Perjalanan Sukses Konglomerat Wanita Indonesia; Kartini Muljadi dan Arini Subianto

Perjalanan Sukses Konglomerat Wanita Indonesia; Kartini Muljadi dan Arini Subianto

Perayaan Hari Kartini pada tahun ini memang tidak akan seperti biasanya. Tidak ada lomba pergaan busana daerah, memakai kebaya ke kantor, atau pertemuan untuk mengenang jasa R.A. Kartini di masa lampau.

Meskipun demikian, kami ingin mnejadikan momen Hari Kartini Anda tetap sepsial dengan merayakan keberhasilan perempuan Indonesia di berbagai bidang.

Dua sosok yang akan kita simak ceritanya adalah Kartini Muljadi dan Arini Subianto. Keduanya adalah wanita terkaya di Indonesia, dan masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia 2019 versi Forbes.

Kartini Muljadi

Grup Tempo bukanlah nama perusahaan yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun, siapa sangka kalau pemiliknya, Kartini Muljadi, menjalani beberapa pekerjaan sebelum menjadi pengusaha.

Kartini Muljadi lahir pada 17 Mei 1930 di Kebumen, Jawa Tengah. Ia memulai pendidikannya di sekolah khusus keturunan Belanda. Kartini kemudian melanjutkan pendidikan di Surabaya dan Yogyakarta, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Indonesia. Tepatnya Ia belajar di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan. Tahun 1958 ia lulus sebagai sarjana hukum, dan bekerja di Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta.

Sebagai seorang pegawai negeri sipil, Kartini menyadari bahwa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi suaminya telah meninggal tahun 1973, dan ia harus menghidupi anak-anaknya.

Kartini pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menjadi notaris setelah lulus ujian negara untuk notariat. Ia pun berkesempatan mengajar mata kuliah hukum dan perdata hukum di beberapa fakultas hukum di Jakarta.

Tahun 1990, Kartini memutuskan untuk mengembangkan karirnya di bidang hukum dengan membuka kantor pengacara dan konsultan hukum. Ia pun mengundurkan diri dari pekerjaanya sebagai notaris agar bisa fokus pada usahanya sendiri. Kartini Muljadi & Rekan (KMR) menjadi firma hukum perusahaan dan komersial yang ternama. Ia bahkan aktif membantu perbankan dan perusahaan selama krisis ekonomi 1997-1998 menerpa Indonesia.

PT Tempo Scan Group yang menjadi sumber utama kekayaannya saat ini, diperoleh Kartini dari akuisisi. Pada tahun 1982, Kartini membeli perusahaan ini dari pendirinya yang berkebangsaan Belanda. Perusahaan yang didirikan tahun 1953 ini, kemudian dipimpin oleh Handojo S. Muljadi, anak bungsunya.

Perusahaan ini terkenal dengan produk-produk kesehatannya, seperti obat-obatan, vitamin, minuman berenergi, dan suplemen herbal. Salah satu kesuksesan yang diperoleh perusahaan ini adalah saat mereka melepas saham ke publik tahun 2013, dan meraup dana sebesar 218 juta dolar AS.

Inspirasi Kartini Muljadi

Walaupun saat ini kebanyakan orang melihat Kartini Muljadi sebagai wanita terkaya di Indonesia dengan kekayaan sebesar 630 miliar dolar AS, sebenarnya kesuksesan ini tidak lepas dari perjalanan hidupnya.

Ia mendapat pengetahuan mengenai usaha pertama kali dari ibu angkatnya yang juga seorang pedagang. Saat itu ibu kandung Kartini meninggal saat ia berusia dua tahun sehingga harus dirawat oleh seorang ibu angkat.

Kemudian, saat kuliah di Universitas Indonesia, Kartini bergabung dalam Perhimpunan Sosial Tjandra Naya yang aktif memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan pada masyarakat kurang mampu. Tidak mengehrankan kalau akhirnya ia mampu menjalankan perusahaan yang bergerak di bidang farmasi. Produk-produk dari PT Tempo Scan Group juga dikenal berkualitas dan harganya terjangkau.

Arini Subianto

Sosok yang tidak kalah pentingnya di dunia usaha Indonesia adalah Arini Subianto. Tahun 2019, ia menduduki peringkat 44 dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Wanita dengan nama lengkap Arini Saraswaty Subianto ini lahir pada 20 Desember 1970 di Jakarta. Ia merupakan putri sulung dari salah satu pengusaha ternama di Indonesia, Benny Subianto.

Arini awalnya bercita-cita sebagai arsitek. Ia pun sempat kuliah di Universitas Parahyangan Bandung jurusan Arsitektur selama setahun. Kemudian, ia pindah ke New York, Amerika Serikat, untuk mempelajari desain. Ia pun berhasil meraih gelar Bachelor of Fine Arts in Fashion Design dari Parsons School of Design. Kemudian, ia mengambil pendidikan pendidikan di bidang bisnis dan mendapat gelar Master of Business Administration. Namun demikian, saat itu Arini lebih tertarik bekerja di luar usaha atau bisnis keluarganya.

Bahkan dua adik perempuannya juga menekuni bidang pendidikan kreatif, dan tidak mempelajari bisnis.

Pengalaman bisnis yang ia dapatkan awalnya dari tokonya yang menjual perabotan dan pernak-pernik. Tahun 2003, ia bekerjasama dengan teman yang dikenalnya sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang memiliki toko buku Aksara untuk menggabungkan usaha mereka.

Arini sebenarnya baru belajar mulai mempelajari usaha keluarganya sejak tahun 2012, saat itu usianya 38 tahun. Hal ini dilakukan karena suaminya, Andre Mamuaya, meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas.

Sejak saat itu ia mulai berfikir untuk mempelajari bisnis keluarga, karena khawatir jika suatu saat ia kehilangan anggota keluarga lagi. Pada tahun 2017, setelah Benny Subianto meninggal, Arini mewarisi perusahaan ayahnya, Persada Capital Investama. Ia mendapat tanggungjawab ini karena posisinya dalam keluarga sebagai anak sulung. Keputusan ini juga berdasarkan kesepakatan seluruh anggota keluarga dan atasan perusahaan dalam sebuah rapat.

Perusahaan yang diwarisinya memiliki 11% saham pada perusahaan batu bara PT Adaro Energy. Di mana mendiang suaminya pernah menjabat sebagai direktur. Selain batu bara, Persada Capital Investama juga bergerak di bidang pertanian, perkebunan, properti, konstruksi, perhotelan, dan kesehatan.

Sesuai dengan keterangan dari Forbes, per Desember 2019, kekayaan Arini Subianto bernilai 600 miliar dolar Amerika Serikat. Walaupun demikian, Arini mengatakan bahwa dirinya hanya mewakili keluarga. “To be fair, saya hanya mewakili adik-adik dan ibu saya”, katanya dalam sebuah wawancara dengan Kumparan.

Dari dua sosok ini dapat kita lihat bahwa tanggungjawab berupa keluarga, seringkali menuntut kita untuk berani mengambil keputusan besar. Bahkan, seringkali Anda harus keluar dari zona nyaman untuk menjalankan tanggungjawab sebagai anggota keluarga.

Di sisi lain, tanggungjawab inilah yang seringkali membuat kita berkembang dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Dalam tantangan, ada kesempatan. Rasanya itulah yang bisa diambil dari kisah dua konglomerat wanita ini.

Kami pun masih memiliki informasi dan inspirasi lainnya bagi Anda mengenai keuangan. Salah satunya adalah rekomendasi buku-buku finansial yang bisa Anda baca selagi memiliki waktu luang di rumah.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia!

 

Sumber image : fortunetimes.sg dan forbes.com

Komentar