7 Prinsip Hidup Orang Minang Yang Membuat Mereka Sukses Secara Finansial

7 Prinsip Hidup Orang Minang Yang Membuat Mereka Sukses Secara Finansial

Indonesia memiliki ratusan suku bangsa dengan falsafah hidup yang unik dan menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali juga yang berasal dari Sumatera Barat, yaitu orang-orang Minangkabau atau Minang.

Anda pasti sudah tidak asing bahwa orang-orang Minang dikenal pandai berdagang dan pekerja keras. Mereka juga dikenal pandai mengelola keuangannya. Bahkan, tidak jarang Anda menemukan orang-orang Minang yang sukses di tanah rantau.

Semua karakter ini tidak terlepas dari nilai-nilai yang diwariskan secara turun temurun di kalangan keluarga dan komunitas Minang.

Kali ini, AturDuit mengajak kita semua untuk ikut meniru nilai-nilai kehidupan finansial khas Minangkabau yang membuat mereka sukses walaupun jauh dari kampung halaman.

Alam dan pengalaman adalah guru terbaik

Masyarakat Minang mengenal peribahasa “alam takambang jadi guru” (alam yang terbentang menjadi guru).

Peribahasa ini mengajarkan pada mereka bahwa alam dan pengalaman merupakan guru terbaik. Mereka bisa mengambil banyak pelajaran dari lingkungan sekitarnya dan dari pengalaman. Mereka percaya  bahwa dengan belajar, maka kesuksesan bisa tercapai.

Dalam adat Minang juga, anak laki-laki yang belum memiliki pengalaman atau pendidikan tidak memiliki posisi penting dalam keluarga. Jadi anak laki-laki dalam keluarga Minang akan disuruh merantau untuk mencari pengalaman bekerja dan pendidikan.

Oleh karenanya, jangan heran kalau banyak pemikir dan pengusaha Indonesia berasal dari kalangan masyarakat Minang. Sebut saja penyanyi Tulus, Basrizal Koto, Zakiah Dradjat, bahkan Wakil Presiden Indonesia yang pertama adalah orang Minang, Mohammad Hatta (Bung Hatta).

Jujur dan mengedepankan kualitas

Siapa yang tidak suka dengan makanan khas Minang? Rumah makan Padang menjamur dimana-mana karena menyajikan hidangan enak yang berkualitas dengan harga masuk akal.

Kedekatan orang Minang dengan ajaran agama membuat mereka mengedepankan kejujuran. Hal ini juga menjadikan bisnis mereka sukses, apapun bidangnya.

Bung Hatta juga pernah berkata,

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar.

Kurang cakap dapat diperbaiki dengan pengalaman.

Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.”

Beradaptasi

Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang.

(Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.)

Pepatah di atas merupakan falsafah hidup orang Minang yang membuat mereka mampu bertahan dan sukses di tanah rantau. Mereka selalu mempelajari karakter orang-orang setempat, kemudian menyesuaikan usahanya agar disukai banyak orang.

Contoh sederhana adalah para pengusaha rumah makan Padang mengurangi kadar pedas pada makanannya di area Pulau Jawa. Hal ini untuk memenuhi selera masyarakat di area Jawa yang tidak suka makanan pedas.

Poin ini harus ditiru jika Anda ingin membuka usaha. Pelajarilah bagaimana karakter dari target konsumen Anda, lalu buat usaha yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Terkadang, Anda memang harus berkompromi dan tidak memaksakan selera pribadi.

Menjadikan orang sukses panutan dan kegagalan sebagai pelajaran

Kisah tentang orang-orang Minang yang sukses terus diceritakan secara turun temurun. Hal inilah yang memotivasi mereka agar tidak takut untuk mencoba hal baru, atau bahkan pergi ke tempat baru tanpa adanya sanak saudara di sana.

Tidak hanya belajar dari pendahulunya yang sukses, mereka pun diajarkan untuk belajar dari kegagalan orang lain. Jadi bisa dibilang kemampuan mereka menganalisa didapat dari kebiasaan ini.

Sebagaimana peribahasa mereka, “baraja ka nan manang, macontoh ka nan sudah” (belajar dari mereka yang sukses, ambil hikmah dari mereka yang gagal).

Jadikan kegagalan peluang

Karena banyak dari orang Minang yang menjadi pedagang, maka kegagalan dalam menjalankan usaha adalah hal yang sudah diantisipasi.

Mereka pun memiliki prinsip bahwa dalam keadaan terhimpit harus bisa mencari jalan keluar. Oleh karenanya saat mereka mengalami kegagalan, mereka diajarkan untuk melihat celah jalan keluar dan tidak menyerah.

Karakter ini juga bisa jadi dipengaruhi oleh sifat mereka yang malu jika belum sukses di perantauan atau kampung halaman. Sehingga bisa bangkit dari kegagalan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Pandai mengatur uang

Walaupun terkesan pelit, sebenarnya orang-orang Minang hanya berhati-hati dengan keuangan mereka.

Mereka mengenal peribahasa “saat punya sebaiknya ditahan, kalau tidak ada baru dimakan”, yang maksudnya adalah saat memiliki banyak uang sebaiknya tetap berhemat, karena ketika ada kebutuhan mendesak pastinya kita akan membutuhkan uang.

Prinsip ini sejalan dengan menabung atau memiliki asuransi. Dimana kita menyisihkan uang untuk keperluan darurat yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Merantau

Rasanya merantau atau pergi ke daerah lain untuk mencari pengalaman dan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan orang Minang.

Semua nilai-nilai yang disebutkan sebelumnya diajarkan dalam komunitas Minang secara turun temurun. Nilai-nilai inilah yang juga menjadi bekal mereka kelak saat harus merantau.

Selain itu, merantau juga menjadikan mereka berfikiran terbuka dan mandiri. Karena mau tidak mau, untuk bertahan di tanah orang mereka harus bisa beradaptasi dengan semua perbedaan yang ditemui, serta harus mau bekerja keras.

Falsafah merantau ini sebenarnya dapat kita ambil pelajarannya. Dimana sebenarnya kesempatan itu terbuka luas, baik di kampung halaman maupun di kota lain.

Nilai-nilai ini masih dipegang oleh orang-orang Minang hingga sekarang. Tidak heran kalau mereka memang identik dengan etnis yang menghasilkan banyak pengusaha serta pandai mengelola keuangannya.

Sebagai inspirasi, simak juga artikel kami tentang para pengusaha cilik yang memulai usahanya dari ide-ide sederhana.

Komentar