Panduan Eksklusif!

Panduan Komprehensif untuk Produk, Layanan, dan Perbankan di Indonesia

Cari tahu informasi umum seputar sistem, tugas, fungsi, tujuan, produk dan layanan dari bank-bank terbesar di Indonesia.

Suku Bunga Perbankan – Cara Kerja, Jenis dan Kalkulasi

Dalam kehidupan sehari-hari kata suku bunga bukanlah sesuatu yang asing lagi. Baik itu dari pinjaman ataupun tabungan, unsur suku bunga akan selalu berada di produk-produk perbankan dan akan mempengaruhi nasabah. Jika ingin mendapatkan pinjaman yang termurah maka nasabah akan perlu mencari kredit dengan suku bunga rendah. Sedangkan jika ingin mencari tabungan paling menguntungkan maka nasabah perlu mencari tabungan bunga tertinggi.

Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang atau harga dari penggunaan uang. Jadi bunga itu dapat dikatakan kompensasi yang diberikan dari sang peminjam uang kepada pemberi pinjaman atas ketersediaannya meminjamkan uang.

Seperti contohnya, imbal jasa dari pengambilan uang untuk Kredit Tanpa Agunan (KTA) adalah bunga yang ditagihkan, dimana bunga bertindak sebagai “harga” dari mendapatkan uang dalam jumlah penuh sekarang dan membayarnya secara cicilan. Persentase dari pokok pinjaman yang dibayar sebagai bunga dikenal sebagai suku bunga.

Tetapi bagaimana dengan suku bunga simpanan? Apakah konsep bunga itu berbeda di simpanan? Tidak! Sebenarnya simpanan merupakan pinjaman juga, akan tetapi dari nasabah untuk bank. Sehingga bank harus memberikan imbalan jasa atas pinjaman yang nasabah berikan dan imbalan tersebut berupa bunga. Untuk pemahaman lebih lanjut, berikut penjelasan perbandingannya.

Perbandingan suku bunga kredit dan suku bunga simpanan

Suku bunga simpanan merupakan suku bunga yang diberikan kepada nasabah sebagai balas jasa dari penyimpanan uangnya di bank. Tujuan dari suku bunga simpanan untuk mendorong nasabah agar tertarik menempatkan dananya di bank. Suku bunga simpanan untuk setiap produk bank akan berbeda. Sebagian produk simpanan seperti deposito akan lebih tinggi daripada tabungan. Hal ini disebabkan karena tabungan memiliki sifat yang sangat fleksibel, dimana nasabah dapat menarik uang tersebut kapanpun dia inginkan sedangkan deposito tidak.

Sedangkan suku bunga kredit merupakan suku bunga yang ditagihkan dari nasabah sebagai balas jasa atas meminjam uang dari bank. Suku bunga kredit merupakan sumber pendapatan bagi bank, sedangkan suku bunga simpanan merupakan beban pengeluaran untuk bank. Oleh sebab itu, bank akan menagihkan suku bunga kredit lebih tinggi daripada suku bunga pinjaman. Dengan margin perbedaan suku bunga pinjaman dan suku bunga simpanan tersebut maka bank dapat memperoleh keuntungan dan mempertahankan operasionalnya sehari-hari. Alasan lain mengapa suku bunga kredit biasanya lebih tinggi, karena bank memerlukan kompensasi lebih untuk menanggung resiko jika nasabah tidak mampu membayar pinjaman tersebut.

Kedua suku bunga ini berkaitan erat di sistem perbankan. Masing-masing bunga mempengaruhi satu sama lainnya, jadi jika terjadi kenaikan pada suku bunga simpanan maka suku bunga kredit juga akan naik.

Cara kerja bunga

Suku Bunga Perbankan

Sebelum mengetahui cara kerja bunga, Anda perlu memahami bahwa dari setiap pinjaman akan tersedia jumlah pokok pinjaman. Jumlah pokok pinjaman merupakan total awal dari pinjaman yang diperoleh. Dalam hal simpanan berarti jumlah awal uang yang nasabah simpan. Bunga dihitung berdasarkan dari perkalian suku bunga dengan jumlah pokok pinjaman. Dalam hal pinjaman bunga akan dibayarkan sepanjang periode dengan cicilan pokok pinjaman. Sedangkan untuk simpanan maka bunga akan dibayarkan di akhir periode yang telah disetujui antara bank dan nasabah.

Jenis suku bunga di perbankan Indonesia

Setelah mengetahui adanya dua bentuk bunga yang berperan penting di perbankan. Maka untuk jenis-jenisnya pun akan berbeda untuk masing-masing bentuk bunga tersebut. Pertama marilah kita lihat jenis suku bunga kredit.

Jenis suku bunga kredit

Berdasarkan sifatnya ada dua jenis suku bunga kredit yang berlaku di Indonesia yakni suku bunga tetap dan suku bunga mengambang.
  1. Suku bunga tetap (fixed)

Seperti namanya yang dimaksud dengan suku bunga tetap (fixed) adalah suku bunga yang jumlahnya tidak berubah selama periode kredit. Umumnya besar suku bunga ini dicantumkan secara jelas di perjanjian kredit bahwa suku bunga tidak akan berubah hingga akhir periode kredit. Sebagai contoh jika suku bunga kredit ditetapkan antara bank dan nasabah adalah 10% maka sepanjang periode cicilan kredit perhitungan bunga berdasarkan suku bunga 10%.

Keuntungan dari suku bunga tetap adalah ketika suku bunga pasaran meningkat maka jumlah bunga yang perlu dibayarkan nasabah tidak meningkat. Nasabah masih tetap membayar cicilan yang sama. Sedangkan sebaliknya jika suku bunga pasaran menurun maka inilah kerugiannya. Nasabah harus membayarkan bunga lebih tinggi dari pasaran. Produk bank yang menggunakan suku bunga ini antara lain adalah KTA, kredit pemilikan rumah (KPR) (pada beberapa periode pertama), kredit motor, kredit mobil dan kredit jangka pendek lainnya.

  1. Suku bunga mengambang (floating)

Suku bunga mengambang merupakan suku bunga yang selalu berubah-ubah dari periode ke periode berdasarkan dengan dinamika suku bunga pasaran. Jadi apabila suku bunga pasaran naik maka suku bunga kredit untuk produk tersebut akan naik juga, begitu juga sebaliknya. Keuntungan dari sifat suku bunga ini, tentunya nasabah tidak perlu khawatir akan resiko apakah suku bunga nasabah terlalu tinggi dibandingkan pasaran atau terlalu rendah. Sedangkan kerugiannya, nasabah tidak dapat menikmati keuntungan kompetitif dari suku bunga pasaran seperti dari suku bunga fixed.

Suku bunga ini sering ditetapkan untuk produk bank seperti KPR setelah periode suku bunga tetap (fixed) berlalu, kredit modal kerja, usaha ataupun kredit jangka panjang lainnya.

Jadi untuk KPR bank akan menerapkan kedua jenis suku bunga diatas. Seperti contohnya suku bunga KPR dua tahun pertama bersifat tetap 8% dan tahun kemudiannya bersifat mengambang berdasarkan suku bunga pasaran. Periksa penjelasan tentang suku bunga KPR untuk pemahaman lebih lanjut.

Berdasarkan perhitungannya ada tiga jenis suku bunga kredit yang tersedia di sistem perbankan Indonesia. Berikut penjelasan ketiga jenis suku bunga tersebut.
  1. Suku bunga flat

Suku bunga flat adalah jenis suku bunga yang perhitungan bunganya dikalkulasikan dari jumlah pokok awal pinjaman untuk setiap periode cicilan. Sedangkan untuk pokok pinjaman akan dibagikan atau dicicilan secara proposional berdasarkan jangka waktu kredit. Jadi suku bunga ini memiliki ciri-ciri jumlah bunga dan cicilan pokok yang tetap, sehingga angsurannya sama untuk setiap bulannya.  Sebagai contoh ilustrasi:

Pokok pinjaman: Rp 72.000.000. Bunga flat: 12% / tahun. Jangka waktu: 3 tahun (36 bulan). Perhitungan, Cicilan pokok pinjaman per bulan = pokok pinjaman / jangka waktu = Rp 72.000.000 / 36 bulan = Rp 2.000.000. Bunga pinjaman per bulan = pokok pinjaman x bunga / 12 bulan = Rp 72.000.000 x 12% / 12 bulan = Rp 720.000. Total angsuran = Rp 2.000.000 + Rp 720.000 = Rp 2.720.000.

Jadi total angsuran yang perlu dibayarkan nasabah setiap bulannya hingga 3 tahun berakhir adalah Rp 2.720.000. Suku bunga flat diterapkan untuk produk perbankan seperti KTA, kredit motor dan kredit mobil.

  1. Suku bunga efektif

Suku bunga efektif merupakan kebalikan dari suku bunga flat. Jadi perhitungan bunganya dikalkulasikan dari sisa jumlah pokok pinjaman. Dengan demikian, jumlah porsi bunga yang dibayarkan akan menurun sedangkan porsi cicilan pokok pinjaman tetap, sehingga angsuran akan menurun setiap bulannya. Umumnya sistem bunga efektif ini diterapkan untuk produk kredit perbankan seperti kredit rumah, kredit investasi ataupun kredit dengan agunan.

Sebagai contoh ilustrasi:

Angsuran bulan pertama. Pokok pinjaman: Rp 72.000.000. Bunga efektif: 12% / tahun. Jangka waktu: 3 tahun (36 bulan). Perhitungan - Cicilan pokok pinjaman = pokok pinjaman / jangka waktu = Rp 72.000.000 / 36 bulan = Rp 2.000.000. Bunga pinjaman bulan pertama = pokok pinjaman x bunga / 12 bulan = Rp 72.000.000 x 12% / 12 bulan = Rp 720.000. Total angsuran bulan pertama = Rp 2.000.000 + Rp 720.000 = Rp 2.720.000. Sisa pokok pinjaman = Rp 72.000.000 – Rp 2.000.000 = Rp 70.000.000. Jadi total angsuran yang perlu dibayarkan nasabah untuk bulan pertama adalah Rp 2.720.000. Dan sisa pokok pinjaman setelah angsuran bulan pertama akan berkurang Rp 2.000.000 sehingga menjadi Rp 70 Juta. Angsurang bulan kedua. Cicilan pokok pinjaman = pokok pinjaman / jangka waktu = Rp 72.000.000 / 36 bulan = Rp 2.000.000. Bunga pinjaman bulan kedua = sisa pokok pinjaman x bunga / 12 bulan = Rp 70.000.000 x 12% / 12 bulan = Rp 700.000. Total angsuran bulan kedua = Rp 2.000.000 + Rp 700.000 = Rp 2.700.000. Sisa pokok pinjaman = Rp 70.000.000 – Rp 2.000.000 = Rp 68.000.000. Jadi untuk angsuran bulan kedua (Rp 2.700.000) akan lebih rendah dibandingkan angsuran bulan pertama (Rp 2.720.000) begitu juga untuk bulan ketiga dan seterusnya.

  1. Suku bunga anuitas

Suku bunga anuitas merupakan modifikasi dari suku bunga efektif dengan jumlah angsuran yang sama untuk setiap bulannya. Cara perhitungan suku bunga anuitas sama dengan suku bunga efektif dimana bunganya dikalkulasikan dari sisa jumlah pokok pinjaman. Akan tetapi untuk membuat jumlah angsuran yang sama setiap bulannya, maka jumlah porsi bunga yang dibayarkan akan menurun sedangkan porsi cicilan pokok pinjaman meningkat. Jadi pada awal angsuran, pembayaran porsi bunga akan lebih besar kemudian perlahan-lahan mengecil di akhir jangka waktu.

Tujuan modifikasi ini sebenarnya agar nasabah tidak pusing dengan berubah-ubah jumlah angsuran setiap bulannya. Oleh sebab itu bank lebih sering menggunakan suku bunga anuitas untuk pinjaman yang sama dengan suku bunga efektif seperti kredit rumah, kredit investasi dan kredit dengan agunan.

Sebagai contoh ilustrasi maka dapat menggunakan contoh pinjaman sebelumnya. Untuk menghitung angsuran tetap maka harus menggunakan rumus:

M=P 〖r(1+r)〗^n/(〖(1+r)〗^n -1)

M adalah angsuran per bulan

P adalah pokok pinjaman = Rp 72.000.000

r adalah suku bunga kredit bulanan = 12%/12 = 1%

n adalah jangka waktu dalam bulan = 36 bulan

Maka angsuran per bulan dari bunga anuitas tersebut akan menjadi

M=72.000.000 〖0,01(1+0,01)〗^36/(〖(1+0,01)〗^36-1)=Rp 2.391.430,31

Angsuran bulan pertama. Porsi bunga yang dibayarkan = pokok pinjaman x bunga / 12 bulan = Rp 72.000.000 x 12% / 12 bulan = Rp 720.000. Sedangkan porsi cicilan pokok yang dibayarkan adalah Rp 2.391.430,31 – Rp 720.000 = Rp 1.671.430,31. Jumlah sisa pokok pinjaman = Rp 72.000.000 – Rp 1.671.430,31 = Rp 70.328.569,69. Angsuran bulan kedua. Porsi bunga yang dibayarkan = sisa pokok pinjaman x bunga / 12 bulan = Rp 70.328.569,69 x 12% / 12 bulan = Rp 703.285,70. Sedangkan porsi cicilan pokok yang dibayarkan adalah Rp 2.391.430,31 – Rp 703.285,70 = Rp 1.688.144,61.

Jadi seperti yang dapat diperhatikan jumlah angsuran akan tetap setiap bulannya sedangkan porsi bunga yang dibayarkan akan menurun sedangkan porsi cicilan pokok pinjaman meningkat.

Jenis suku bunga simpanan

Suku bunga simpanan tidak memiliki sifat dan perhitungan yang serumit suku bunga kredit. Jenis suku bunga simpanan dapat dibagi menjadi dua, berikut diantaranya:

  1. Simpanan tabungan

Kita semua tahu bahwa tabungan merupakan simpanan yang bersifat sangat fleksibel. Nasabah dapat melakukan penarikan jumlahnya kapanpun mereka inginkan dari ATM (automated teller machine). Jadi bagaimanakah perhitungan bunga yang diberikan bank jika jumlahnya tidak pernah tetap hingga akhir bulan? Suku bunga simpanan tabungan dapat dihitung melalui tiga pendekatan yakni berdasar saldo terendah, saldo rata-rata dan saldo harian.

Pendekatan saldo terendah merupakan perhitungan bunga yang mengacu pada saldo terendah di bulan pelaporan. Seperti contohnya bank menjanjikan bunga simpanan sebesar 5%/tahun dan berikut transaksi yang terjadi pada bulan Juli 2017.

TanggalKet Debet Kredit Saldo
01/07/2017Saldo awal10.000.00010.000.000
07/07/2017 Setoran tunai1.000.00011.000.000
15/07/2017Tarik tunai2.000.0009.000.000
17/07/2017Tarik tunai3.000.000 6.000.000
21/07/2017Setoran tunai1.000.0007.000.000
29/07/2017Setoran tunai 5.000.000 12.000.000

Maka berdasarkan mutasi rekening tabungan tersebut, saldo terendah adalah Rp 6.000.000 untuk periode Juli 2017. Maka kalkulasi bunga yang diterima nasabah adalah Rp 6.000.000 x 5% / 12 bulan = Rp 25.000

Pendekatan saldo rata-rata adalah perhitungan bunga yang mengacu pada saldo rata-rata harian pada bulan pelaporan. Maka perhitungan bunga tabungan tersebut dapat dihitung dengan rumus:

Bunga = saldo rata-rata harian x suku bunga bank x jumlah hari / 365

Berdasarkan ilustrasi sebelumnya berikut perhitungan saldo rata-rata harian = [(Rp 10.000.000 x 6 hari) + (Rp 11.000.000 x 8 hari) + (Rp 9.000.000 x 2 hari) + (Rp 6.000.000 x 4 hari) + (Rp 7.000.000  x 8 hari) + (Rp 12.000.000 x 2 hari)] / 30  = Rp 9.000.000

Bunga tabungan untuk periode Juli 2017 berdasarkan pendekatan rata-rata adalah Rp 9.000.000 x 5% x 31 / 365 = Rp 38.219

Perhitungan bunga tabungan berdasarkan saldo harian mengacu pada besar saldo harian selama bulan pelaporan dikalikan dengan bunga tabungan per tahun dan dibagikan per harinya. Sehingga kalkulasi bunga harus diperhitungkan setiap harinya. Sebagai contoh untuk ilustrasi di atas:

Tanggal 1 Juli bunga yang diterima dari tabungan adalah Rp 10.000.000 x 5% x 1 / 365 sehingga bunga tanggal 1 Juli adalah Rp 1.369, demikian juga tanggal 2 Juli, 3 Juli hingga 6 Juli. Sedangkan untuk bunga tanggal 7 Juli sampai tanggal 14 Juli maka bunga yang diterima per harinya adalah Rp 11.000.000 x 5% x 1 / 365 = Rp 1.506. Jadi untuk total bunga tabungan pada bulan Juli adalah pertambahan bunga berdasarkan saldo harian setiap harinya.

  1. Simpanan Deposito

Suku bunga simpanan deposito boleh dikatakan cukup mudah untuk dihitung dibandingkan tabungan. Hal ini karena tidak ada perubahan di jumlah deposito selama periode yang ditentukan. Jika terjadi penambahan atau pencairan jumlah deposito maka bunga tidak akan diberikan. Jadi untuk menghitung bunga deposito dapat dilakukan dengan rumus:

Bunga = Jumlah deposito x suku bunga x tenor / 12

Jadi apabila nasabah membuka rekening deposito dengan jumlah Rp 10 juta selama enam bulan dengan bunga 7% maka total bunga yang diperoleh di tanggal jatuh tempo deposito adalah Rp 350.000

Faktor yang mempengaruhi suku bunga

Tentunya Anda pernah terpikir mengapa terkadang suku bunga tersebut bisa naik atau lebih tinggi di kondisi tertentu? Atau mengapa terkadang suku bunga itu turun atau lebih rendah? Siapakah yang mengatur suku bunga? Atau apakah faktor yang mempengaruhinya?

Jika Anda belum mengetahuinya, sebenarnya suku bunga perbankan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan setiap faktor ini menentukan pengaturan naik turunnya suku bunga bank di Indonesia. Baik itu suku bunga kredit ataupun simpanan. Berikutlah faktor yang mempengaruhinya:

a) Kebutuhan dana
Faktor kebutuhan dana ini khusus untuk bunga simpanan. Apabila bank membutuhkan dana lebih berhubung meningkatnya jumlah permohonan pinjaman, maka solusi yang dilakukan bank untuk mendapatkan dana lebih cepat adalah meningkatkan suku bunga simpanan. Dan seperti yang dijelaskan sebelumnya jika suku bunga simpanan meningkat maka suku bunga kredit pun akan meningkat. Hal ini berlaku juga sebaliknya, jika bank memliki jumlah simpanan yang besar sehingga pengeluaran bank untuk membayar bunga meningkat. Serta permintaan pinjaman menurun, maka bank akan menurunkan bunga simpanan.

b) Target laba bank
Faktor target laba ditargetkan khusus untuk bunga kredit. Jika bank ingin meningkatkan labanya maka bank akan meningkatkan suku bunga kredit dan demikian juga sebaliknya. Memang terdengar aneh jika bank tidak ingin meningkatkan labanya, tetapi bila dipikir kembali semakin tinggi suku bunga kredit, bank juga harus mempertimbangkan kemungkinan nasabah tidak mampu melunasi tagihan atau menunggak pembayaran. Apabila dua hal itu terjadi maka malah bank akan rugi.

c) Kebijaksanaan pemerintah
Jika Anda belum menyadarinya, pemerintah juga memegang peran penting dalam posisi tingkat suku bunga bank. Baik itu suku bunga kredit ataupun simpanan, pemerintah memberikan batasan tingkat suku bunga melalui kebijakan dari bank sentral (Bank Indonesia). Jadi bank tidak dapat melampaui atau menurunkan lebih rendah dari batasan kebijakan suku bunga. Tujuannya agar saingan antar bank bersifat sehat.

d) Kualitas jaminan
Faktor kualitas jaminan mempengaruhi tinggi rendahnya bunga yang didapatkan dalam pinjaman. Tergantung pada kualitas jaminan yang diberikan oleh nasabah, jika semakin mudah dicairkan (seperti emas) jaminan tersebut maka semakin rendah bunga kredit yang dibebankan untuk jenis pinjaman tersebut, begitu juga sebaliknya.

e) Jangka waktu
Faktor jangka waktu memegang peran penting untuk bunga pinjaman dan simpanan. Dalam hal pinjaman semakin lama jangka waktunya maka semakin tinggi bunga yang ditagihkan. Hal ini disebabkan resiko macet dalam pembayaran semakin tinggi untuk bank, begitu juga sebaliknya. Sedangkan untuk simpanan, semakin lama jangka waktu yang dipilih maka semakin rendah bunga yang diberikan. Walaupun faktor ini berdasarkan dari aturan umumnya, tetapi terkadang ada juga bank yang membuat aturan semakin lama jangka waktu simpanan maka semakin besar suku bunga. Umumnya ini dilakukan oleh bank, ketika bank membutuhkan dana jangka panjang.

f) Jenis produk
Apabila nasabah memilih untuk mengambil pinjaman dari bank untuk membiayai produk yang kompetitif. Maka bank umumnya memberikan bunga relatif rendah dibandingkan produk yang kurang kompetitif.

g) Hubungan baik dan reputasi nasabah
Jika nasabah memiliki hubungan yang baik dengan bank atau reputasi nasabah sangat memuaskan pihak bank, maka bank akan lebih cenderung memberikan suku bunga kredit yang rendah. Hal ini karena bank sudah memiliki kepercayaan terhadap nasabah bahwa dia tidak akan tiba-tiba tidak mampu melunasi kredit atau terlambat melakukan angsuran.

 

‹ Previous Next: Simpanan Bank - Manfaat, Jenis dan Cara Membuka Rekening

Leave your comment