Menkeu Menjelaskan Latar Belakang Inflasi dan Lemahnya Rupiah

Menkeu Menjelaskan Latar Belakang Inflasi dan Lemahnya Rupiah

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang terjadi saat ini. Sebagaimana negara-negara lainnya, Indonesia tengah dibayangi ketidakpastian global.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa pada dasarnya, ekonomi dunia berada dalam kondisi menantang. Hal ini dilatarbelakangi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), likuiditas yang mengetat, yang dikombinasikan dengan perang dagang.

“Kita tahu ekonomi global sedang dalam kondisi menantang, ketidakpastian meningkat karena kebijakan moneter juga mengetatnya likuiditas, kombinasi dengan ekspansi kebijakan fiskal, perdagangan proteksionis dan perang dagang, yang menyebabkan ketidakpastian ke banyak negara,” jelasnya dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2018 di JCC Senayan, Jakarta.

Kebijakan moneter AS ini memiliki dampak signifikan terhadap nilai tukar banyak negara. Nilai tukar dolar AS menguat dan membuat mata uang negara lain termasuk Indonesia melemah.

“Normalisasi ada peningkatan suku bunga, dolar AS apresiasi sangat kuat melawan banyak mata uang di dunia termasuk Indonesia. Sekarang Indonesia depresiasi 7,7%,” ungkapnya.

Meskipun demikian, Sri Mulyani mengatakan bahwa ketatnya likuiditas yang paling menantang saat ini. Hal tersebut terkait dengan pasokan atau supply dolar AS.

Bagi negara yang dengan sistem ekonomi terbuka, ketatnya likuiditas berpengaruh pada defisit transaksi berjalan (current account deficit), termasuk Indonesia.

Sri Mulyani mengatakan, untuk mengatasi masalah ini Indonesia perlu memperbaiki fundamental perekonomian. Saat ini, menurutnya, Indonesia sudah mengerjakan perbaikan ini.

“Indonesia tidak terkecuali dari kondisi itu, tapi untungnya Indonesia setidaknya sudah menguatkan fundamental sebelum era normaliasasi ini terjadi. Di mulai taper tantrum di 2013, Indonesia sudah mulai memperbaiki kerentanan dari ekonomi,” ujarnya.

Perbaikan fundamental inilah yang membuat perekonomian Indonesia masih sanggup tumbuh 5% hingga saat ini. Adapun pertumbuhan ini didukung dari sektor konsumsi, investasi, hingga belanja pemerintah.

Selain itu, menurut Sri Mulyani, tingkat inflasi masih terjaga. Terkendalinya inflasi ini tak lepas dari peran pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

“Inflasi masih di level 3,18%, didukung kebijakan pemerintah berkaitan dengan stabilitas harga pangan, harga yang diatur pemerintah, dan tentu saja bank sentral yang mengatur kebijakan moneter yang bertujuan untuk stabilisasi,” tutupnya.

 

[Source]

Komentar