Masker Lebih Mahal Daripada Emas, Simak Cerita Menarik Lainnya yang Terjadi Selama Wabah Coronavirus

Masker Lebih Mahal Daripada Emas, Simak Cerita Menarik Lainnya yang Terjadi Selama Wabah Coronavirus

Kepanikan bisa membuat siapa saja bersikap aneh. Begitu pula yang terjadi selama maraknya wabah coronavirus (COVID-19). Bukan hanya masyarakat biasa, bahkan para pelaku kejahatan pun mengubah modus mereka.

Berikut adalah beberapa kejadian menarik yang menjadi sorotan di tengah wabah penyakit COVID-19.

Perampokan tisu toilet di Hong Kong

Siapa sangka kalau tisu toilet bisa jadi barang berharga yang akan diburu perampok. Baru baru ini (17/2/2020), kita menerima kabar tentang perampokan ratusan paket tisu toilet di Hong Kong.

Pihak kepolisian memberi keterangan bahwa perampok bersenjata tajam menghadang para petugas pengangkut. Peristiwa ini terjadi di luar supermarket di Distrik Mong Kok, saat petugas pengangkut membongkar muatan tisu toilet. Polisi pun sudah menangkap 2 orang yang terlibat.

Akibat wabah virus corona, warga memburu berbagai keperluan rumah tangga, dan salah satunya adalah tisu toilet. Selain itu, beras, pasta, dan bahan pembersih juga menjadi langka, karena warga melakukan penumbunan kebutuhan sehari-hari. Padahal otoritas setempat telah meyakinkan bahwa pasokan masih tersedia.

Masker dan cairan pembersih tangan pun hampir tidak tersedia di wilayah ini. Menurut pihak berwenang, salah satu pemicu terjadinya kepanikan ini adalah penyebaran berita dengan informasi salah seputar COVID-19 di internet.

Harga masker melonjak

Indonesia sempat menjadi sorotan media asing karena melonjaknya harga masker. Sebuah toko di Jakarta menjual sekotak masker berisi 50 lembar dengan harga Rp 200.000. Padahal, sebelum ramai wabah corona, harga sekotak masker adalah Rp 20.000.

Sedangkan, untuk masker tipe N95 harga per kotaknya, isi 20 lembar, bisa mencapai Rp 1,5 juta. Angka ini lebih tinggi daripada harga satu gram emas, yaitu sekitar Rp 800.000.

Lonjakan harga yang mencapai 10 kali lipat ini tentu saja tidak wajar baik bagi konsumen maupun otoritas setempat. Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pihak terkait untuk segera menginvestigasi penyebab lonjakan harga.

Apalagi jumlah kasus di Indonesia sangatlah sedikit. Sehingga reaksi masyarakat yang sangat panik dirasa tidak perlu. Pemerintah juga sempat memberikan pengumuman bahwa produsen masker yang menaikkan harga secara tidak wajar akan dikenakan sanksi.

Penipuan berkedok penjual masker

Masker yang memang merupakan keperluan sehari-hari di kota besar di Indonesia yang berpolusi tinggi, tiba-tiba menjadi barang berharga layaknya emas.

Seorang wanita asal Tulungagung, Jawa Timur, melakukan penipuan dengan modus menjual masker secara online. Situasi kepanikan akibat coronavirus ini dimanfaatkan untuk meraup keuntungan dari orang-orang yang membutuhkan.

Ia mengunggah foto berbagai jenis masker pada akun Facebook pribadinya. Para pembeli bisa menghubunginya lewat nomor telepon yang tertera.

Jumlah pesanan yang ia terima pun tidak sedikit, yaitu 400 kotak dengan total harga Rp 24 juta. Korban sudah mengirimkan uang muka sebesar Rp 11,4 juta sebagai uang muka. Namun, pesana masker tidak kunjung sampai pada konsumen.

Pelaku mengakui bahwa ini adalah pertama kalinya ia melakukan penipuan. Atas kejahatannya, pelaku mendapat vonis 6 tahun penjara.

Indonesia dan doa

Di saat pihak otoritas negara lain memberi pernyataan serius, Menteri Kesehatan Indonesia, Terawan Agus Putranto, punya pendapat lain soal coronavirus di Indonesia. Menurutnya, kekuatan doa masyarakat Indonesia yang melindungi bangsa ini dari wabah coronavirus.

Pernyataan ini tentu saja menyulut sejumlah kontroversi di tengah masyarakat, terutama para ilmuwan di luar negeri. Beberapa pihak bahkan curiga bahwa otoritas Indonesia mungkin menyembunyikan kasus coronavirus.

Hal ini mengingat bahwa hampir satu dekade lalu, Indonesia sempat dikejutkan dengan kasus Flu Burung memakan korban sebanyak 200 orang. Bahkan, BBC melansir bahwa Indonesia merupakan negara dengan kasus Flu Burung terbanyak di dunia. Artinya, Indonesia pun bukan negara kebal dengan wabah penyakit yang berasal dari luar negeri.

Terlepas dari pernyataan Menteri Kesehatan yang kontroversial, seorang guru besar dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. drh. Chaerul Anwar Nidom MS, memberikan keterangannya mengenai kasus coronavirus di Indonesia.

Menurutnya, efek dari serangan virus corona sebenarnya bisa diatasi dengan bahan makanan kurkumin seperti jahe, kunyit, dan temulawak.

Lebih lanjut guru besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular ini menerangkan bahwa orang Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi jahe, kunyit, dan temulawak dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang, mungkin, menjelaskan kenapa kasus COVID-19 di Indonesia sangat minim atau hampir tidak ada.

Kota Wuhan masih ditutup

Di antara semua kejadian menarik yang ada sejak meluasnya wabah COVID-19, rasanya penutupan kota Wuhan adalah yang paling menyita perhatian masyarakat internasional.

Layaknya kejadian dalam film-film bertem zombie, sejak 23 Januari 2020 pemerintahan Cina memutuskan untuk menutup kota Wuhan. Penutupan kota ini dilakukan untuk mengkarantina 11 juta penduduknya dan menekan angka penyebaran coronavirus.

Selain Wuhan, kota-kota lain di provinsi Hubei, Cina daratan pun tidak luput dari langkah karantina ini.

Kondisi ini pasti menimbulkan kepanikan, karena warga takut persediaan alat medis dan kebutuhan sehari-hari tidak terpenuhi selama masa karantina. Namu di sisi lain, warga Wuhan menunjukkan sisi cerianya dengan mengunggah berbagai video di internet. Di antaranya ada yang menghitung tumpukan beras, hingga membuat permainan dengan bahan-bahan dapur.

Tentunya banyak sisi lain di balik kepanikan wabah coronavirus yang menarik untuk diketahui. Jangan sampai tertipu dengan para penjual masker fiktif, serta terus jaga kesehatan dengan menjaga kebersihan dan daya tahan tubuh.

Jika ingin bepergian, sebaiknya perhatikan area atau negara mana saja berisiko tinggi terhadap wabah penyakit ini. Serta, simak cara bepergian aman berikut ini supaya Anda tidak tertular oleh penumpang lain selama masa perjalanan.

Komentar