Pelaku Industri Tembakau Berharap Pemerintah Tidak Menaikkan Cukai

Pelaku Industri Tembakau Berharap Pemerintah Tidak Menaikkan Cukai

Industri tembakau di Indonesia masih menanggung beban berat kenaikan cukai dan penurunan angka produksi. Melihat hal ini, para pelaku industri hasil tembakau meminta pemerintah untuk tidak menaikkan cukai terlebih dahulu.

Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigeret Indonesia Djoko Wahyudi mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat resmi ke Menteri Keuangan Sri Mulyani mengenai kondisi ini. Dia mengharapkan pemerintah untuk memperhatikan pelaku industri ini.

“Saya sudah menulis surat kepada Menteri Keuangan, supaya lebih memperhatikan para pelaku industri hasil tembakau, khususnya yang memproduksi sigaret kretek tangan. Karena sekarang kami lebih sering didiskreditkan, padahal mereka tidak melihat dan paham akan efek yang ditimbulkan jika kami tutup,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Djoko pun menjelaskan bahwa saat ini industri hasil tembakau sudah mengalami tekanan yang berat, yaitu berasal dari cukai yang cukup besar dan penurunan produksi sebanyak 2 persen pada tahun 2016.

“Penurunan ini sebenarnya sudah terjadi sejak 10 tahun lalu. Jumlah pabrik rokok pada 2006 sebanyak 4.669 dan saat ini tinggal 754 pabrik. Kalau kami tidak dapat bertahan, pegawai kami yang tingkat pendidikannya rendah juga akan terkena imbasnya,” jelasnya.

Pada tahun 2017, Kementrian Keuangan memperkirakan aka nada penurunan produksi rokok hingga 2,3 persen atau bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan penurunan pada tahun 2016. Maka Djoko pun meminta agar pemerintah tidak menaikkan cukai pada tahun depan.

“Ini harus jadi perhatian khusus, pemerintah seharusnya tidak menaikkan target cukai lagi, untuk target 2016 saja tidak tercapai,” katanya.

Pada kesempatan lain, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman Sudarto, membenarkan kondisi tertekannya industri hasil tembakau ini.

“Ketika industri tertekan, otomatis seluruh mata rantai dari hulu sampai hilir akan menjadi korban, termasuk tenaga kerja,” ungkap Sudarto.

 

[Source]

Komentar