Waspada Peredaran Uang Palsu Jelang Idul Fitri

Waspada Peredaran Uang Palsu Jelang Idul Fitri

Peredaran uang palsu menjelang Idul Fitri memang perlu diwaspadai. Mengingat pada masa inilah permintaan uang tunai dari masyarakat meningkat. Kegiatan penukaran uang tunai pun meningkat karena ada tradisi memberikan angpao saat Idul Fitri.

“Perbankan juga terus menyediakan alat (pengecek uang palsu). Tapi secara kasat mata, langkah 3D masih berlaku,” jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng, di Lapangan Eks IRTI Monas, Jakarta Pusat.

Metode 3D yang ia maksud adalah dilhat, diraba, dan diterawang. Metode manual ini sudah banyak dikenal masyarakat untuk mengecek keaslian uang.

Direktur Eksekutif  Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Suhaedi menjelaskan bahwa sebenarnya ada 8 sampai 12 unsur pengaman dalam pecahan uang rupiah.

Makin tinggi nilai pecahannya, maka semakin banyak unsur yang menjadi pengamannya. Misalnya, dalam uang pecahan Rp 100.000 ada 12 unsur pengaman.

“(unsur pengaman) baik yang ada di bahan uang itu sendiri seperti watermark, benang pengaman, maupun yang ada diproses cetak,” kata Suhaedi.

Dengan metode “dilihat”, masyarakat dapat mengetahui warna dari uang lama dan uang baru. Masyarakat juga jadi bisa membedakan apakah warna uang itu terang atau kusam.

Kemudian dengan “diterawang”, diharapkan masyarakat menerawang setiap pecahan uang yang mereka terima. Apakah ada watermark, apakah gambarnya terlihat jelas, bagaimana bentuknya, dan yang terpenting apakah gambar pahlawan terlihat di pecahan uang itu?

“Kemudian diraba, ada bagian tertentu memang sengaja dibuat agak kasar. Khusus mengenai uang baru tahun emisi 2016, untuk tunanetra bisa diraba khusus agak kasar dan kemudian ada beberapa lagi yang bisa berubah warna kalau dilihat dengan kemiringan tertentu,” Suhaedi menjelaskan.

Dengan menggunakan metode 3D, siapapun sudah mampu membedakan antara pecahan mata uang yang asli dan palsu. Jika ragu, masyarakat diimbau untuk menghubungi kepolisian. Hal ini agar pemeriksaan uang palsu dapat dilakukan lebih lanjut.

Selain itu, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Bank Indonesia dan perbankan lainnya hanya akan melayani penukaran uang di kantor, yaitu kantor perwakilan BI, bank, serta di lapangan besar seperti di Monumen Nasional (Monas). Penukaran uang juga dapat dilakukan melalui kas titipan.

Dengan menukarkan uang di tempat-tempat yang resmi, masyarakat juga berperan aktif dalam mencegah penyebaran uang palsu.

[Source]

Sumber image www.orbitindo.com

Komentar