Bukan Hanya Masalah Pernapasan, Berikut Adalah Jenis Penyakit Akibat Polusi Udara

Bukan Hanya Masalah Pernapasan, Berikut Adalah Jenis Penyakit Akibat Polusi Udara

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa udara yang tercemar polusi bisa menimbulkan berbagai penyakit. Bukan hanya penyakit gangguan pernapasan, melainkan juga gangguan kulit, hingga cacat pada bayi.

Sayangnya, di Jakarta misalnya, indeks kualitas udaranya berada pada posisi 183 atau masuk dalam kategori tidak sehat. Apalagi saat musim kemarau, kondisi polusi udara bisa lebih buruk karena makin banyak debu-debu jalanan beterbangan. Kondisi ini sudah tidak aman bagi kesehatan masyarakat.

Berikut ini kami sajikan beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara.

ISPA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang salah satu faktor penyebabnya adalah polusi udara. Penyakit ini memiliki gejala batuk, pilek, dan demam. Kemudian pasien akan mengalami gangguan pernapasan.

Perlu diketahui bahwa menurut World Health Organization (WHO) hampir empat juta orang di seluruh dunia meninggal akibat ISPA setiap tahunnya. 98% kasus ini disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah (paru-paru).

Pada saat musibah kebakaran hutan bulan September 2019 lalu, penderita ISPA akibat asap kebakaran mencapai 919.516 orang. Para penderita ISPA ini tersebar di terdapat di Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Pneumonia (paru-paru basah)

Penyakit ini terjadi karena adanya infeksi pada sistem parnapasan yang disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. Penyakit ini diawali dengan batuk dan demam, yang kemudian meningkat menjadi gangguan pernapasan.

Pneumonia bisa menyerang siapa saja, bahkan anak-anak dan para lansia. Bahkan Unicef mengeluarkan peringatan bahwa tahun 2018 sekitar 800.000 anak meninggal akibat pneumonia. Artinya, 39 anak meninggal setiap detiknya karena penyakit pernapasan ini. Dari angka ini, 19.000 anak meninggal di Indonesia akibat pneumonia.

Unicef juga menyatakan bahwa 50% penumonia yang diderita anak-anak di Indonesia disebabkan oleh polusi udara.

Serangan jantung

Tidak hanya permasalahan pada sistem pernapasan, polusi udara juga dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan jantung.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa menghirup udara berpolusi dapat mengakibatkan atreosklerosis. Penyakit atreosklerosis merupakan kondisi dimana terjadi penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh munculnya plak di dinding pembuluh darah.

Penelitian mengenai penyakit jantung dan pembuluh darah akibat polusi ini juga menunjukkan bahwa partikel halus dalam udara yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah di jantung.  Pada waktu lama, penumpukan plak ini bisa menyebabkan serangan jantung atau stroke.

Gangguan kesehatan pada bayi

Polusi udara yang dihirup oleh ibu hamil berpotensi menyebabkan bayi yang dilahirkan nantinya memiliki gangguan kesehatan bawaan. Seperti, kekebalan tubuh yang lebih rendah terhadap infeksi dan alergi bawaan.

Selain itu, polusi udara juga bisa mengakibatkan bayi lahir prematur bahkan keguguran pada ibu hamil. Jadi, sangat disarankan bagi para ibu hamil untuk menggunakan masker saat beraktifitas di luar rumah. Terutama pada tiga bulan pertama.

Leukimia

Polusi udara bisa menyebabkan leukimia? Rasanya memang tidak banyak yang mengira bahwa kanker darah atau leukimia juga bisa disebabkan oleh kualitas udara yang tidak sehat.

Sebagaimana yang sempat disebutkan sebelumnya bahwa polusi udara bisa menyebabkan infeksi, terutama pada saluran pernapasan. Sebagai upaya perlindungan dari penyakit, tubuh kita akan terus menerus memproduksi sel darah putih untuk menyerang virus atau bakteri yang mengakibatkan infeksi.

Reaksi yang tadinya untuk melindungi tubuh malah menjadi penyakit karena produksi sel darah putih yang terus menerus. Akhirnya, sel darah putih ini menyerang sel darah merah dan mengakibatkan leukimia.

Selain polusi udara, polusi tanah pun bisa menjadi penyebab leukimia.

Bagaimana melindungi diri dari polusi udara?

Tingginya tingkat polusi udara yang terjadi di beberapa kota di Indonesia, memang bukan sesuatu yang mudah dihindari. Hal ini karena Anda harus beraktifitas di luar rumah, baik itu untuk bekerja atau melakukan aktifitas lainnya.

Nah, untuk meminimalisir dampak polusi udara, Anda bisa melakukan beberapa hal ini.

Masker

Gunakan pelindung mulut dan hidung (masker) ketika keluar rumah. Sebelum maraknya wabah coronavirus, orang Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota besar, sudah terbiasa menggunakan masker.

Jangan remehkan menggunakan masker saat keluar rumah. Karena masker bisa melindungi sistem pernapasan dari debu dan partikel halus di jalanan.

Cuci tangan

Selain mengumumkan tentang penyebab pneumonia pada anak-anak, Unicef juga menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun bisa menurunkan risiko kematian karena pneumonia hingga 50%.

Jadi, rajin-rajinlah cuci tangan untuk membersihkan tangan kita dari debu dan polusi di jalan. Cuci tangan tidak hanya sebelum makan, melainkan saat Anda tiba di kantor, saat sampai di rumah, juga saat hendak memasak.

Jaga daya tahan tubuh

Tentu saja Anda harus menjaga daya tahan tubuh dengan baik. Walaupun kebanyakan orang Indonesia merasa kebal dengan berbagai penyakit, bukan berarti Anda tidak menjaga kesehatan dengan baik.

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menjaga daya tahan tubuh antara lain adalah mengkonsumsi vitamin C atau jamu, minum air putih, istirahat yang cukup, dan olah raga.

Bantuan medis

Siapa yang ke dokter hanya kalau sakit sudah cukup parah?

Ada baiknya Anda segera ke klinik atau rumah sakit ketika mengalami gangguan kesehatan. Terutama jika gangguan kesehatan berkaitan dengan saluran pernapasan. Pengobatan segera bisa mengurangi risiko penyakit bertambah parah, dan mencegah penularan ke orang lain.

Agar biaya perawatan kesehatan lebih ringan, gunakan manfaat asuransi Anda. Asuransi akan memberikan manfaat rawat jalan sesuai dengan kelompok premi Anda.

Bagi Anda yang cenderung meremehkan dampak polusi, terutama polusi udara, maka ulasan ini sangat cocok untuk Anda. Ingat, daya tahan tubuh harus dirawat bukan “dilatih” dengan gaya hidup tidak sehat.

Sebagai referensi, berikut adalah ulasan kami lainnya mengenai perlindungan kesehatan bagi Anda yang masih lajang, atau belum menikah.

Komentar