Turunnya Daya Beli Masyarakat Saat Pemulihan Ekonomi Nasional

Turunnya Daya Beli Masyarakat Saat Pemulihan Ekonomi Nasional

Secara akumulasi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja mencapai 5 persen, namun berbagai sektor usaha mengalami penurunan yang tidak sedikit. Bahkan, angka ppenurunan pada beberapa sektor patut dikhawatirkan.

Daya beli masyarakat yang menurun dapat dilihat di sektor retail yang makin sepi pembeli. Menurut para pegamat, adanya penurunan daya beli masyarakat ini akan terjadi selama proses pemulihan ekonomi. Faktor kedua, sepinya toko-toko pada pusat perbelanjaan juga tidak lepas dari kemunculan dunia online. Masyarakat mulai menggunakan media online untuk membeli kebutuhannya.

Di sisi lain, jika dilihat dari data makro ekonomi sampai akhir semester satu tahun 2017, inflasi masih terjaga pada level 3 persen. Nilai tukar yang stabil juga yaitu berkidar Rp 13.300. neraca perdagangan pun tercatat mengalami surplus akibat peningkatan ekspor barang manufaktur.

“Ekonomi tetap tumbuh tapi tidak diikuti oleh kegiatan usaha yang harusnya bisa tumbuh lebih cepat, bukan bagian dari perlambatan,” kata Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih.

Asumsi dari Lana ini juga diperkuat dengan data dari konsumsi semen nasional. Pada smester pertama 2017, ada penurunan 1,2 persen untuk konsumsi semen. Lalu perlu diingat, bahwa angka konsumsi semen ini juga merupakan indikator kuat apakah pembangunan berjalandengan baik atau tidak.

Kemudian di sektor properti juga mengalami penurunan dalam angka penjualan. Padahal sektor ini diperkirakan akan mengalami peningkatan karena kebijakan pemerintah yang agresif soal pembangunan. Namun Rumah.com Property Index (RPI) mencatat ada penurunan pada kuarta II tahun 2017 yaitu sebesar 9,6 persen.sedangkan untuk properti residensial, secara nasional angka penjualannya naik 0,3% jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Hal senada juga disampaikan oleh lembaga konsultan asal Australia, Savills. Dalam riset mereka, tingkat kekosongan pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4 persen atau naik sebesar 2,7 persen dibandingkan semester sebelumnya.

Selain itu, Savills juga mencatat data mal yang makin sepi. Kekosongan area tenant di mal di Jakarta naik ke angka 10,8 persen pada semester pertama 2017 jika dibandingkan dengan semester sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi sebanyak 5 persen, menurut Lana, tidak akan banyak mengubah kondisi sekarang. Hal ini dikarenakan tidak semua sektor bisa menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi.

“Kalau hanya sampai 5,5% itu bakal sulit. Pemerintah harus bisa mendekati 6% agar hampir semua sektor bisa akan meningkat,” tandasnya.

[Source]

Komentar