Korban Bencana Alam Di Sulteng Mendapatkan Relaksasi Kredit

Korban Bencana Alam Di Sulteng Mendapatkan Relaksasi Kredit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan penawaran relaksasi untuk nasabah yang merupakan korban gempa dan tsunami di Palu. Relaksasi ini berupa penjadwalan ulang atau restrukturisasi kredit untuk meringankan mereka yang kesulitan dalam membayarkan cicilan atau angsuran kredit.

Adapun Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan bahwa nasabah yang berhak mengajukan restrukturisasi hanyalah mereka yang terdampak bencana sesuai Peraturan OJK Nomor 45/POJK.03/2017 mengenai Perlakuan Khusus Terhadap Kredit atau Pembiayaan Bank Bagi Daerah Tertentu di Indonesia yang Terkena Bencana Alam.

“OJK bisa memberikan kebijakan ke bank untuk tidak menagih dulu debitur yang kena dampak bencana. Bisa reschedule (penjadwalan ulang) atau penyesuaian biaya administrasi. Prinsipnya, kami beri kemudahan kepada para debitur,” jelasnya.

Kebijakan ini juga diterapkan untuk nasabah yang menjadi korban gempa di Lombok, Nusa tenggara Barat. Adapun teknis dari kebijakan ini, OJK menyerahkan sepenuhnya relaksasi tersebut kepada pihak bank. “Restrukturisasi bisa diberlakukan 2-3 tahun,” tambahnya.

Sesuai dengan temuan dari OJK, jumlah kredit yang disalurkan perbankan ke wilayah terdampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah mencapai angka Rp 16,2 triliun per September 2018. Jumlah tersebut sama dengan 0,3 persen dari total kredit perbankan.

Wimboh juga menjelaskan bahwa penyebaran kredit mayoritas ada di Kota Palu, yaitu sebesar Rp 14,3 triliun. Selain itu, ada juga penyaluran kredit di Kabupaten Parigi Moutong sebesar Rp 2 triliun, serta Kabupaten Sigi dan Donggala sejumlah Rp 233 miliar.

“Itu baru catatan kredit yang diberikan di daerah tersebut. Untuk kredit yang kena dampak masih kami hitung dan kami yakin jumlahnya masih bergerak,” tambahnya.

Selain kredit perbankan yang mencapai Rp 16,2 triliun, OJK juga menemukan adanya penyaluran pembiayaan lainnya sebesar Rp 370 miliar.

 

[Source]

Komentar