BI: Sektor Properti Berperan Penting Dalam Pertumbuhan Ekonomi

BI: Sektor Properti Berperan Penting Dalam Pertumbuhan Ekonomi

Sektor properti dinilai memiliki peran pentingnya dalam hal mendorong perekonomian nasional. Bank Indonesia (BI) melihat potensi ini dan upaya untuk mendorong kinerja dari sektor properti agar lebih kuat merupakan tanggung jawab dari berbagai pihak otoritas, termasuk BI.

“Kebijakan otoritas terkait di sektor properti yang saling bersinergi, dipercaya akan mampu mempercepat perbaikan kinerja sektor properti,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara.

Mirza mejelaskan bahwa bahwa sektor properti mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Sektor ini pun memiliki dampak berantai (multiplier effect) serta backward linkage yang berimbas cukup besar pada sektor-sektor lainnya.

Oleh karenanya, sektor properti memiliki dampak yang signifikan dalam hal menarik dan mendorong sektor-sektor lainnya. Dampak lain dari sektor properti juga terasa terhadap perekonomian khususnya produk keuangan.

“Hal ini terkait apabila terjadi peningkatan harga properti yang membumbung tinggi sehingga masyarakat memiliki permasalahan dalam kemampuan untuk membayar,” ungkap Mirza.

Menurutnya perlu dilakukan sinergi antar pihak terkai demi memastikan perkembangan kerja sektor properti yang sehat dan kuat.

Selain itu, kebijakan yang ditempuh BI tentang pelonggaran atau pengetatan rasio Loan to Value ratio (LTV) dengan memperhatikan siklus keuangan diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan pihak perbankan dalam menyalurkan kredit, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Tercatat sampai Juni 2017, sektor properti mengalami pertumbuhan sebesar Rp 746,8 triliun atau sebanyak 12,1 % lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami pertumbuhan 13,7% (yoy). Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman, adanya perlambatan dalam pertumbuhan ini bersumber dari kredit yang disalurkan pada sektor konstruksi dan real estat, meskipun tertahan oleh peningkatan dalam pertumbuhan KPR dan KPA.

“Kredit konstruksi tumbuh melambat dari 24,1% menjadi 20,8% (yoy) pada Juni 2017,” tambah Agusman.

Demikian juga pertumbuhan kredit real estat melambat menjadi sebesar 10,4% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,9% (yoy).

Kondisi berbeda terjadi pada KPR dan KPA yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan dari 7,7% menjadi 7,9% pada Juni 2017. Sementara itu, suku bunga kredit mengalami penurunan sejalan dengan penurunan suku bunga simpanan berjangka.

[Source]

Komentar