Kekhawatiran Akan Perang Dagang AS Pengaruhi Bursa Asia

Kekhawatiran Akan Perang Dagang AS Pengaruhi Bursa Asia

Pada perdagangan Kamis pekan lalu, bursa saham Asia melemah. Pergerakan bursa Asia ini mengikuti tekanan yang dirasakan wall street.

Tekanan yang terjadi ini disebabkan oleh kekhawatiran para investor global akan potensi terjadinya perang dagang Amerika Serikat (AS) yang akan membebani ekonomi global.

Pada bursa saham Asia sendiri, indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sebesar 0,05 persen. Indeks saham Australia juga melemah 0,35 persen,  indeks saham Korea Selatan Kospi turun 0,15 persen, sedangkan indeks saham milik Jepang Nikkei melemah 0,15 persen.

Presiden AS Donald Trump sedang mencari cara untuk mengenakan tarif impor dari China. Tentunya kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang antara kedua negara. Sentiment ini bahkan mendorong indeks saham MSCI Global tergelincir 0,46 persen, dan indeks saham FTSSE merosot hingga 0,14 persen.

Selain itu, kekhawatiran perang dagang ini juga mendorong obligasi Eropa. Imbal hasil obligasi Jerman bertenor 10 tahun menurun hingga berada pada level 0,58 persen dalam 1,15 bulan. Hal yang sama juga terjadi pada obligasi pemerintahan Prancis.

“Bursa saham Asia telah bertahan cukup baik namun harus turun lagi jika bursa saham AS kembali tertekan,” ujar Yutaka Miura, Analis Mizuho Securities, sebagaimana dikutip dari laman Reuters.

Ia juga mengatakan bahwa bursa Asia yang melemah ini seharusnya dapat mendorong investor untuk memburu saham murah. Namun yang terjadi adalah sebagian besar investor cenderung hati-hati.

Di pasar uang sendiri, dollar AS cenderung berada pada posisi yang stabil. Indeks dollar AS terhadap mata uang lainnya ada di posisi 89,70. Euro berubah menjadi US$ 1,2376, terhadap yen, dollar AS turun 0,2 persen menjadi 106,14.

Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun stabil 2,81 persen. Adanya ketegangan diplomatic antara Inggris dan Rusia juga mempengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi. Data ekonomi lain yang mempengaruhi obligasi yaitu data penjualan ritel AS yang melambat.

 

[Source]

Komentar