Hanya 3 Persen Dari Program Listrik 35 Ribu MW Yang Beroperasi

Hanya 3 Persen Dari Program Listrik 35 Ribu MW Yang Beroperasi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa dari keseluruhan pembangkit listrik yang masuk dalam program kelistrikan 35 ribu Mega Watt (MW) yang hingga saat ini beroperasi baru 3 persen. Sedangkan sisanya masih dalam proses pembangunan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng menjelaskan bahwa sampai bulan November 2017 lalu, dari 35 ribu MW yang diprogramkan, baru beroperasi 1.061 MW.

‎”Program 35 ribu MW yang sudah COD (Comercial On Date/COD) 1.061 MW,” kata Andy di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Andy juga menjelaskan bahwa pembangkit listrik yang berada dalam tahap pembangunan sebesar 16.992 MW, yang berada dalam tahap jual beli listirk belum konstruksi sebesar 12.726 MW, pengadaan ‎2.790 MW dan perencanaan 2.228 MW.

Masih minimnya pembangkit listrik yang beroperasi pada program 35 ribu MW ini terjadi karena pembangunan yang berjalan tidaklah instan. Dibutuhkan waktu beberapa tahun hanya untuk mebangun satu proyek.

‎”Kita menganggap setelah ada program itu, di pemerintahan sekarang itu sudah selesai. Jadi kayak nasi di warteg udah tersedia. Tapi ini kan butuh waktu,” kata Andy.

Andy menambahkan, setiap pembangkit listrik yang sedang dikerjakan memiliki perbedaan waktu pengerjaan. Hal ini disebabkan karena jenis dan teknologi yang digunakan pun berbeda. Misalnya, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang membutuhkan waktu setidaknya dua tahun untuk penyelesaiannya. Lalu Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang bisa selesai kurang dari satu tahun.

“Teknologinya beda beda, CODnya juga beda beda. PLTG itu delapan bulan bisa. Tapi kalau, PLTU itu at least pasti butuh minimum 2 tahun. Mau didicepetin, nggak mungkin. 35 GW ini kan program pembangunan infra yang multiyears,” jelasnya.

 

[Source]

Komentar