Betapa menguntungkannya punya financial planner,” ungkap Kikan saat menceritakan pengalaman para musisi yang menggunakan jasa mereka.

Diskusi yang inspiratif ini pun diakhiri dengan harapan kami untuk kesuksesan Kikan di tahun 2019 nanti. Bocoran, Kikan berencana merilis single dan album di tahun 2019.

Untuk Anda yang ingin berkecimpuk di industri kreatif, apapun bidangnya, bisa jadikan usaha para artis ini sebagai referensi.

 

Sumber gambar: cybertokoh.com

Komentar