Skema Bantuan Pembiayaan Rumah Berbasis Tabungan Sudah Dirilis

Skema Bantuan Pembiayaan Rumah Berbasis Tabungan Sudah Dirilis

Skema pembiayaan baru yaitu Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2PT) atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sudah dirilis oleh pemerintah. Sasaran dari skema ini adalah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan penghasilan yang tidak tetap (informal) seperti kuli harian atau pedagang kaki lima.

Skema ini memungkinkan pekerja informal untuk mendapatkan bantuan perumahan berupa KPR hingga Rp 32,4 juta.

Kepala Sub Direktorat Pola Pembiayaan Rumah Swadaya dan Mikro Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mulyowibowo mengatakan, penghitungan bantuan BP2BT ini mengacu pada Keputusan Menteri PU-PR Nomor 857/KPTS/M/2017.

Dia menerangkan bahwa BP2PT ditentukan oleh penghasilan dan harga rumah. Adapun penghasilan digolongkan menjadi dua. Untuk mereka yang penghasilannya minimal kurang dari Rp 3 juta, bantuan dari BP2BT paling banyak Rp 32,4 juta. Sedangkan untuk penghasilan maksimal Rp 8,5 juta bantuan yang diberikan minimal Rp 21,4 juta.

Dalam perhitungan ini juga diatur bahwa indeks terhadap nilai rumah paling besar adalah 38,8 persen dan paling rendah 6,4 persen.

“Bantuan ditentukan 2 unsur, penghasilan sama harga rumah. Ada maksimal sesuai kelompok sasaran kalau dilihat untuk kita kembali memfasilitasi rumah berkeadilan,” jelasnya.

Mulyowibowo juga menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan MBR ialah perbandingan terendah antara bantuan BP2PT yang diterima kelompok penghasilan dengan indeks terhadap nilai rumah dikali harga rumah.

Contohnya, seseorang yang berpenghasilan Rp 3 juta maka bantuan BP2PT nya adalah minimal Rp 32,4 juta. Jika harga rumah adalah Rp 100 juta, maka Rp 100 juta dikali 38,8% (indeks terhadap rumah berdasarkan kelompok) maka bantuan yang diterima adalah Rp 38,8 juta.

“Nanti dibandingkan, kalau rumahnya Rp 100 juta dikali 38,8 persen Rp 38 juta, dibandingkan Rp 32,4 juta, kecil mana? Berarti ini yang kita pakai,” jelasnya.

Pada dasarnya, semakin kecil pendapatan dari MBR, maka semakin besar jumlah bantuannya. Begitupun dengan harga rumah, semakin mahal harga rumah maka semakin besar bantuannya.

Persyaratan lainnya adalah, MBR harus memiliki tabungan minimal Rp 2 juta sampai Rp 5 juta sampai enam bulan dan menyiapkan uang muka pembayaran rumah sebesar 5%.

“Jadi uang muka dengan bantuan (BP2BT) dijumlahkan 20 persen minimal, maksimumnya 50 persen. Karena kalau di atas 50 persen bank nggak tertarik karena menyalurkan bantuan saja nggak ada keuntungan buat bank. Kan banknya menyalurkan kredit kecil. Kita harapkan bank mau menyalurkan kreditnya taruhlah di atas Rp 50 juta,” tukas dia.

[Source]

Komentar