Jelang Pemilu 2019, Ini Rekomendasi Untuk Investor Saham Yang Paling Baik

Jelang Pemilu 2019, Ini Rekomendasi Untuk Investor Saham Yang Paling Baik

Investasi dalam bentuk saham masih menjadi andalan untuk tahun ini (2018).

Meskipun demikian, para investor tetap perlu mewaspadai situasi jelang Pemilu 2019. Diperkirakan ada potensi melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setahun sebelum Pemilu.

Head of Intermediary Business Schroders Investment Management Indonesia, Teddy Oetomo, mengatakan bahwa dalam dua tahun terakhir ini investasi berbentuk obligasi dan saham menunjukkan catatan kinerja terbaik. Namun kini yield obligasi dengan tenor 10 tahun turun ke level 6,3 persen.

“Total return dan kupon obligasi di 2018 tidak bisa setinggi tahun lalu. Ini membuat saham lebih menarik daripada obligasi,” ungkapnya.

Pesta politik yaitu pilkada dan pemilu akan mempengaruhi pasar modal dan diprediksi bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan harga komoditas yang stabil sejak 2017 juga disebut bisa medukung pertumbuhan ekonomi dan menopang pergerakan IHSG tahun ini. Mengingat, salah satu dampak dari pemilu dan kampanye adalah konsumsi pemerintah dan rumah tangga yang meningkat.

“Di 2018 ketidakpastian akan lebih rendah, karena IHSG disokong saham dengan sektor yang lebih baik, seperti keuangan dan konsumer yang harganya tidak banyak bergejolak, berbeda dengan tahun ini yang isinya banyak saham sektor komoditas,” jelas Teddy.

Mewaspadai koreksi

Di sisi lain, instrument saham bisa dimanfaatkan untuk menghadapi situasi geopolitik yang sulit diprediksi. Saham diyakini dapat mendorong kinerja portofolio investasi. Asalkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia terus berjalan.

Pada kesempatan lain Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting memiliki pendapat yang berbeda. Dia memperkirakan kinerja IHSG akan cenderung menurun jelang Pemilu 2019.

Hal ini terjadi karena biasanya kondisi politik juga mempengaruhi ekonomi dalam negeri. proses pemilu sendiri juga biasanya dimulai pada semester kedua tahun sebelumnya.

Oleh karenanya, IHSG kemungkinan menurun pada semester kedua tahun ini. Untuk mengatasi hal ini, investor disarankan untuk bisa mengakumulasi saham secara selektif ketika terkoreksi.

Adapun strategi lainnya yang bisa dilakukan adalah, pada semester kedua tahun ini investor dapat menempatkan dana di saham yang bisa parker pada instrument lain, seperti emas atau deposito.

“Dua instrumen investasi ini masih bisa dipegang hingga 2019,” katanya. Pada 2019 nanti, investor bisa kembali mengalokasikan sebagian besar investasi pada saham.

“Biasanya sehabis Pemilu, siapapun yang terpilih jadi Presiden, pasar akan naik tinggi,” menurut Eko.

Eko juga menambahkan bahwa investasi yang baik adalah dalam waktu jangka panjang. bagi investor yang ingin mengambil risiko kecil (low risk) bisa mengalokasikan 10 persen dananya pada instrument jangka pendek seperti deposito, 30 persen pada surat utang negara (SUN) dan sisanya bisa dialokasikan untuk emas atau property agar memiliki instrument investasi jangka panjang.

“Investor high risk bisa mengalokasikan sebagian besar investasi di saham untuk jangka panjang,” lanjut Eko.

Dia kemudian menyarankan agar imbal hasil yang didapatkan bisa optimal, investor sebaiknya masuk ke saham blue chips.

[Source]

 

Komentar