BPS Mematahkan Pandangan Masyarakat Miskin Tidak Bisa Menabung

BPS Mematahkan Pandangan Masyarakat Miskin Tidak Bisa Menabung

Masih banyak yang menganggap bahwa orang miskin tidak mampu memiliki tabungan.

Anggapan ini dipatahkan dengan hasil penelitian dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menemukan bahwa, sebenarnya orang berada dalam kemiskinan memiliki pandangan yang sama dengan mereka yang berkecukupan mengani kepemilikan tabungan.

“Apakah penduduk miskin bisa menabung? Bagaimanapun juga, cara berpikir kita dengan mereka sama. Mereka selalu mencari kesempatan untuk menyisihkan sebagian uangnya, seberapa kecil pun,” jelas Kepala BPS Suhariyanto saat menyampaikan pidato di Seminar Nasional Official Statistics 2018 di Politeknik Statistika.

Penelitian yang dilakukan BPS mengenai kemiskinan selama ini pun menujukkan bahwa perilaku atau kebiasaan menabung bukan hanya dari orang dengan ekonomi kelas menengah ke atas, tapi ada juga ada pada orang di ekonomi menengah ke bawah.

Dengan demikian, Suhariyanto berharap pandangan publik terhadap orang miskin berubah karena pada dasarnya semuanya sama, yaitu berusaha agar hidupnya menjadi lebih baik.

“Jangan pernah memandang rendah orang miskin. Mereka hanya kehilangan kesempatan, tetapi untuk maju ke depan, mereka sama dengan kita. Selalu menyisihkan uang seberapa kecil pun, berharap suatu saat hidupnya berubah dengan memperhatikan life cycle, needs, emergency, dan opportunities,” lanjut Suhariyanto.

Dia juga menjelaskan bahwa perilaku menabung pada orang miskin sebenarnya memiliki kemiripan dengan masyarakat pada umumnya. Mereka menabung dengan berbagai cara, misalnya dengan  menyisihkan sebagian kecil dari penghasilannya hingga memberi reciprocal lending atau pinjaman yang bersifat timbal balik.

“Ini yang terjadi dan sudah dikonfirmasi dari berbagai penelitian,” ungkapnya lagi.

Tujuan ebagian besar masyarakat miskin dalam menabung adalah untuk berbagai kebutuhan di masa mendatang.

Suhariyanto juga menyebutkan, perilaku menabung pada masyarakat miskin didorong oleh kebutuhan akan memenuhi pendidikan keluarganya, biaya melahirkan anak, uang untuk hari tua, hingga yang sifatnya darurat seperti sakit atau jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Dari fakta ini, pemerintah bisa membuat program-program yang dapat memberi kesempatan bagi masyarakat miskin agar bisa berkembang.

Dari data BPS juga tercatat per Maret 2018 angka kemiskinan sebesar 9,82 persen atau setara dengan 25,95 juta penduduk miskin di Indonesia.

 

[Source]

Komentar