Jangan Sendiri! Rencanakan Tahun Ajaran Baru 2020 Bersama Buah Hati

Jangan Sendiri! Rencanakan Tahun Ajaran Baru 2020 Bersama Buah Hati

Mengatur keuangan keluarga sebagai orang tua memang bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika harus mengatur keuangan keluarga di tengah pandemi seperti saat ini. Para orang tua dituntut untuk kreatif dalam mengelola keuangan, agar semua kebutuhan keluarga bisa terpenuhi.

Bagi Anda yang memiliki anak, Juni bisa dikatakan sebagai bulan persiapan untuk menyambut tahun ajaran baru bulan Juli nanti.

Walaupun tahun ajaran baru 2020/2021 harusnya dimulai tanggal 13 Juli, namun memang belum diketahui kapan sekolah-sekolah akan kembali dibuka. Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa sekolah dapat kembali aktif saat kondisi dinilai aman bagi anak-anak. Sedangkan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mewacanakan sekolah di wilayahnya baru dibuka awal 2021 nanti.

Meskipun anak-anak masih belajar di rumah, biaya sekolah tetaplah sama. Anda tetap harus membayar biaya belajar mengajar.

Berikut adalah tips bagi orang tua untuk menghadapi tahun ajaran baru di tengah resesi.

Berdiskusi dengan anak

Sebagaimana artikel-artikel kami sebelumnya, berdiskusi dengan anak mengenai keuangan untuk memberikan pengertian pada mereka mengenai situasi saat ini adalah hal yang penting.

Bukan mengeluh, namun anak-anak memang harus memahami kondisi orang tuanya. Hal ini membuat mereka jadi lebih berhati-hati memanfaatkan fasilitas yang diberikan orang tua, seperti sambungan internet dan uang saku.

Tidak mengkomunikasikan keadaan keuangan dengan benar pada anak, malah akan berdampak negatif. Anak akan merasa orang tua tidak mengindahkan permintaan mereka karena tidak sayang, atau bisa berakibat membanding-bandingkan apa yang didapat dirinya dengan teman-temannya.

Jangan sampai hal ini terjadi. Beritahukan mengapa Anda harus memotong uang saku mereka misalnya, atau memberi batasan pada jatah tagihan telepon mereka. Sehingga anak-anak dapat menerima keputusan orang tua mereka dengan lebih lapang dada.

Cek kesiapan dana darurat

Sewajarnya, dana darurat harus bisa memenuhi kebutuhan Anda dan keluarga selama enam bulan. Namun, memang tidak semua keluarga bisa dengan mudah mengumpulkan uang untuk dana darurat sebanyak itu.

Oleh karenanya, periksa kesiapan dana darurat Anda. Selanjutnya, bisa dialokasikan untuk keperluan sekolah atau harian keluarga.

Jika Anda tidak memiliki dana darurat, dan hanya memiliki tabungan biasa, maka pastikan Anda memotong pengeluaran harian. Langkah ini penting agar Anda tidak menghabiskan seluruh tabungan.

Rasanya, jika ada satu pelajaran yang bisa diambil dari situasi saat ini adalah selalu siapkan dana darurat, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Utamakan biaya sekolah

Poin ini sangatlah penting untuk dicatat. Biaya sekolah yang kami maksud di sini adalah iuran semester dan iuran wajib lainnya. Biaya internet atau peralatan sekolah, serta transportasi tidak termasuk di sini.

Pastikan Anda memiliki dana yang cukup untuk membayar biaya-biaya ini terlebih dahulu. Sedangkan biaya lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan belajar, bisa disiasati dengan berbagai cara. Apalagi saat ini masa recovery Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlaku. Di mana anak-anak masih beraktifitas di dalam rumah.

Siasati pengeluaran rutin untuk anak

Mensiasati biaya kebutuhan belajar di antaranya sebagai berikut.

Tidak membeli alat tulis baru

Buku dan perlengkapan belajar lainnya, bisa menggunakan sisa tahun ajaran sebelumnya. Anak-anak akan terlatih untuk menjaga perlengkapan belajar miliknya jika Anda sudah mengatakan bahwa tidak akan membeli peralatan tulis yang baru.

Beri batasan untuk jatah internet

Bagi Anda yang tidak memasang sambungan wifi di rumah, maka sangat penting untuk memberikan batas maksimal penggunaan internet. Karena pada masa ini anak-anak tidak dapat bermain di luar, maka mereka akan lebih sering menggunakan layanan internet di rumah untuk hiburan dan pendidikan.

Beritahukan pada mereka mengenai aturan ini, agar mereka bisa lebih efektif dalam menggunakan layanan internetnya. Selain itu, menghemat penggunaan internet juga bisa memaksa mereka untuk berkomunikasi lebih banyak dengan keluarga. Termasuk, membantu pekerjaan rumah orang tuanya.

Hemat biaya transportasi

Melihat tingkat kematian akibat COVID-19 di Indonesia yang menduduki peringkat tertinggi di Asia, rasanya para pemerintah daerah tidak akan mengambil risiko. Apalagi jika risiko ini melibatkan keselamatan anak-anak.

Oleh karenanya, prose belajar mengajar secara online rasanya akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama. Artinya, Anda bisa mengurangi atau memotong jatah uang transportasi anak-anak.

Jika Anda membicarakan kondisi finansial keluarga dengan anak, maka mereka pun akan memahami bahwa apa yang Anda lakukan adalah demi kebaikan seluruh anggota keluarga.

Kurangi uang jajan bulanan

Dalam hal ini Anda bisa menyatukan jatah transportasi dengan uang jajan, atau benar-benar mengurangi uang jajan mereka.

Karena mereka harus belajar dari rumah selama beberapa bulan, maka kebutuhan untuk jajan bisa dikurangi. Dengan memotong uang jajan, anak-anak bahkan akan berfikir dua kali jika ingin belanja online. Jika mereka benar-benar ingin membeli sesuatu, mereka bisa menggunakan tabungannya.

Oleh karena itulah, komunikasi harus dibangun dari awal. Memang, jika anak Anda memiliki emosi yang tidak stabil, mereka akan marah atau merajuk. Di sinilah, Anda harus tegas sebagai orang tua. Anggap fase ini untuk mempersiapkan mereka jika menghadapi masa sulit nantinya.

Biasakan untuk menggunakan sistem 50/50 jika anak-anak ingin membeli sesuatu, seperti mainan atau barang elektronik. 50% dari tabungannya, dan 50% dari Anda, sehingga mereka terbiasa menabung dan merencanakan keuangannya. Gunakan sistem ini bahkan ketika Anda tidak dalam resesi.

Latihan dan pengertian yang Anda ajarkan pada anak-anak bisa membantu di saat resesi seperti ini. Mau tidak mau sebagai orang tua, Anda harus bisa menentukan mana yang penting dan yang tidak penting dalam kebutuhan keluarga. Kemudian jika anak memiliki kemampuan finansial yang baik, maka mereka pun akan memahami mengenai prioritas dalam pengeluaran pribadinya dan orang tua.

Sebagai referensi dan untuk membantu Anda menanamkan kemampuan finansial pada anak, silakan simak artikel kami lainnya. Misalnya panduan jika anak berusia 4 tahun hingga tahun awal sekolah dasar.

Kami juga menyajikan informasi mengenai pendidikan finansial untuk anak yang berusia pra remaja hingga remaja (10 sampai 17 tahun).

Komentar