Perang Dagang AS–China Pengaruhi Ekonomi Indonesia Secara Langsung

Perang Dagang AS–China Pengaruhi Ekonomi Indonesia Secara Langsung

Dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat China berpotensi untuk mempengaruhi perekonomian Indonesia secara langsung. Salah satu dampak yang ditakutkan adalah defisitnya neraca perdagangan Indonesia.

Pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan bahwa dampak dari perang dagang antara kedua negara ini bisa membuat neraca perdagangan Indonesia defisit sekitar USD 800 juta hingga USD 1 miliar.

“Perang dagang (AS dan China) berdampak langsung dalam jangka pendek. Sejak ramai (perang dagang) awal tahun ini, kinerja ekspor kita hanya tumbuh 8%. Sementara impor naik 22%. Prediksinya di semester II, neraca perdagangan kembali mengalami defisit dikisaran USD 800 juta sampai USD 1 miliar,” jelas Bhima.

Bhima melanjutkan, defisitnya neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei juga merupakan imbas dari adanya perang dagang. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca poerdagangan perdagangan di bulan April 2018 mengalami deficit sebesar USD 1,63 miliar. Hal ini tentun mengejutkan karena di bulan Maret neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD 1,09 miliar.

Penyebab dari turunnya neraca perdagangan di bulan April lalu adalah meningkatnya impor yang cukup tinggi. Total impor untuk bulan April 2018 sendiri adalah adalah USD 16,09 miliar atau naik 11,28% dibandingkan dengan bulan Maret 2018. Sementara itu, total ekspor Indonesia pada periode yang sama adalah USD 14,47 miliar atau turun 7,19% disbanding bulan Maret 2018.

Bhima juga menilai defisit neraca perdagangan ini juga disebabkan oleh membanjirnya barang impor di Indonesia. Untuk menghadapi situasi ini, pemerintah bisa memperketat SNI produk impor, termasuk inspeksi yang lebih ketat di pelabuhan utama, juga menertibkan para importir bermasalah.

“Langkah proteksi ini juga perlu di imbangi penguatan kapasitas produksi industri substitusi impor lokal sehingga mampu bersaing dari gempuran banjir barang murah, terutama dari China,” jelasnya.

 

[Source]

Komentar