Mengapa E-Wallet Menarik Banyak Peminat, Baik Perorangan Maupun Badan Usaha?

Mengapa E-Wallet Menarik Banyak Peminat, Baik Perorangan Maupun Badan Usaha?

Indonesia menjadi pasar e-wallet yang menggiurkan bagi para investor dalam dan luar negeri. Salah satu faktor utamanya adalah populasi usia produktif yang bisa mencapai puluhan juta.

Populasi usia kerja yang berlimpah ini dibarengi dengan berkembangnya teknologi, terutama di bidang teknologi informasi. Hal ini menjadikan banyak orang yang membutuhkan sarana praktis untuk berbagai kebutuhan, bahkan masalah pembayaran.

Jika sebelumnya kami pernah menyajikan artikel tentang beberapa produk e-wallet di Indonesia, serta tips menggunakannya, kali ini mari kita membahas lebih dalam lagi tentang pasar e-wallet Tanah Air. Mulai dari faktor pendorong secara perorangan maupun umum.

Mengapa orang memakai e-wallet?

Tentunya ada beberapa alasan mengapa banyak orang yang memakai e-wallet. Mulai dari alasan logis hingga sugesti. Berikut adalah tiga alasan di antaranya.

Praktis

Alsan ini menjadi faktor utama dari penggunaan e-wallet di Indonesia. Apalagi penyedia e-wallet di Indonesia memiliki produknya sendiri. Sehingga akan lebih mudah untuk bertransaksi menggunakan e-wallet daripada uang tunai.

Sebut saja GoPay dari GoJek dan OVO yang mendukung aplikasi Grab. Menggunakan layanan dari dua perusahaan ini memang lebih mudah jika Anda memiliki produk e-wallet mereka.

Adapula layanan lain, seperti Mandiri e-Cash yang memang dirancang untuk memudahkan nasabah Mandiri dalam bertransaksi. Serta bisa digunakan di berbagai toko online.

Perlu diingat bahwa orang Indonesia menyukai layanan yang praktis dan fleksibel, dan e-wallet dirasa bisa memenuhi kebutuhan ini.

Bonus dan diskon

Jika Anda melakukan book kendaraan lewat aplikasi dengan menggunakan e-wallet mereka, Anda akan mendapatkan poin lebih atau potongan harga. Dengan demikian sebagai konsumen, Anda diuntungkan dari segi harga dan pengumpulan poin. Dimana poin-poin ini nantinya bisa digunakan untuk berbagai layanan.

Contoh lain yang bisa dilihat adalah promosi TCASH di beberapa mini market. Pastinya Anda yang pernah menjadi langganan 7 Eleven masih ingat bagaimana sering ada promosi TCASH di toko ini.

Semua keuntungan ini bisa menjadi salah satu cara bagi Anda untuk bisa memperpanjang aliran keuangan. Selain itu, metode ini juga banyak digunakan para pekerja muda untuk membayar berbagai kebutuhan di akhir bulan.

Uang tunai lekas habis

Pasti di antara Anda ada yang tidak ingin memegang uang tunai terlalu banyak karena takut habis. Sehingga e-wallet menjadi solusi untuk pembayaran non tunai.

Sugesti ini juga menjadi alasan mengapa banyak orang yang lebih suka menyebar uangnya di berbagai e-wallet daripada memegang uang tunai terlalu banyak. Alasannya, agar tidak tergoda membeli barang-barang kecil di toko-toko kelontong.

Faktor pendorong e-wallet Indonesia

Tidak hanya alasan-alasan di atas, pemerintah bahkan sudah mulai menggunakan layanan ini untuk mempermudah berbagai pembayaran tagihan, seperti pajak dan listrik.

Berikut adalah beberapa faktor pendorong makin banyaknya pengguna e-wallet jika dilihat secara umum atau makro.

Populasi

Sebagaimana yang disebutkan di awal, populasi menjadi pendorong yang kuat munculnya layanan pembayaran berbasis aplikasi ini.

Dilansir dari website berita Bisnis.com, pengguna internet di Indonesia mencapai 132 juta jiwa. Dari angka ini, pengguna mobile internet adalah 127 juta jiwa, dan 27% sudah menggunakan internet sebagai media transaksi keuangan.

Dari data ini bisa kita simpulkan masih ada sekitar 70%, mungkin lebih, dari pengguna mobile internet yang masih bisa menjadi pasar e-wallet.

Tidak mengherankan jika nantinya makin banyak bermunculan nama-nama e-wallet baru. Tentunya hal ini menjadi gejala positif dari cara berkeuangan di Indonesia. Dimana semua hal bisa dilakukan secara praktis dan transparan.

Berkembangnya usaha dan layanan yang mendukung e-wallet

Saat ini tidak hanya restoran besar atau toko-toko ternama yang menerima pembayaran secara non tunai. Tempat-tempat nongkrong ala hipster pun sudah mulai menyediakan layanan pembayaran dengan e-wallet. Lihat saja daftarnya namanya di bagian rewards e-wallet Anda.

Selain itu, platform jual beli online seperti Lazada, Blibli, atau Tokopedia juga mendukung pembayaran secara online menggunakan e-wallet. Perlu diketahui, bahwa banyak toko-toko online yang bernaung di website jual beli raksasa ini merupakan bagian dari Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM).

Salah satu penyedia e-wallet, OVO, juga menyatakan bahwa pihaknya sudah bekerjasama langsung dengan UMKM untuk transaksi menggunakan layanan e-wallet. Hal ini akan mempermudah para pengusaha kecil menengah dan mikro untuk melayani pembelian dari para pelanggannya.

Lebih disukai orang usia produktif

Jika dilihat dari demografi usianya, kebanyakan pengguna e-wallet berusia antara 16 sampai 28 tahun. Walaupun banyak juga orang usia produktif yang lebih tua dari angka ini juga, setidaknya, memiliki satu jenis e-wallet. Bahkan, anak-anak pun sudah tahu bagaimana melakukan transaksi dengan e-wallet.

Oleh karenanya jika bicara rata-rata sesuai yang bisa kita saksikan sehari-hari, asal memiliki telepon pintar pasti memiliki e-wallet.

Alasannya sudah kami jabarkan pada bagian sebelumnya, mulai dari praktis, adanya keuntungan dari bonus dan diskon, hingga sugesti bahwa jika memegang uang terlalu banyak akan jadi boros.

Apalagi, karakter masyarakat Indonesia adalah terbuka dengan teknologi. Baik itu dalam hal keuangan, transportasi, penerimaan informasi, hingga hiburan.

Sekarang dari penjabaran di atas, dapat dipahami bahwa Indonesia merupakan pasar yang subur bagi perusahaan fintech yang memiliki e-wallet. Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan Anda tidak perlu lagi membawa uang tunai untuk membeli makanan di pinggir jalan.

Kalau Anda sendiri, apa alasannya menggunakan e-wallet?

Kunjungi juga informasi kami lainnya mengenai beberapa penyedia layanan e-wallet terbesar di Indonesia.

Komentar